Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bertiga ke Dunia: Pasangan Singapura yang Keliling Eropa Bareng Seekor Beagle

by teguh
Mei 8, 2026
in Culture, Travel
A A
Home Lifestyle
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak, kamu kepikiran resign, jual barang, terus kabur keliling dunia? Biasanya sih cuma muncul di jam 3 pagi, lalu hilang begitu buka aplikasi mobile banking. Namun, ada pasangan yang justru mewujudkannya lengkap dengan seekor beagle 10 tahun yang ikut traveling.

Matt (42) dan Jane (38), pasangan asal Singapura, memutuskan hal yang selama ini cuma jadi wacana kita berhenti kerja, keluar dari ritme hidup yang membosankan, dan hidup nomaden. Bahkan, mereka mengajak Meiji anjing beagle yang sudah menemani belasan tahun buat ikut menjelajah.

Liburan? Nggak. Ini Hidup Baru.

Keputusan itu bukan iseng. Pada Juni 2024, mereka terbang dari Singapura ke Amsterdam dan memulai petualangan epik. Setelah itu, mereka bergerak terus London, Wales, Belanda, Albania, sampai Austria. Kini, trio ini lagi menikmati Kroasia dengan mobil yang sengaja mereka beli buat long-term travel.

Instagram mereka, @manwomandoggo, kelihatan kayak hidup sempurna sunset yang dramatis, gunung yang megah, dan hutan yang sunyi semua ditemani seekor beagle yang fotogenik banget. Selain itu, mereka juga berbagi tips budgeting dan trik traveling bareng hewan peliharaan. Jadi, selain estetik, akunnya juga edukatif.

Riset Kecil soal Tren Nomaden

Gaya hidup ini bukan cuma estetika ala Pinterest. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang terutama yang kerja remote mulai tertarik hidup tanpa alamat tetap. World Tourism Organization mencatat kenaikan traveler jangka panjang yang cukup signifikan pascapandemi. Selain itu, berbagai studi menunjukkan bahwa makin banyak profesional muda yang ingin keluar dari sistem dan mengejar kehidupan yang lebih fleksibel.

Ini Belum Selesai

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

Pasangan ini masuk ke gelombang itu. Bedanya, mereka membawa anjing.

Perjalanan yang Direncanakan Matang

Sering kali kita membayangkan nomad life sebagai keputusan impulsif. Namun, Matt dan Jane justru melakukan hal sebaliknya. Mereka mulai menabung sejak 2015. Ketika karier stabil, mereka merancang rencana keuangan jangka panjang, termasuk tujuan pensiun dini.

“Kami bisa menabung hampir 90 persen dari pendapatan karena menjaga pengeluaran tetap rendah,” kata Jane. Selain itu, mereka menyewakan kamar tambahan di flat mereka, menginvestasikan hasilnya, dan memilih saham dividen untuk memastikan ada pemasukan pasif. Perlahan, mereka berhasil hidup dari dividen sebelum berhenti kerja.

Strategi finansial ini yang bikin hidup nomaden mereka terasa memungkinkan. Mereka nggak sekadar nekat mereka membangun pondasinya sejak lama. Itulah kenapa cerita mereka bukan tentang keberuntungan, melainkan tentang konsistensi.

Budgeting, Tapi Tetap Bahagia

Dalam setahun terakhir, pengeluaran perjalanan rata-rata hanya sekitar S$50 per hari (sekitar Rp600 ribu). Mayoritasnya untuk akomodasi. Meski begitu, mereka merasa biaya itu sepadan dengan kebebasan yang didapat. Selain itu, mereka pandai memilih kota, mengatur durasi stay, dan menyesuaikan perjalanan dengan ritme harian Meiji.

Meiji, Sang Co-Pilot yang Tenang

Banyak yang mempertanyakan keputusan membawa anjing senior dalam perjalanan panjang. Namun, Jane menjawabnya sederhana “Hidup terlalu singkat buat khawatir berlebihan.”

Meiji ternyata traveler yang ideal. Dia tidur selama perjalanan, ikut eksplorasi saat mereka trekking, dan jarang rewel. Selain itu, kesehatannya stabil sehingga perjalanan tetap aman. Bahkan, kehadiran Meiji memberi identitas unik bagi perjalanan mereka bukan sekadar nomad life, tapi fur-traveling lifestyle.

Pandemi yang Mengubah Arah

Sebenarnya, mereka ingin berangkat pada 2020. Namun, pandemi menunda rencana. Anehnya, penundaan itu justru membawa berkah. Mereka akhirnya punya waktu untuk beres-beres flat yang sudah penuh barang.

“Butuh enam minggu buat nyumbang dan jual barang di Carousell,” ujar Jane sambil tertawa. Namun hasilnya signifikan hidup mereka jadi lebih ringan, dan keputusan untuk berkeliling dunia terasa makin tepat.

Setelah Petualangan Berakhir… Lalu Apa?

Matt dan Jane berencana melakukan perjalanan selama dua hingga tiga tahun. Setelah itu, mereka akan kembali ke Singapura, tetapi bukan untuk kembali ke rutinitas lama. Mereka tidak berniat bekerja penuh waktu lagi. Matt ingin mencoba bisnis gadai emas dan perak. Sementara itu, Jane ingin membuka usaha kecil yang berkaitan dengan anjing mungkin grooming, daycare, atau konten edukatif.

Dengan kata lain, mereka ingin masa depan yang lebih lambat, lebih fleksibel, dan lebih bermakna.

Apa Artinya Semua Ini Buat Kamu?

Pada akhirnya, cerita Matt, Jane, dan Meiji bukan cuma tentang traveling. Cerita ini berbicara tentang:

  • Keberanian meninggalkan zona nyaman.
  • Disiplin finansial yang jadi pondasi kebebasan.
  • Keinginan hidup lebih selaras dengan nilai diri.
  • Filosofi sederhana: hidup boleh capek, tapi jangan sampai hambar.

Di era ketika banyak orang merasa terjebak, pasangan ini memberi alternatif: hidup bisa punya bentuk lain. Mungkin kamu nggak harus resign besok dan keliling Eropa, tetapi kamu bisa mulai dari hal kecil mengatur uang, merapikan hidup, atau memberi ruang buat mimpi yang lama kamu padamkan.

Karena, pada akhirnya, pilihan bukan soal besar atau kecil. Pilihan adalah soal keberanian mengambil langkah pertama.

Dan kamu? Sudah tahu langkah pertamamu apa?. @teguh

Tags: eropaestetikFleksibelGaya HidupImpulsif

Kamu Melewatkan Ini

Fashion 2026: Ini Bukan Lagi Soal Gaya, Tapi Cara Kamu Bertahan

Fashion 2026: Ini Bukan Lagi Soal Gaya, Tapi Cara Kamu Bertahan

by Naysa
Mei 8, 2026

Dulu, fashion cuma soal terlihat keren. Sekarang, itu sudah tidak cukup. Tahun 2026 mengubah semuanya, baju bukan lagi sekadar gaya,...

Singkong Keju: Murah di Ladang, Mahal di Etalase, Berbahaya di Dapur

Singkong Keju: Murah di Ladang, Mahal di Etalase, Berbahaya di Dapur

by Anisa
Mei 2, 2026

Aroma gurih singkong keju terasa sederhana, tapi ceritanya tidak sesederhana itu. Harga melonjak, branding terlihat meyakinkan, namun dapur di baliknya...

Vivo T5 Series: Gaya Hidup  atau Tekanan Digital yang Makin Halus?

Vivo T5 Series: Gaya Hidup atau Tekanan Digital yang Makin Halus?

by teguh
Mei 8, 2026

Kalau dulu smartphone cuma alat komunikasi, sekarang ceritanya berbeda. Pada 29/04/2026, vivo Indonesia resmi merilis Vivo T5 Series. Namun, lebih...

Next Post
Gamer Ramai Keluhkan Grafis Janggal di Black Ops 7, Diduga Hasil AI

Gamer Ramai Keluhkan Grafis Janggal di Black Ops 7, Diduga Hasil AI

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id