Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bensin dari Singkong: Mimpi Energi Hijau vs Realita Jalanan

by dimas
November 17, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernah nggak kamu mikir, kenapa negara yang katanya “kaya sumber daya alam” ini masih aja impor BBM sampai separuh kebutuhan? Sekarang pemerintah punya ide baru lagi. Setelah program biodiesel dari sawit yang belum juga sampai 100 persen, mereka mau gaspol bikin bioetanol dari tebu, jagung, dan singkong. Katanya sih biar kita mandiri energi dan nggak tergantung impor. Tapi, tunggu dulu… beneran solusi, atau cuma ganti masalah lama dengan baju baru?

Dari Sawit ke Singkong: Energi Hijau atau Drama Baru?

Mulai 2027 nanti, katanya semua bensin wajib dicampur etanol 10 persen disebut E10. Ini ide dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Tujuannya mulia: ngurangin impor, nyelamatin neraca perdagangan, dan mendukung energi hijau. Di atas kertas, kedengarannya keren banget. Bayangin, kita nyetir mobil sambil bangga bilang, “Bahan bakar gue ramah lingkungan, bro!”

Tapi… ingat biodiesel? Dulu juga dijual dengan janji manis yang sama. Faktanya, sampai sekarang program B100 (biodiesel murni) belum jalan mulus. Kenapa? Karena urusan bahan baku yang nggak sesederhana itu. Produksi sawit buat biodiesel pernah bikin minyak goreng langka. Sekarang kalau kita geser ke singkong dan tebu, apa nasibnya bakal beda?

Indonesia ini unik. Kita masih berjuang buat cukupin pangan, tapi di saat bersamaan mau pakai bahan pangan buat isi tangki mobil. Logika sederhananya: kalau singkongnya habis buat bioetanol, terus harga gethuk naik, siapa yang disalahin? Pemerintah atau sopir ojol yang butuh bensin murah?

Bioetanol: Lebih Hijau, tapi Lebih Mahal

Biar lebih konkret: sekarang harga Pertamax Rp 11.500 per liter, sementara Pertamax Green 95 yang udah pakai etanol harganya Rp 13.000 per liter. Katanya sih harga bisa turun kalau kandungan etanolnya makin tinggi. Tapi siapa yang mau jamin? Karena sejauh ini, bahan bakar “hijau” malah hijau juga di dompet (baca: bikin kantong makin kering).

Ini Belum Selesai

Rupiah Melemah, Harga Naik: Masih Yakin Ekonomi Baik-Baik Saja?

LCC 4 Pilar atau Lomba Artikulasi? Ketika Pengetahuan Kalah oleh Teknis

Dan jangan lupa soal mesin kendaraan. Nggak semua mobil atau motor cocok dengan bahan bakar campuran etanol. Kalau mesin rusak gara-gara kebijakan yang belum matang, siapa yang tanggung jawab? Konsumen lagi, kan?

Perspektif Lawan: “Tapi Kan Demi Masa Depan Energi!”

Tentu aja ada kubu yang bilang: “Eh, jangan nyinyir dulu. Ini demi masa depan energi kita!” Benar. Dunia memang butuh alternatif dari bahan bakar fosil yang makin menipis. Dan bioetanol ini bukan ide baru. Brasil udah jalanin sejak krisis minyak tahun 1970-an dan berhasil bikin mobil berbahan bakar etanol.

Masalahnya, Brasil punya sistem pertanian dan industri tebu yang rapi. Sementara di Indonesia, sistem kita sering lebih cepat bikin proyek daripada mikirin dampaknya. Dari sawit sampai nikel, pola pikirnya mirip: “Tanam dulu, urusan lahan dan warga belakangan.”

Lihat aja proyek bioetanol di Merauke, Papua Selatan. Pemerintah buka lahan dua juta hektare buat tebu, tapi masyarakat adat menolak. Mereka takut kehilangan tanah, hutan, dan budaya mereka. Jadi, gimana caranya kita bisa bilang ini “energi hijau”, kalau yang dikorbanin justru manusia dan alamnya?

Sikap Redaksi Tabooo: Energi Hijau Bukan Cuma Soal Warna Bensin

Kita paham kok, transisi energi itu penting. Dunia memang harus beralih ke energi terbarukan. Tapi masalahnya bukan di niat, melainkan di cara. Kalau “energi hijau” cuma jadi proyek industri besar yang nyenggol urusan pangan, lingkungan, dan rakyat kecil, itu namanya bukan transisi itu translokasi masalah.

Energi berkelanjutan seharusnya juga adil. Artinya, bukan cuma ramah lingkungan tapi juga ramah manusia. Kalau petani singkong tetap miskin, lahan adat dirampas, dan rakyat bayar bensin lebih mahal, lalu energi macam apa yang kita rayakan?

Pemerintah suka bilang: “Kita menuju kemandirian energi!” Tapi jangan lupa, kemandirian itu bukan berarti rakyat harus berkorban duluan. Coba deh, bikin kebijakan yang realistis: insentif buat petani lokal, riset bahan bakar non-pangan, dan transparansi soal siapa yang diuntungkan dari proyek-proyek ini. Karena kalau cuma ganti “bahan bakar impor” dengan “bahan bakar dari lahan rakyat”, itu bukan kemandirian itu pengalihan.

Antara Harapan dan Pertanyaan

Bioetanol memang bisa jadi masa depan, tapi masa depan yang mana? Yang hijau karena alamnya lestari, atau hijau karena uangnya mengalir ke segelintir elite?

Kita semua pengen udara bersih dan energi murah. Tapi jangan sampai demi ngejar “energi hijau”, kita justru makin jauh dari keadilan sosial dan keberlanjutan sesungguhnya.

Jadi, gimana menurut kamu?
Bensin dari singkong ini langkah cerdas menuju masa depan energi, atau cuma eksperimen lama dengan bumbu baru?
Kamu di kubu optimis, skeptis, atau cuma pengen bensin yang nggak bikin dompet nangis? @dimas

Tags: Krisis PanganLingkungan Hidup

Kamu Melewatkan Ini

Harga Pangan Global Naik Serempak, Perang dan El Nino Jadi Pemicu Utama

Perang Timur Tengah dan Bayangan Kelaparan Global yang Mulai Nyata

by dimas
Mei 9, 2026

Isunya tidak hanya tentang kenaikan harga pangan dan pupuk global, tetapi juga bagaimana perang, kebijakan energi, dan krisis iklim perlahan...

Negara Sibuk Smart City, Warga Masih Cari Tempat Buang Sampah

Negara Sibuk Smart City, Warga Masih Cari Tempat Buang Sampah

by teguh
Mei 8, 2026

Pemerintah daerah ramai bicara smart city. Kamera pengawas bertambah, aplikasi layanan publik terus muncul, dan slogan kota modern memenuhi baliho....

Darurat Sampah Nasional Sudah Terjadi, Tapi Kenapa Seolah Tak Ada yang Peduli?

Darurat Sampah Nasional Sudah Terjadi, Tapi Kenapa Seolah Tak Ada yang Peduli?

by dimas
Mei 8, 2026

Indonesia tengah menghadapi krisis senyap yang tidak meledak dalam sekejap, tetapi terus menumpuk setiap hari sampah yang mencapai 143 ribu...

Next Post
Ketika Pokir Jadi Pokok Korupsi, Empat Nama Baru Diseret KPK

Pokir Jadi Pokok Korupsi, Empat Nama Baru Diseret KPK

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id