Tabooo.id: Talk – Pernah nggak kamu mikir, kenapa negara yang katanya “kaya sumber daya alam” ini masih aja impor BBM sampai separuh kebutuhan? Sekarang pemerintah punya ide baru lagi. Setelah program biodiesel dari sawit yang belum juga sampai 100 persen, mereka mau gaspol bikin bioetanol dari tebu, jagung, dan singkong. Katanya sih biar kita mandiri energi dan nggak tergantung impor. Tapi, tunggu dulu… beneran solusi, atau cuma ganti masalah lama dengan baju baru?
Dari Sawit ke Singkong: Energi Hijau atau Drama Baru?
Mulai 2027 nanti, katanya semua bensin wajib dicampur etanol 10 persen disebut E10. Ini ide dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Tujuannya mulia: ngurangin impor, nyelamatin neraca perdagangan, dan mendukung energi hijau. Di atas kertas, kedengarannya keren banget. Bayangin, kita nyetir mobil sambil bangga bilang, “Bahan bakar gue ramah lingkungan, bro!”
Tapi… ingat biodiesel? Dulu juga dijual dengan janji manis yang sama. Faktanya, sampai sekarang program B100 (biodiesel murni) belum jalan mulus. Kenapa? Karena urusan bahan baku yang nggak sesederhana itu. Produksi sawit buat biodiesel pernah bikin minyak goreng langka. Sekarang kalau kita geser ke singkong dan tebu, apa nasibnya bakal beda?
Indonesia ini unik. Kita masih berjuang buat cukupin pangan, tapi di saat bersamaan mau pakai bahan pangan buat isi tangki mobil. Logika sederhananya: kalau singkongnya habis buat bioetanol, terus harga gethuk naik, siapa yang disalahin? Pemerintah atau sopir ojol yang butuh bensin murah?
Bioetanol: Lebih Hijau, tapi Lebih Mahal
Biar lebih konkret: sekarang harga Pertamax Rp 11.500 per liter, sementara Pertamax Green 95 yang udah pakai etanol harganya Rp 13.000 per liter. Katanya sih harga bisa turun kalau kandungan etanolnya makin tinggi. Tapi siapa yang mau jamin? Karena sejauh ini, bahan bakar “hijau” malah hijau juga di dompet (baca: bikin kantong makin kering).
Dan jangan lupa soal mesin kendaraan. Nggak semua mobil atau motor cocok dengan bahan bakar campuran etanol. Kalau mesin rusak gara-gara kebijakan yang belum matang, siapa yang tanggung jawab? Konsumen lagi, kan?
Perspektif Lawan: “Tapi Kan Demi Masa Depan Energi!”
Tentu aja ada kubu yang bilang: “Eh, jangan nyinyir dulu. Ini demi masa depan energi kita!” Benar. Dunia memang butuh alternatif dari bahan bakar fosil yang makin menipis. Dan bioetanol ini bukan ide baru. Brasil udah jalanin sejak krisis minyak tahun 1970-an dan berhasil bikin mobil berbahan bakar etanol.
Masalahnya, Brasil punya sistem pertanian dan industri tebu yang rapi. Sementara di Indonesia, sistem kita sering lebih cepat bikin proyek daripada mikirin dampaknya. Dari sawit sampai nikel, pola pikirnya mirip: “Tanam dulu, urusan lahan dan warga belakangan.”
Lihat aja proyek bioetanol di Merauke, Papua Selatan. Pemerintah buka lahan dua juta hektare buat tebu, tapi masyarakat adat menolak. Mereka takut kehilangan tanah, hutan, dan budaya mereka. Jadi, gimana caranya kita bisa bilang ini “energi hijau”, kalau yang dikorbanin justru manusia dan alamnya?
Sikap Redaksi Tabooo: Energi Hijau Bukan Cuma Soal Warna Bensin
Kita paham kok, transisi energi itu penting. Dunia memang harus beralih ke energi terbarukan. Tapi masalahnya bukan di niat, melainkan di cara. Kalau “energi hijau” cuma jadi proyek industri besar yang nyenggol urusan pangan, lingkungan, dan rakyat kecil, itu namanya bukan transisi itu translokasi masalah.
Energi berkelanjutan seharusnya juga adil. Artinya, bukan cuma ramah lingkungan tapi juga ramah manusia. Kalau petani singkong tetap miskin, lahan adat dirampas, dan rakyat bayar bensin lebih mahal, lalu energi macam apa yang kita rayakan?
Pemerintah suka bilang: “Kita menuju kemandirian energi!” Tapi jangan lupa, kemandirian itu bukan berarti rakyat harus berkorban duluan. Coba deh, bikin kebijakan yang realistis: insentif buat petani lokal, riset bahan bakar non-pangan, dan transparansi soal siapa yang diuntungkan dari proyek-proyek ini. Karena kalau cuma ganti “bahan bakar impor” dengan “bahan bakar dari lahan rakyat”, itu bukan kemandirian itu pengalihan.
Antara Harapan dan Pertanyaan
Bioetanol memang bisa jadi masa depan, tapi masa depan yang mana? Yang hijau karena alamnya lestari, atau hijau karena uangnya mengalir ke segelintir elite?
Kita semua pengen udara bersih dan energi murah. Tapi jangan sampai demi ngejar “energi hijau”, kita justru makin jauh dari keadilan sosial dan keberlanjutan sesungguhnya.
Jadi, gimana menurut kamu?
Bensin dari singkong ini langkah cerdas menuju masa depan energi, atau cuma eksperimen lama dengan bumbu baru?
Kamu di kubu optimis, skeptis, atau cuma pengen bensin yang nggak bikin dompet nangis? @dimas




