• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News Bisnis

BI: Ekonomi Dunia Melemah ke 3,1 Persen, Emerging Markets Tertekan

Maret 18, 2026
in Bisnis, News
A A
BI: Ekonomi Dunia Melemah ke 3,1 Persen, Emerging Markets Tertekan

Ilustrasi: Layar perdagangan saham global memerah dengan grafik menurun, mencerminkan tekanan pasar akibat ketidakpastian geopolitik. (Foto ilustrasi Tabooo.id/Dimas P)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Tekanan global kian nyata. Bank Indonesia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 dari 3,2 persen menjadi 3,1 persen. Revisi ini muncul di tengah ketidakpastian yang meningkat akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa perlambatan ekonomi global tetap terjadi meski Amerika Serikat sempat menurunkan tarif resiprokal. Menurutnya, eskalasi konflik di Iran justru memberi tekanan baru melalui lonjakan harga minyak dan gangguan rantai pasok perdagangan internasional.

“Perang Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global,” ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI, Selasa (17/3/2026).

Geopolitik Memanas, Pasar Keuangan Global Ikut Terguncang

Konflik tidak hanya menghantam sektor riil, tetapi juga mengguncang pasar keuangan global. Dolar AS menguat, imbal hasil US Treasury naik, dan arus modal mulai keluar dari negara berkembang.

Kondisi ini memperlihatkan satu pola lama saat ketidakpastian meningkat, investor global beralih ke aset aman. Akibatnya, negara-negara emerging markets menghadapi tekanan ganda nilai tukar melemah dan aliran dana asing menyusut.

Perry menilai situasi ini membuat pengelolaan ekonomi di negara berkembang semakin menantang. Tekanan eksternal tidak lagi sekadar fluktuasi, tetapi berubah menjadi risiko sistemik yang lebih luas.

Inflasi Global Naik, Ruang Pelonggaran Moneter Menyempit

Di saat yang sama, tekanan inflasi global ikut meningkat. BI mencatat inflasi dunia naik dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen. Kenaikan ini menutup ruang bagi bank sentral global untuk menurunkan suku bunga.

Harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga acuan AS atau Fed Funds Rate pun makin tertunda. Kenaikan yield US Treasury, yang juga dipicu pelebaran defisit fiskal AS akibat pembiayaan perang, memperparah tekanan tersebut.

RelatedPosts

MotoGP Brasil 2026: Semua Nol Lagi, Tapi Marquez Punya Satu Keunggulan

Pemerintah Resmi Tetapkan Idul Fitri 1447 H pada Sabtu 21 Maret 2026

Aliran modal global pun bergeser. Investor lebih memilih parkir dana di pasar keuangan AS yang dianggap lebih aman, sementara negara berkembang harus menanggung volatilitas yang lebih tinggi.

Indonesia Bertahan, Konsumsi dan Investasi Jadi Penopang

Di tengah tekanan global, BI tetap menjaga optimisme terhadap ekonomi domestik. Bank sentral mempertahankan proyeksi pertumbuhan Indonesia di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen.

Pemerintah dan otoritas moneter kini bertumpu pada konsumsi rumah tangga dan investasi sebagai mesin utama pertumbuhan. Berbagai program stimulus terus digulirkan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja.

BI juga memperkuat bauran kebijakan, mulai dari moneter, makroprudensial, hingga sistem pembayaran. Sinergi dengan pemerintah menjadi kunci untuk menjaga stabilitas tanpa mengorbankan pertumbuhan.

“BI akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Perry.

Siapa yang Paling Terdampak?

Tekanan global ini paling terasa bagi negara berkembang, pelaku usaha yang bergantung pada impor, serta masyarakat kelas menengah yang sensitif terhadap inflasi dan pelemahan nilai tukar.

Kenaikan harga energi dan potensi inflasi impor bisa merambat langsung ke harga kebutuhan pokok. Di sisi lain, dunia usaha menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi dan ketidakpastian pasar yang semakin besar.

Revisi kecil dari 3,2 ke 3,1 persen mungkin terlihat sepele di atas kertas. Namun di balik angka itu, ada realitas yang lebih besar ekonomi global sedang goyah, dan negara seperti Indonesia harus terus berjalan di atas garis tipis antara menjaga stabilitas dan mempertahankan pertumbuhan. @dimas

Tags: ASBank IndonesiaBIDolarEkonomiEmerging MarketsFed RateGeopolitikGlobalIndonesiaInflasiInvestasiKeuanganKrisisPasarPasokperangRantaiSuku BungaTimur Tengah
Next Post
KPK Tahan Eks Stafsus Menag, Skema Fee Kuota Haji Terbongkar

KPK Tahan Eks Stafsus Menag, Skema Fee Kuota Haji Terbongkar

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

5 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Kabar Duka: Bos Djarum Bambang Hartono Meninggal Dunia di Singapura

    Kabar Duka: Bos Djarum Bambang Hartono Meninggal Dunia di Singapura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Prajurit TNI Terseret Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Iran Luncurkan Rudal ke Israel, Timur Tengah Kembali Memanas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Idul Fitri: Kita Kembali ke Diri, atau Sekadar Kembali ke Tradisi?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pantai Kuta Bali: Surga yang Dijual, atau Ilusi yang Disepakati?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.