Bosbow Madiun pernah menjadi sekolah kehutanan elite era kolonial. Kini bangunan bersejarah itu hidup di bawah bayang-bayang kawasan militer dan ingatan yang perlahan memudar.
Tabooo.id – Pagi di Jalan Diponegoro, Kota Madiun, bergerak seperti biasa. Motor meraung cepat. Pedagang membuka lapak. Orang-orang melintas tanpa benar-benar menoleh ke kompleks bangunan tua di pinggir jalan itu.
Padahal bangunan itu menyimpan sejarah panjang yang nyaris hilang dari ingatan publik.
Warga menyebutnya Bosbow.
Nama itu lahir dari pelafalan lokal atas kata Belanda Boschbouw. Bosch berarti hutan. Bouw berarti bangunan. Dari nama sederhana itu, pemerintah kolonial dulu menanam ambisi besar: membangun pusat pendidikan kehutanan modern di tanah Jawa.
Hari ini, ambisi itu tinggal gema.
Ketika Madiun Menjadi Pusat Ilmu Kehutanan
Pada 26 Agustus 1939, Jawatan Kehutanan Hindia Belanda mendirikan Middlebare Boschbouw School (MBS) di kompleks tersebut. Sekolah itu menjadi sekolah kehutanan tingkat menengah pertama di Jawa.
Pemerintah kolonial tidak memilih Madiun secara acak. Kawasan ini berdiri dekat hutan jati terbaik di Jawa Timur. Hutan-hutan itu menjadi aset ekonomi penting bagi kolonial Belanda.
Karena itu, Bosbow hadir bukan sekadar sekolah. Tempat itu menjadi laboratorium untuk mencetak tenaga ahli yang mampu mengelola hutan produksi secara modern.
Enam puluh siswa pertama langsung mengisi tahun ajaran perdana. Mereka datang dari Bogor, Sukabumi, Malang, dan berbagai kota lain di Hindia Belanda.
Tidak semua anak bisa masuk Bosbow.
Sekolah itu hanya menerima lulusan MULO, sekolah menengah elite zaman kolonial yang setara SMP modern. Akses pendidikan itu sangat terbatas. Anak-anak priyayi, keluarga terdidik, dan kelompok dekat kekuasaan kolonial mendominasi ruang kelasnya.
Artinya jelas: Bosbow sejak awal memang berdiri untuk mencetak kelas intelektual pilihan.
Jauh sebelum istilah “sekolah unggulan” muncul di brosur pendidikan modern, Bosbow sudah menjalankan konsep itu lebih dulu.
Namun sejarah bergerak cepat.
Saat Jepang masuk dan menduduki Nusantara, mereka menutup MBS. Proyek pendidikan kehutanan itu berhenti mendadak. Setelah perang berakhir, tidak ada pihak yang benar-benar menghidupkan kembali sekolah tersebut dalam bentuk yang sama.
Bosbow kehilangan fungsi awalnya bahkan sebelum usianya genap satu dekade.
Tujuh Dekade di Bawah Kendali Militer
Pada 1950-an, militer mengambil alih kompleks Bosbow. Batalyon 508 menjadikan kawasan itu sebagai markas. Ketika batalyon tersebut dibubarkan pada 1970-an, militer tetap mempertahankan area itu sebagai Asrama Korem 081/Dhirotsaha Jaya.
Sejak saat itu, wajah Bosbow berubah total.
Ruang belajar berganti barak. Area pendidikan berubah menjadi kawasan militer. Namun satu hal tetap bertahan: namanya.
Warga Madiun tetap menyebut tempat itu Bosbow.
Nama kolonial itu bertahan melewati perang, pergantian pemerintahan, hingga perubahan fungsi bangunan. Seolah masyarakat masih menyimpan serpihan memori yang tidak pernah benar-benar hilang.
Masalahnya, ingatan tanpa cerita perlahan berubah menjadi sekadar nama kosong.
Banyak warga mengenal Bosbow sebagai bangunan tua atau kawasan tentara. Namun tidak banyak yang tahu bahwa tempat itu pernah melahirkan calon ahli kehutanan terbaik di masanya.
Tidak banyak pula yang tahu bahwa kompleks itu pernah menjadi simbol pendidikan elite di era kolonial.
Ketika masyarakat berhenti merawat narasi sejarah, bangunan tua hanya berubah menjadi latar yang dilewati setiap hari.
Warisan yang Menggantung
Dalam beberapa tahun terakhir, Korem 081/DSJ mulai membuka sebagian area untuk kegiatan budaya dan publik. Pengelola juga melakukan renovasi di sejumlah bagian bangunan.
Langkah itu menunjukkan niat baik untuk menjaga Bosbow tetap hidup.
Namun pertanyaan pentingnya belum terjawab: untuk siapa sebenarnya warisan sejarah ini dipertahankan?
Cagar budaya seharusnya tidak hanya berdiri sebagai bangunan fisik. Ia harus hidup sebagai ruang publik yang terbuka dan terus menceritakan sejarah kepada generasi baru.
Di titik itu, Bosbow masih menggantung di antara dua identitas.
Ia bukan lagi sekolah. Namun tempat itu juga belum sepenuhnya menjadi ruang sejarah publik yang bebas diakses masyarakat.
Bangunannya memang masih kokoh. Pilar kolonialnya masih berdiri tegak. Tetapi cerita di dalamnya perlahan memudar di balik pagar dan seragam.
Dan mungkin di situlah ironi terbesar Bosbow hari ini.
Kita sering sibuk menyelamatkan tembok tua, tetapi lupa menjaga ingatan yang hidup di dalamnya.
Padahal warisan bukan cuma soal bangunan yang bertahan puluhan tahun. Warisan adalah cerita yang terus diwariskan agar sebuah kota tidak kehilangan jejak sejarahnya sendiri.
Bosbow masih berdiri di Madiun.
Tetapi pertanyaan pentingnya kini berubah: apakah masyarakat masih benar-benar ingin mengingat cerita di baliknya? @Sabrina Fidhi – Surabaya





