• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Bertiga ke Dunia: Pasangan Singapura yang Keliling Eropa Bareng Seekor Beagle

November 24, 2025
in Lifestyle
A A
Bertiga ke Dunia: Pasangan Singapura yang Keliling Eropa Bareng Seekor Beagle

Jane dan Matt berhenti bekerja, memilih keliling dunia dengan anjing kesayangannya. (Foto: Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak, kamu kepikiran resign, jual barang, terus kabur keliling dunia? Biasanya sih cuma muncul di jam 3 pagi, lalu hilang begitu buka aplikasi mobile banking. Namun, ada pasangan yang justru mewujudkannya lengkap dengan seekor beagle 10 tahun yang ikut traveling.

Matt (42) dan Jane (38), pasangan asal Singapura, memutuskan hal yang selama ini cuma jadi wacana kita berhenti kerja, keluar dari ritme hidup yang membosankan, dan hidup nomaden. Bahkan, mereka mengajak Meiji anjing beagle yang sudah menemani belasan tahun buat ikut menjelajah.

Liburan? Nggak. Ini Hidup Baru.

Keputusan itu bukan iseng. Pada Juni 2024, mereka terbang dari Singapura ke Amsterdam dan memulai petualangan epik. Setelah itu, mereka bergerak terus London, Wales, Belanda, Albania, sampai Austria. Kini, trio ini lagi menikmati Kroasia dengan mobil yang sengaja mereka beli buat long-term travel.

Instagram mereka, @manwomandoggo, kelihatan kayak hidup sempurna sunset yang dramatis, gunung yang megah, dan hutan yang sunyi semua ditemani seekor beagle yang fotogenik banget. Selain itu, mereka juga berbagi tips budgeting dan trik traveling bareng hewan peliharaan. Jadi, selain estetik, akunnya juga edukatif.

Riset Kecil soal Tren Nomaden

Gaya hidup ini bukan cuma estetika ala Pinterest. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang terutama yang kerja remote mulai tertarik hidup tanpa alamat tetap. World Tourism Organization mencatat kenaikan traveler jangka panjang yang cukup signifikan pascapandemi. Selain itu, berbagai studi menunjukkan bahwa makin banyak profesional muda yang ingin keluar dari sistem dan mengejar kehidupan yang lebih fleksibel.

Pasangan ini masuk ke gelombang itu. Bedanya, mereka membawa anjing.

Perjalanan yang Direncanakan Matang

Sering kali kita membayangkan nomad life sebagai keputusan impulsif. Namun, Matt dan Jane justru melakukan hal sebaliknya. Mereka mulai menabung sejak 2015. Ketika karier stabil, mereka merancang rencana keuangan jangka panjang, termasuk tujuan pensiun dini.

“Kami bisa menabung hampir 90 persen dari pendapatan karena menjaga pengeluaran tetap rendah,” kata Jane. Selain itu, mereka menyewakan kamar tambahan di flat mereka, menginvestasikan hasilnya, dan memilih saham dividen untuk memastikan ada pemasukan pasif. Perlahan, mereka berhasil hidup dari dividen sebelum berhenti kerja.

Strategi finansial ini yang bikin hidup nomaden mereka terasa memungkinkan. Mereka nggak sekadar nekat mereka membangun pondasinya sejak lama. Itulah kenapa cerita mereka bukan tentang keberuntungan, melainkan tentang konsistensi.

Budgeting, Tapi Tetap Bahagia

Dalam setahun terakhir, pengeluaran perjalanan rata-rata hanya sekitar S$50 per hari (sekitar Rp600 ribu). Mayoritasnya untuk akomodasi. Meski begitu, mereka merasa biaya itu sepadan dengan kebebasan yang didapat. Selain itu, mereka pandai memilih kota, mengatur durasi stay, dan menyesuaikan perjalanan dengan ritme harian Meiji.

Meiji, Sang Co-Pilot yang Tenang

Banyak yang mempertanyakan keputusan membawa anjing senior dalam perjalanan panjang. Namun, Jane menjawabnya sederhana “Hidup terlalu singkat buat khawatir berlebihan.”

Meiji ternyata traveler yang ideal. Dia tidur selama perjalanan, ikut eksplorasi saat mereka trekking, dan jarang rewel. Selain itu, kesehatannya stabil sehingga perjalanan tetap aman. Bahkan, kehadiran Meiji memberi identitas unik bagi perjalanan mereka bukan sekadar nomad life, tapi fur-traveling lifestyle.

Pandemi yang Mengubah Arah

Sebenarnya, mereka ingin berangkat pada 2020. Namun, pandemi menunda rencana. Anehnya, penundaan itu justru membawa berkah. Mereka akhirnya punya waktu untuk beres-beres flat yang sudah penuh barang.

“Butuh enam minggu buat nyumbang dan jual barang di Carousell,” ujar Jane sambil tertawa. Namun hasilnya signifikan hidup mereka jadi lebih ringan, dan keputusan untuk berkeliling dunia terasa makin tepat.

RelatedPosts

ASUS Bawa AI ke Level Baru: Zenbook S14 OLED Bisa “Mikir Sendiri” Tanpa Internet

AI Sekelas “Doktor” Masuk Saku: Gaya Hidup Baru atau Alarm Diam-Diam?

Setelah Petualangan Berakhir… Lalu Apa?

Matt dan Jane berencana melakukan perjalanan selama dua hingga tiga tahun. Setelah itu, mereka akan kembali ke Singapura, tetapi bukan untuk kembali ke rutinitas lama. Mereka tidak berniat bekerja penuh waktu lagi. Matt ingin mencoba bisnis gadai emas dan perak. Sementara itu, Jane ingin membuka usaha kecil yang berkaitan dengan anjing mungkin grooming, daycare, atau konten edukatif.

Dengan kata lain, mereka ingin masa depan yang lebih lambat, lebih fleksibel, dan lebih bermakna.

Apa Artinya Semua Ini Buat Kamu?

Pada akhirnya, cerita Matt, Jane, dan Meiji bukan cuma tentang traveling. Cerita ini berbicara tentang:

  • Keberanian meninggalkan zona nyaman.
  • Disiplin finansial yang jadi pondasi kebebasan.
  • Keinginan hidup lebih selaras dengan nilai diri.
  • Filosofi sederhana: hidup boleh capek, tapi jangan sampai hambar.

Di era ketika banyak orang merasa terjebak, pasangan ini memberi alternatif: hidup bisa punya bentuk lain. Mungkin kamu nggak harus resign besok dan keliling Eropa, tetapi kamu bisa mulai dari hal kecil mengatur uang, merapikan hidup, atau memberi ruang buat mimpi yang lama kamu padamkan.

Karena, pada akhirnya, pilihan bukan soal besar atau kecil. Pilihan adalah soal keberanian mengambil langkah pertama.

Dan kamu? Sudah tahu langkah pertamamu apa?. @teguh

Tags: BudgetingEdukatiferopaestetikFleksibelGaya HidupImpulsifPinterestTraveler
Next Post
Gamer Ramai Keluhkan Grafis Janggal di Black Ops 7, Diduga Hasil AI

Gamer Ramai Keluhkan Grafis Janggal di Black Ops 7, Diduga Hasil AI

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.