Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bukan Sekadar Es, Ini Cerita Es Potong Jadul Solo

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Food
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Lifestyle – Di tengah gempuran jajanan modern, es potong tetap bertahan sebagai jajanan jadul yang masih diminati masyarakat. Meski jumlah penjualnya tak lagi sebanyak dulu, es potong masih menjadi pilihan favorit, terutama bagi mereka yang ingin bernostalgia dengan cita rasa masa kecil.

Di Kota Solo, penjual es potong kini semakin jarang. Namun, suasana berbeda masih terasa di kawasan Pasar Gede. Beberapa gerobak kayuh berwarna biru tampak mangkal di pinggir jalan dengan spanduk bertuliskan “Es Potong Djadoel Mandiri”.

Dari Jakarta ke Solo Demi Lebih Dekat Rumah

Yanto, warga asli Boyolali, menjadi salah satu penjual es potong yang masih bertahan hingga kini. Ia mulai menekuni usaha es potong sejak sekitar 2009. Pada awal perjalanan usahanya, Yanto berjualan di Jakarta sebelum akhirnya memilih pindah ke Solo pada 2016.

Jarak Jakarta Boyolali yang terlalu jauh mendorong Yanto mengambil keputusan tersebut. Dengan berjualan di Solo, ia bisa pulang ke kampung halaman hanya dalam waktu sekitar satu jam. Sejak itu, Yanto rutin menjajakan es potong di sekitar Pasar Gede.

Racikan Sederhana dengan Rasa Khas

Yanto meracik es potong dari bahan-bahan tradisional seperti santan kelapa, gula pasir, tepung kanji, tepung kue, serta buah-buahan asli. Kombinasi bahan tersebut menghadirkan rasa manis dan gurih yang khas, berbeda dari jajanan modern.

Ini Belum Selesai

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

Film Jangan Buang Ibu: Kesepian di Balik Pengorbanan

Sebelum menyajikannya kepada pembeli, Yanto melapisi es potong dengan lelehan cokelat. Tekstur lembutnya langsung lumer saat digigit dan membuat banyak orang sulit berhenti pada satu batang saja.

Pembeli Didominasi Orang Dewasa

Mayoritas pembeli es potong di kawasan Pasar Gede berasal dari kalangan dewasa. Anak-anak jarang terlihat membeli jajanan ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa es potong lebih sering berperan sebagai pemantik nostalgia dibanding sekadar camilan biasa.

Penjualan Tak Menentu, Musim Jadi Penentu

Dalam sehari, Yanto menjual es potong dengan jumlah yang tidak menentu. Pada hari biasa, penjualan berkisar antara 15 hingga 20 batang. Saat akhir pekan, terutama hari Minggu, angka tersebut bisa meningkat hingga sekitar 40 batang.

Cuaca turut memengaruhi hasil penjualan. Musim hujan panjang cenderung menurunkan pendapatan, sementara musim kemarau justru meningkatkan jumlah pembeli.

Enam Varian Rasa, Harga Tetap Bersahabat

Setiap hari, Yanto mulai berjualan pukul 09.00 hingga 17.00 WIB di sekitar Pasar Gede. Ia menawarkan enam varian rasa, yaitu cokelat, durian, alpukat, nangka, ketan hitam, dan kacang hijau. Seluruh varian tersebut ia jual dengan harga yang sama, Rp5.000 per batang.

Di tengah perubahan tren kuliner, es potong tetap membuktikan daya tahannya. Rasa klasik dan kenangan masa lalu membuat jajanan ini terus hidup di tengah hiruk-pikuk kota.@eko

Tags: Kuliner

Kamu Melewatkan Ini

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

by Anisa
Mei 11, 2026

Seblak pedas kini bukan lagi sekadar tren jajanan kaki lima. Di tengah ledakan budaya kuliner pedas Indonesia, ia perlahan berubah...

Ayam Goreng Akur, Rasa Lama yang Tak Bisa Diganti

Ayam Goreng Akur, Rasa Lama yang Tak Bisa Diganti

by Anisa
Mei 8, 2026

Madiun selama ini dibaca lewat pecel. Padahal ada sistem rasa yang lebih dalam berupa memori, budaya, dan strategi bertahan yang...

Timlo Solo, Kuliner Ikonik yang Perlu Dikritik

Timlo Solo, Kuliner Ikonik yang Perlu Dikritik

by Anisa
Mei 8, 2026

Kuahnya bening, namanya legendaris, dan banyak orang langsung percaya ini pilihan aman. Namun Timlo Solo membawa sisi yang jarang orang...

Next Post
ASEAN Para Games 2025: Indonesia Kumpulkan 135 Emas, Finis Runner-up

ASEAN Para Games 2025: Indonesia Kumpulkan 135 Emas, Finis Runner-up

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id