Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bukan Sekadar Es, Ini Cerita Es Potong Jadul Solo

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Food
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Lifestyle – Di tengah gempuran jajanan modern, es potong tetap bertahan sebagai jajanan jadul yang masih diminati masyarakat. Meski jumlah penjualnya tak lagi sebanyak dulu, es potong masih menjadi pilihan favorit, terutama bagi mereka yang ingin bernostalgia dengan cita rasa masa kecil.

Di Kota Solo, penjual es potong kini semakin jarang. Namun, suasana berbeda masih terasa di kawasan Pasar Gede. Beberapa gerobak kayuh berwarna biru tampak mangkal di pinggir jalan dengan spanduk bertuliskan “Es Potong Djadoel Mandiri”.

Dari Jakarta ke Solo Demi Lebih Dekat Rumah

Yanto, warga asli Boyolali, menjadi salah satu penjual es potong yang masih bertahan hingga kini. Ia mulai menekuni usaha es potong sejak sekitar 2009. Pada awal perjalanan usahanya, Yanto berjualan di Jakarta sebelum akhirnya memilih pindah ke Solo pada 2016.

Jarak Jakarta Boyolali yang terlalu jauh mendorong Yanto mengambil keputusan tersebut. Dengan berjualan di Solo, ia bisa pulang ke kampung halaman hanya dalam waktu sekitar satu jam. Sejak itu, Yanto rutin menjajakan es potong di sekitar Pasar Gede.

Racikan Sederhana dengan Rasa Khas

Yanto meracik es potong dari bahan-bahan tradisional seperti santan kelapa, gula pasir, tepung kanji, tepung kue, serta buah-buahan asli. Kombinasi bahan tersebut menghadirkan rasa manis dan gurih yang khas, berbeda dari jajanan modern.

Ini Belum Selesai

Tesla Pamerkan Mobil Terbang, Benarkah Siap Meluncur pada 2028?

JOFAFEST 6 Usung “Transcend”, Ajak Sineas Muda Melampaui Batas

Sebelum menyajikannya kepada pembeli, Yanto melapisi es potong dengan lelehan cokelat. Tekstur lembutnya langsung lumer saat digigit dan membuat banyak orang sulit berhenti pada satu batang saja.

Pembeli Didominasi Orang Dewasa

Mayoritas pembeli es potong di kawasan Pasar Gede berasal dari kalangan dewasa. Anak-anak jarang terlihat membeli jajanan ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa es potong lebih sering berperan sebagai pemantik nostalgia dibanding sekadar camilan biasa.

Penjualan Tak Menentu, Musim Jadi Penentu

Dalam sehari, Yanto menjual es potong dengan jumlah yang tidak menentu. Pada hari biasa, penjualan berkisar antara 15 hingga 20 batang. Saat akhir pekan, terutama hari Minggu, angka tersebut bisa meningkat hingga sekitar 40 batang.

Cuaca turut memengaruhi hasil penjualan. Musim hujan panjang cenderung menurunkan pendapatan, sementara musim kemarau justru meningkatkan jumlah pembeli.

Enam Varian Rasa, Harga Tetap Bersahabat

Setiap hari, Yanto mulai berjualan pukul 09.00 hingga 17.00 WIB di sekitar Pasar Gede. Ia menawarkan enam varian rasa, yaitu cokelat, durian, alpukat, nangka, ketan hitam, dan kacang hijau. Seluruh varian tersebut ia jual dengan harga yang sama, Rp5.000 per batang.

Di tengah perubahan tren kuliner, es potong tetap membuktikan daya tahannya. Rasa klasik dan kenangan masa lalu membuat jajanan ini terus hidup di tengah hiruk-pikuk kota.@eko

Tags: Kuliner

Kamu Melewatkan Ini

Es Kapal Solo: Segelas Dingin di Tengah Panas Kota

Es Kapal Solo: Segelas Dingin di Tengah Panas Kota

by eko
Agustus 29, 2026

Es Kapal Solo menemani panas kota. Penjualan Nining tembus 500 gelas sehari, dengan rasa coklat dan original paling banyak diminati....

Tahu Campur: Legenda yang Lahir dari Dapur Hampir Kosong

Tahu Campur: Legenda yang Lahir dari Dapur Hampir Kosong

by dimas
Juli 12, 2026

Tahu Campur lahir dari dapur sederhana di Lamongan. Kisah kuliner legendaris yang membuktikan kreativitas sering tumbuh dari keterbatasan. Tabooo.id -...

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

by Anisa
Mei 11, 2026

Seblak pedas kini bukan lagi sekadar tren jajanan kaki lima. Di tengah ledakan budaya kuliner pedas Indonesia, ia perlahan berubah...

Next Post
ASEAN Para Games 2025: Indonesia Kumpulkan 135 Emas, Finis Runner-up

ASEAN Para Games 2025: Indonesia Kumpulkan 135 Emas, Finis Runner-up

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id