Rabu, Agustus 26, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

BEM Semarang Dihadang Polisi, Jalan Menuju Tugu Muda Memanas

by dimas
Agustus 26, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Massa BEM Semarang dihadang polisi saat menuju Tugu Muda. Aksi “Menuju Pembebasan Nasional” membawa tuntutan harga BBM, MBG, KDMP, dan ruang sipil.

Tabooo.id – Jalan Pemuda sore itu bukan sekadar jalur menuju Tugu Muda. Ia berubah menjadi garis batas antara massa mahasiswa yang ingin menyampaikan tuntutan dan barisan aparat yang meminta mereka berhenti.

Ratusan hingga ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Semarang Raya bergerak dari kawasan Kantor Pos Kota Lama menuju Tugu Muda, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (26/8/2026). Aksi bertajuk “Menuju Pembebasan Nasional” itu kemudian berhadapan dengan blokade polisi di Jalan Pemuda.

Sekitar pukul 16.00 WIB, barisan polisi wanita (Polwan) membentuk penyekatan untuk menahan laju massa. Mahasiswa yang semula bergerak menuju Tugu Muda akhirnya berhenti di hadapan barikade tersebut.

Di titik itu, agenda demonstrasi berubah. Jalan yang seharusnya menjadi ruang bergerak massa menjadi ruang negosiasi.

Mahasiswa kemudian menggunakan mobil komando sebagai panggung. Orasi dilanjutkan dari atas kendaraan sembari massa bertahan di belakang barikade polisi.

Ini Belum Selesai

Sibuk Cari Penunggang, Lupa Dengar Tuntutan

Terjerat Kasus Pelecehan, Bripka E Tak Dipecat: Prestasi Jadi Perisai?

Sejumlah peserta sempat berupaya menembus penyekatan. Hingga sekitar pukul 16.43 WIB, aparat masih menahan massa agar tidak melintas menuju kawasan Tugu Muda.

Namun, aksi tidak berhenti hanya karena jalan ditutup.

Akses fisik yang terbatas justru mendorong massa memindahkan tuntutan ke ruang suara.

Tugu Muda Diperebutkan Bukan Sekadar sebagai Lokasi

Tugu Muda memiliki makna lebih dari sekadar titik kumpul demonstrasi.

Kawasan itu menjadi salah satu simbol sejarah perjuangan masyarakat Semarang. Bagi mahasiswa, memilih Tugu Muda sebagai titik aksi memberi lapisan simbolik pada tema “Menuju Pembebasan Nasional”.

Karena itu, persoalannya bukan hanya apakah massa bisa sampai ke sebuah bundaran.

Massa memperebutkan ruang untuk berbicara di tengah kota.

Di satu sisi, aparat memiliki tanggung jawab menjaga keamanan, mengatur lalu lintas, serta memastikan aktivitas warga tetap berjalan. Di sisi lain, mahasiswa membawa hak konstitusional untuk menyampaikan kritik dan tuntutan di ruang publik.

Pertemuan dua kepentingan itu kemudian mengambil bentuk paling kasatmata barikade.

Polisi berdiri sebagai pengaman ketertiban. Mahasiswa berdiri sebagai pembawa keresahan.

Di antara keduanya, Jalan Pemuda menjadi panggung demokrasi yang tegang.

Tuntutan Tidak Berhenti pada Harga BBM

Aksi tersebut membawa sejumlah tuntutan yang jauh lebih luas daripada persoalan harga.

Mahasiswa menyerukan penurunan harga bahan pokok dan BBM. Mereka juga meminta evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penghentian Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

Tuntutan itu kemudian melebar ke persoalan tata kelola kekuasaan.

Dalam rangkaian tuntutannya, mahasiswa juga menyuarakan pengembalian TNI dan Polri ke fungsi utama, pengembalian kepemilikan tanah kepada rakyat, rehabilitasi wilayah terdampak bencana, serta penghentian praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme di pemerintahan.

Dengan demikian, demonstrasi ini tidak berdiri sebagai protes terhadap satu kebijakan.

Ia merupakan akumulasi kegelisahan terhadap harga hidup, kebijakan negara, ruang sipil, pengelolaan tanah, hingga perilaku kekuasaan.

Nama “Pembebasan Nasional” akhirnya menjadi payung besar bagi keresahan yang berlapis-lapis.

Polisi: Hak Berpendapat Dihormati, Ketertiban Tetap Dijaga

Polda Jawa Tengah menyatakan menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat.

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Yuliyanto mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak mudah terprovokasi, dan mengikuti informasi resmi. Masyarakat yang beraktivitas di sekitar jalur pergerakan massa juga diminta menyesuaikan rute perjalanan dan mengikuti arahan petugas.

Polisi juga meminta peserta menyampaikan aspirasi secara damai, tertib, dan bertanggung jawab.

Posisi tersebut menunjukkan dilema klasik dalam pengamanan demonstrasi bagaimana menjaga ketertiban tanpa membuat ketertiban menjadi alasan untuk mempersempit ruang kritik.

Sebab demonstrasi memang mengganggu rutinitas.

Jalan bisa macet. Aktivitas warga bisa tersendat. Pusat kota bisa berubah menjadi ruang konsentrasi massa.

Tetapi demokrasi memang tidak selalu hadir dalam keadaan nyaman.

Ketika Barikade Menjadi Pesan Politik

Ada ironi yang sulit diabaikan dari peristiwa sore itu.

Mahasiswa datang membawa tuntutan agar negara mendengar.

Negara hadir melalui aparat yang menjaga agar mereka tidak bergerak melewati garis tertentu.

Keduanya sama-sama berbicara tentang ketertiban, tetapi dari posisi yang berbeda.

Bagi aparat, ketertiban berarti memastikan ruang publik tetap terkendali. Bagi demonstran, ruang publik justru harus tersedia agar kritik dapat terdengar.

Di titik inilah demonstrasi berubah dari sekadar kerumunan menjadi pertarungan tafsir tentang ruang demokrasi.

Barikade bukan hanya benda fisik.

Ia menjadi simbol tentang seberapa jauh suara kritik boleh bergerak.

Ini Bukan Sekadar Massa yang Dihadang

Peristiwa di Jalan Pemuda menunjukkan satu pola yang lebih besar.

Ini bukan sekadar massa mahasiswa yang tertahan polisi. Ini adalah pertemuan antara hak menyampaikan kritik dan kewenangan negara mengatur ruang publik.

Ketegangan semacam ini selalu menyimpan pertanyaan yang sama: ketika negara meminta aksi tetap tertib, apakah ruang untuk menyampaikan ketidakpuasan juga ikut dijamin?

Jawabannya tidak cukup ditemukan dari jumlah personel yang diturunkan atau panjang barikade yang dibangun.

Ia terlihat dari bagaimana kedua pihak mengelola ketegangan.

Jika mahasiswa mampu mempertahankan tuntutan tanpa kekerasan, kritik tetap memiliki legitimasi moral. Jika aparat mampu mengamankan ruang publik tanpa berlebihan membatasi ekspresi, kewenangan negara tetap berada dalam koridor demokrasi.

Sebaliknya, ketika salah satu pihak kehilangan kendali, demonstrasi mudah bergeser dari pertukaran aspirasi menjadi pertarungan kekuasaan di jalanan.

Dan sore itu, Tugu Muda kembali menunjukkan fungsinya.

Bukan hanya sebagai monumen sejarah.

Tetapi sebagai cermin tentang bagaimana sebuah kota memperlakukan suara yang sedang menuntut untuk didengar. @dimas

Tags: aksi mahasiswaBarikade PolisiBEM SemarangRuang SipilTugu Muda

Kamu Melewatkan Ini

GERAM Gelar Aksi 27 Agustus di DPR, Bawa 10 Tuntutan

GERAM Gelar Aksi 27 Agustus di DPR, Bawa 10 Tuntutan

by dimas
Agustus 25, 2026

GERAM akan menggelar aksi 27 Agustus 2026 di DPR dengan sekitar 1.000 massa dan membawa 10 tuntutan terkait demokrasi, ekonomi,...

Polisi Tunda Rekening Donasi AMPB: Beda Istilah, Sama Dampaknya?

Polisi Tunda Rekening Donasi AMPB: Beda Istilah, Sama Dampaknya?

by dimas
Agustus 25, 2026

Polisi menunda transaksi rekening donasi AMPB selama lima hari. Meski disebut bukan penyitaan, dana Rp80,9 juta tetap tak bisa digunakan...

Mahasiswa Solo Raya Menagih Kemerdekaan yang Belum Merata

Mahasiswa Solo Raya Menagih Kemerdekaan yang Belum Merata

by dimas
Agustus 24, 2026

Mahasiswa Solo Raya menagih kemerdekaan yang belum merata, menyoroti korupsi, MBG, Koperasi Desa, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Tabooo.id -...

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id