Tabooo.id: Teknologi – Pernah kepikiran nggak, di tengah ributnya obrolan soal AI yang katanya bakal ngambil alih kerja manusia, justru ada anak-anak disabilitas yang sibuk belajar bikin aplikasi berbasis AI? Di saat banyak orang masih debat panjang soal “AI bahaya atau nggak”, mereka sudah ngoding sederhana, nyusun ide, dan berani mempresentasikan karya. Plot twist banget, ya?
Cerita ini datang dari Terampil di Awan 2.0, program kolaborasi Telkomsel dan Amazon Web Services (AWS) yang fokus memperkuat literasi digital inklusif. Program ini tidak hadir sebagai CSR formalitas yang berhenti di seremoni. Lewat inisiatif ini, Telkomsel dan AWS mengajak 295 siswa disabilitas serta 85 tenaga pendidik dari 33 SLB di Bandung Raya untuk belajar cloud computing dan generative AI dua teknologi yang sering terdengar “ketinggian” bagi banyak orang.
Angka-angka yang bikin kita mikir ulang soal akses digital
Sejak Oktober 2025, para peserta mengikuti pelatihan intensif dengan materi yang relevan dengan dunia digital masa kini. Mereka mempelajari dasar komputasi awan, desain dan pembangunan website, hingga eksplorasi Generative AI menggunakan AWS PartyRock. Beberapa pendidik bahkan melanjutkan pembelajaran ke level berikutnya melalui pelatihan AWS Cloud Practitioner Essentials dan kesempatan mengikuti sertifikasi resmi.
Program ini bukan percobaan pertama. Pada fase sebelumnya di Jabodetabek sepanjang 2023–2024, Telkomsel dan AWS sudah memberdayakan ratusan siswa SLB. Jika digabung, dua fase Terampil di Awan telah menjangkau 750 talenta digital inklusif dan melahirkan puluhan proyek nyata berbasis teknologi.
Angka tersebut terasa penting karena akses pendidikan teknologi bagi penyandang disabilitas di Indonesia masih belum merata. Banyak pihak menganggap teknologi canggih terlalu rumit atau tidak relevan untuk mereka. Melalui program ini, asumsi itu langsung runtuh.
Ketika teknologi bertemu rasa percaya diri
Yang membuat Terampil di Awan 2.0 terasa berbeda bukan cuma materinya, tapi dampak psikologisnya. Program ini membantu peserta membangun rasa percaya diri lewat proses mencipta. Anak-anak yang sering dipandang “terbatas” justru mendapat ruang untuk menunjukkan ide dan sudut pandang mereka.
Deretan proyek yang lahir membuktikan hal itu. Dapoerku hadir sebagai perencana menu masakan dari SLB BC Hikmah. EcoRecycle Hub menawarkan panduan kerajinan tangan ramah lingkungan. Ada pula BeautyBloom, konsultan makeup pribadi berbasis AI, serta MotorMate, asisten modifikasi motor pintar. Ide-ide ini lahir dari pengalaman hidup sehari-hari, lalu bertemu teknologi sebagai alat bantu.
Dalam konteks ini, AI tidak tampil sebagai ancaman. Teknologi justru berfungsi sebagai alat pemberdayaan. Perannya bergeser dari simbol eksklusivitas menjadi jembatan inklusivitas.
Kenapa tren ini penting secara sosial dan psikologis?
Bagi Gen Z dan Milenial, isu inklusivitas bukan lagi jargon kosong. Banyak dari kita tumbuh dengan kesadaran bahwa akses setara itu penting. Sayangnya, praktik di lapangan sering tertinggal dari narasi. Terampil di Awan 2.0 menunjukkan bahwa inklusivitas membutuhkan ekosistem, bukan sekadar niat baik.
Dari sisi psikologis, kesempatan belajar teknologi memberi efek besar bagi siswa disabilitas. Mereka tidak hanya belajar menggunakan tools, tapi juga belajar bahwa ide mereka punya nilai. Saat seseorang merasa mampu mencipta, rasa berdaya ikut tumbuh. Rasa inilah yang sering menjadi fondasi kesehatan mental dan motivasi jangka panjang.
Pendekatan ini juga relevan bagi industri digital. Dunia teknologi membutuhkan perspektif yang beragam. Talenta dengan latar belakang berbeda sering melahirkan solusi yang lebih empatik dan humanis. Telkomsel dan AWS menangkap peluang ini lewat semangat empowering untapped talents dan prinsip no one should be left behind.
Kolaborasi sebagai kunci, bukan aksi tunggal
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menegaskan bahwa perusahaan tidak hanya mengejar bisnis, tetapi juga dampak nyata bagi masyarakat. Ia mendorong generasi muda untuk menguasai cloud dan Gen AI sebagai bekal masa depan. Di sisi lain, AWS sudah lama berinvestasi dalam pengembangan talenta digital Indonesia, dengan jutaan peserta pelatihan sejak 2017.
Pemerintah daerah juga mengambil peran. Kepala Balai Tikomdik Jawa Barat menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor agar talenta-talenta inklusif bisa melangkah lebih jauh, termasuk ke perguruan tinggi dan dunia profesional.
Cerita para peserta memperkuat pesan itu. Liliq, pendiri BeautyBloom, mengaku senang bisa belajar AI sambil mendalami dunia makeup. Lutfi Adam, penggagas MotorMate, merasa bangga saat karyanya mendapat apresiasi. Bagi mereka, teknologi bukan sekadar pelajaran sekolah, melainkan pintu menuju masa depan.
Jadi, apa dampaknya buat kamu?
Terampil di Awan 2.0 mengajak kita mendefinisikan ulang makna “melek teknologi”. Isu ini bukan hanya soal cepat menguasai fitur baru, tapi juga soal siapa yang kita libatkan dalam perjalanan digital. Di tengah gaya hidup serba online, inklusivitas digital mencerminkan nilai sosial kita.
Buat kamu yang tumbuh dengan internet cepat dan AI di genggaman, cerita ini bisa menjadi pengingat. Akses yang terasa biasa bagi kita ternyata masih menjadi privilese bagi banyak orang. Pertanyaannya sekarang bukan lagi AI akan jadi apa di masa depan?, tapi “Siapa saja yang kita ajak masuk ke masa depan itu?”
Karena teknologi paling keren bukan yang paling canggih, melainkan yang memberi ruang bagi semua orang untuk ikut berkembang. @teguh





