Tabooo.id: Talk – Coba jujur sebentar kita semua suka transaksi digital yang cepat, murah, dan tinggal tap-tap doang, tapi pernah nggak kamu mikir, “Ini semua aman nggak, sih? Atau gue cuma nyerahin duit ke sistem yang rapuh kayak relasi toxic?”
Pertanyaan itu makin relevan setelah kasus transfer ilegal yang bikin rugi sekitar Rp 200 miliar dari beberapa bank. Dan jangan salah ini bukan film heist bergaya Hollywood. Ini benar-benar terjadi, di negara tercinta, di era ketika kita ngerasa semua transaksi sudah super aman.
Tapi tunggu dulu. BI akhirnya buka suara. Dan dari sini debat kafe kita mulai panas.
Transaksi Kilat, Risiko Melekat
Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI, bilang kalau mereka terus memantau kasus ini dan berkoordinasi dengan OJK serta penegak hukum. Intinya regulator nggak diem.
Menurut Denny, BI sudah meminta bank yang terlibat untuk mengencangkan sabuk pengaman digitalnya. Penguatan prosedur pengamanan transaksi jadi prioritas. Karena kalau dibiarkan, fraud kayak begini bisa ganggu stabilitas sistem pembayaran dan itu nggak main-main.
Selain itu, BI juga tegas soal upaya jangka panjang:
- memperkuat tata kelola TI,
- meningkatkan keandalan teknologi,
- memperketat asesmen keamanan,
- memasang fraud detection system,
- sampai memastikan respons insiden berjalan sigap.
BI bahkan sudah punya ketentuan keamanan siber sejak April 2024. Jadi, secara teori, pagar sudah dibangun. Tetapi seperti biasa sebuah sistem cuma sekuat titik terlemahnya.
Titik Lemah Itu, Kita? Banknya? Atau Dua-duanya?
Ada dua kubu opini yang biasanya muncul kalau ngomongin kasus kayak gini.
Kubu pertama:
“Ini jelas salah bank! Masa bisa kecolongan Rp 200 miliar?!”
Mereka percaya bank harusnya punya benteng digital setara Wakanda. Mereka bayar layanan, mereka percaya, jadi mereka nuntut keamanan total.
Kubu kedua:
“Namanya juga manusia, sistem mana ada yang 100% aman.”
Kubu ini melihat fraud sebagai risiko permanen di dunia digital. Mereka bilang, yang penting regulator cepat gerak, bank tutup celahnya, dan konsumen tetap hati-hati.
Yang menarik, BI sendiri mengingatkan bahwa pengamanan internal bank dan penyelenggara penunjang (vendor-vendor teknologi) juga harus diperhatikan. Karena kalau satu sisi rapi, tapi sisi lain longgar, ya bocor juga.
Dan di sini, debatnya jadi makin filosofis Siapa sebenarnya penjaga terakhir uang digital kita regulator, bank, atau kita sendiri?
Refleksi: Jangan-Jangan Kita Terlalu Percaya Tanpa Nanya?
Bicara jujur, kita semua suka kemudahan. Kita tap QR, transfer kilat BI-Fast, belanja COD digital, sampai bayar kopi Rp 24.500 pakai mobile banking. Semua serba instan.
Tapi kenyataannya kita jarang nanya soal keamanan.
Kita jarang baca notifikasi bank.
Kita sering asal share OTP “karena ada yang ngaku CS.”
Makanya BI sampai mengimbau:
- periksa data transaksi,
- jaga PIN & OTP,
- pakai notifikasi rekening,
- dan tetap waspada.
Ini hal-hal sederhana, tapi sering kita skip karena “ribet”.
Di sisi lain, memang bukan sepenuhnya salah konsumen. Kita hidup di sistem yang tampak aman, tapi ternyata masih punya celah. Fraud bisa lari lebih cepat dari regulasikarena pelaku biasanya lebih kreatif, dan motivasinya sangat jelas uang.
Lalu apa sikap Tabooo di sini?
Begini kita percaya digitalisasi harus lanjut. Tapi keamanan harus mengimbangi, bukan sekadar ngikut di belakang.
Regulator harus lebih gesit, bank harus lebih jujur soal celah, dan konsumen harus lebih melek risiko.
Karena kalau salah satu lengah, ya… kasus Rp 200 miliar bisa terulang. Besok mungkin Rp 500 miliar. Lusa mungkin rekening kamu atau saya.
Pada Akhirnya, Kita Mau Digital yang Cepat, Atau Digital yang Selamat?
Ini bukan artikel yang menakut-nakuti. Ini cuma pengingat bahwa era digital nggak datang tanpa harga. Kita dapat kecepatan, tapi kita harus bayar dengan kewaspadaan.
BI bilang BI-Fast aman, jaringan komunikasinya terjaga, dan sistemnya sesuai standar internasional. Yes, itu menenangkan. Tapi, apakah itu berarti risiko nol? Tentu tidak.
Jadi, sebelum kamu transfer pakai BI-Fast sambil rebahan dan percaya semuanya pasti aman, tanya pelan-pelan ke diri sendiri:
Gue udah cukup berhati-hati belum?
Bank gue sudah cukup aman belum?
Regulator sudah cukup gesit belum?
Karena keamanan digital itu bukan satu pihak. Itu ekosistem. Dan kita bagian di dalamnya.
Lalu, kamu di kubu mana?
Kubu “Digital harus super cepat, keamanan belakangan”?
Atau kubu “Lambat dikit nggak apa, asal rekening gue nggak jebol”?
Tabooo mau dengar pendapatmu. @teguh







