Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

BI Jamin Sistem Aman Nyatanya Rp 200 Miliar Menguap, Gitu Aman?

by teguh
Desember 11, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Coba jujur sebentar kita semua suka transaksi digital yang cepat, murah, dan tinggal tap-tap doang, tapi pernah nggak kamu mikir, “Ini semua aman nggak, sih? Atau gue cuma nyerahin duit ke sistem yang rapuh kayak relasi toxic?”

Pertanyaan itu makin relevan setelah kasus transfer ilegal yang bikin rugi sekitar Rp 200 miliar dari beberapa bank. Dan jangan salah ini bukan film heist bergaya Hollywood. Ini benar-benar terjadi, di negara tercinta, di era ketika kita ngerasa semua transaksi sudah super aman.

Tapi tunggu dulu. BI akhirnya buka suara. Dan dari sini debat kafe kita mulai panas.

Transaksi Kilat, Risiko Melekat

Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI, bilang kalau mereka terus memantau kasus ini dan berkoordinasi dengan OJK serta penegak hukum. Intinya regulator nggak diem.

Menurut Denny, BI sudah meminta bank yang terlibat untuk mengencangkan sabuk pengaman digitalnya. Penguatan prosedur pengamanan transaksi jadi prioritas. Karena kalau dibiarkan, fraud kayak begini bisa ganggu stabilitas sistem pembayaran dan itu nggak main-main.

Ini Belum Selesai

Marxisme Melawan Politik Identitas

Dua Musuh, Satu Kepentingan

Selain itu, BI juga tegas soal upaya jangka panjang:

  • memperkuat tata kelola TI,
  • meningkatkan keandalan teknologi,
  • memperketat asesmen keamanan,
  • memasang fraud detection system,
  • sampai memastikan respons insiden berjalan sigap.

BI bahkan sudah punya ketentuan keamanan siber sejak April 2024. Jadi, secara teori, pagar sudah dibangun. Tetapi seperti biasa sebuah sistem cuma sekuat titik terlemahnya.

Titik Lemah Itu, Kita? Banknya? Atau Dua-duanya?

Ada dua kubu opini yang biasanya muncul kalau ngomongin kasus kayak gini.

Kubu pertama:

“Ini jelas salah bank! Masa bisa kecolongan Rp 200 miliar?!”
Mereka percaya bank harusnya punya benteng digital setara Wakanda. Mereka bayar layanan, mereka percaya, jadi mereka nuntut keamanan total.

Kubu kedua:

“Namanya juga manusia, sistem mana ada yang 100% aman.”
Kubu ini melihat fraud sebagai risiko permanen di dunia digital. Mereka bilang, yang penting regulator cepat gerak, bank tutup celahnya, dan konsumen tetap hati-hati.

Yang menarik, BI sendiri mengingatkan bahwa pengamanan internal bank dan penyelenggara penunjang (vendor-vendor teknologi) juga harus diperhatikan. Karena kalau satu sisi rapi, tapi sisi lain longgar, ya bocor juga.

Dan di sini, debatnya jadi makin filosofis Siapa sebenarnya penjaga terakhir uang digital kita regulator, bank, atau kita sendiri?

Refleksi: Jangan-Jangan Kita Terlalu Percaya Tanpa Nanya?

Bicara jujur, kita semua suka kemudahan. Kita tap QR, transfer kilat BI-Fast, belanja COD digital, sampai bayar kopi Rp 24.500 pakai mobile banking. Semua serba instan.

Tapi kenyataannya kita jarang nanya soal keamanan.
Kita jarang baca notifikasi bank.
Kita sering asal share OTP “karena ada yang ngaku CS.”

Makanya BI sampai mengimbau:

  • periksa data transaksi,
  • jaga PIN & OTP,
  • pakai notifikasi rekening,
  • dan tetap waspada.

Ini hal-hal sederhana, tapi sering kita skip karena “ribet”.

Di sisi lain, memang bukan sepenuhnya salah konsumen. Kita hidup di sistem yang tampak aman, tapi ternyata masih punya celah. Fraud bisa lari lebih cepat dari regulasikarena pelaku biasanya lebih kreatif, dan motivasinya sangat jelas uang.

Lalu apa sikap Tabooo di sini?
Begini kita percaya digitalisasi harus lanjut. Tapi keamanan harus mengimbangi, bukan sekadar ngikut di belakang.
Regulator harus lebih gesit, bank harus lebih jujur soal celah, dan konsumen harus lebih melek risiko.

Karena kalau salah satu lengah, ya… kasus Rp 200 miliar bisa terulang. Besok mungkin Rp 500 miliar. Lusa mungkin rekening kamu atau saya.

Pada Akhirnya, Kita Mau Digital yang Cepat, Atau Digital yang Selamat?

Ini bukan artikel yang menakut-nakuti. Ini cuma pengingat bahwa era digital nggak datang tanpa harga. Kita dapat kecepatan, tapi kita harus bayar dengan kewaspadaan.

BI bilang BI-Fast aman, jaringan komunikasinya terjaga, dan sistemnya sesuai standar internasional. Yes, itu menenangkan. Tapi, apakah itu berarti risiko nol? Tentu tidak.

Jadi, sebelum kamu transfer pakai BI-Fast sambil rebahan dan percaya semuanya pasti aman, tanya pelan-pelan ke diri sendiri:

Gue udah cukup berhati-hati belum?
Bank gue sudah cukup aman belum?
Regulator sudah cukup gesit belum?

Karena keamanan digital itu bukan satu pihak. Itu ekosistem. Dan kita bagian di dalamnya.

Lalu, kamu di kubu mana?

Kubu “Digital harus super cepat, keamanan belakangan”?
Atau kubu “Lambat dikit nggak apa, asal rekening gue nggak jebol”?

Tabooo mau dengar pendapatmu. @teguh

Tags: Bank IndonesiaDigitalIlegalOJKSistem

Kamu Melewatkan Ini

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

by Tabooo
Juni 10, 2026

UU Polri baru tidak hanya mengubah batas usia pensiun. Aturan ini juga membuka pertanyaan besar soal regenerasi, kewenangan digital, ruang...

Cara Otak Dan Sistem Sosial Membentuk Rasa Sakit

Cara Otak Dan Sistem Sosial Membentuk Rasa Sakit

by teguh
Mei 6, 2026

Pesanmu berhenti di “seen”. Lamaranmu tidak lolos. Seseorang pergi tanpa alasan. Sekilas, semua itu tampak biasa. Namun, tubuhmu langsung bereaksi...

Sertifikasi Naik, Tekanan Ikut Naik: Kisah Sunyi di Balik Profesi Guru

Sertifikasi Naik, Tekanan Ikut Naik: Kisah Sunyi di Balik Profesi Guru

by teguh
Mei 2, 2026

Pagi itu, di sebuah ruang kelas sederhana pada masa awal kemerdekaan, seorang guru berdiri tanpa seragam resmi, tanpa tunjangan, bahkan...

Next Post
9 Desember: Hari Anti Korupsi dan Sejarah di Baliknya

9 Desember: Hari Anti Korupsi dan Sejarah di Baliknya

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id