Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gua Natal dari Mollo, Debut Budaya Indonesia di Vatikan

by dimas
Desember 16, 2025
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Untuk pertama kalinya, Indonesia melangkah ke panggung budaya Vatikan lewat ajang bergengsi The International Exhibition “100 Presepi in Vaticano”. Pameran 100 Gua Natal ini bukan sekadar ajang partisipasi simbolik. Indonesia datang membawa cerita tentang iman, budaya, alam, dan harapan yang lahir dari pinggiran dunia.

Pameran yang menjadi bagian dari rangkaian Jubilee of Culture ini berlangsung di lengan kiri barisan tiang marmer karya maestro Renaisans, Gian Lorenzo Bernini. Ruang ikonik itu menampilkan lebih dari 132 instalasi gua Natal dari 23 negara. Italia, Jerman, Amerika Serikat, hingga negara-negara Amerika Latin dan Asia ikut meramaikan. Namun, di antara deretan karya tersebut, Indonesia tampil dengan narasi yang tenang, puitis, sekaligus mengusik nurani.

Debut Indonesia di Panggung Budaya Vatikan

Partisipasi Indonesia terasa istimewa karena bertepatan dengan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Takhta Suci. Delegasi Indonesia dipimpin Nina Handoko, sementara karya utama lahir dari tangan seniman Yogyakarta Maria Tri Sulistyani, pendiri Papermoon Puppet Theatre.

Sejak 2018, Vatikan rutin menggelar “100 Presepi in Vaticano” di masa kepausan Paus Fransiskus. Pameran ini tidak berhenti pada estetika Natal. Vatikan justru mendorong refleksi tentang makna kelahiran Kristus sebagai kritik terhadap konsumerisme dan kemewahan yang sering menutupi nilai kemanusiaan.

Dalam konteks itulah karya Indonesia menemukan tempatnya. Ia tidak berteriak, tetapi sulit diabaikan.

Ini Belum Selesai

Suran Agung PSHW ke-123: Madiun Mengawal Persaudaraan

TABOOO Corner Hadir di Winongo, Buka Ruang Membaca Realitas

Waving Hope: Natal dari Pegunungan Mollo

Instalasi Indonesia berjudul “Waving Hope – Menenun Pengharapan”, selaras dengan tema Jubileum 2025, Peregrini in Spe atau Peziarah Pengharapan. Karya berukuran 135 x 135 x 65 cm ini menggeser lanskap Natal dari kandang Betlehem ke pegunungan batu Mollo, Nusa Tenggara Timur.

Maria menempatkan kisah kelahiran Yesus di tengah perempuan-perempuan penenun Mollo. Mereka hidup sederhana dan kerap terpinggirkan, tetapi setia menjaga alam dan identitas budaya. Keluarga Kudus tidak berdiri sendiri. Tangan-tangan terbuka menopang mereka tangan para penenun, petani, gembala, dan pedagang kecil.

“Tangan melambangkan gerak dan kehidupan. Harapan hanya lahir jika kita mau bertindak,” ujar Maria.

Melalui tafsir ini, Natal hadir sebagai peristiwa yang rapuh, lahir di ruang yang retak dan penuh luka.

Iman, Alam, dan Kritik yang Lembut

Pilihan Mollo bukan kebetulan. Wilayah ini menyimpan sejarah panjang perjuangan perempuan adat melawan tambang marmer yang mengancam gunung, air, dan ruang hidup sejak 1999.

Ketua Steering Committee delegasi Indonesia, Romo Budi Subanar SJ, menegaskan bahwa narasi ini mencerminkan inti Natal. Yesus lahir di tengah ketidakamanan. Hari ini, pesan itu hidup kembali di tengah mereka yang menjaga tanah dan hutan demi masa depan.

Tenun Mollo yang membalut Keluarga Kudus menjadi pengingat bahwa iman selalu bersinggungan dengan keadilan sosial dan keberlanjutan budaya.

Diplomasi Budaya yang Bergerak

Partisipasi Indonesia juga melibatkan Program Studi Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kolaborasi ini mempertemukan seniman, akademisi, dan diplomat dalam satu bahasa: budaya.

Cerita Indonesia tidak berhenti di ruang pamer. Papermoon Puppet Theatre menghidupkan instalasi ini lewat pertunjukan teater boneka di KBRI Takhta Suci dan Colegio Verbo Divino. Di atas panggung, kisah penenun Mollo bergerak, menari, dan bersuara di hadapan komunitas internasional.

Lebih dari Sekadar Gua Natal

Indonesia tidak datang ke Vatikan dengan kemilau emas. Indonesia datang dengan cerita tentang perempuan, alam, dan harapan yang dirajut pelan-pelan.

Di antara ratusan gua Natal dunia, karya Indonesia meninggalkan satu pertanyaan sunyi: jika Natal lahir di tengah ketidakadilan, sudah sejauh mana kita menjaga dunia tempat harapan itu bertumbuh? Sebab tanpa itu, perayaan Natal mungkin hanya tinggal dekorasi indah dipandang, tetapi kosong makna. @dimas

Kamu Melewatkan Ini

TABOOO Cultural Production: Dari Budaya Menjadi Karya

TABOOO Cultural Production: Dari Budaya Menjadi Karya

by dimas
Juni 28, 2026

TABOOO Cultural Production mengubah budaya lokal Madiun Raya menjadi karya, pengetahuan, dan intellectual property melalui kolaborasi masyarakat. Tabooo.id - Sebuah...

Raden Ronggo Prawirodirjo III: Api Perlawanan dari Madiun

Raden Ronggo Prawirodirjo III: Api Perlawanan dari Madiun

by dimas
Juni 27, 2026

Raden Ronggo Prawirodirjo III menjadi simbol perlawanan dari Madiun. Kisahnya membuktikan bahwa harga diri Jawa tak pernah mudah ditaklukkan. Tabooo.id...

Suran Agung PSHW TM 2026: Keheningan yang Menyatukan Persaudaraan

Suran Agung PSHW ke-123: Madiun Mengawal Persaudaraan

by dimas
Juni 27, 2026

Suran Agung PSHW ke-123 menjadi momentum mempererat persaudaraan melalui konsep Purabaya, sekaligus mengajak seluruh warga menjaga ketertiban dan zero insiden....

Next Post
Libur Nataru, Dishub Magelang Siapkan Rekayasa Lalin ke Borobudur

Libur Nataru, Dishub Magelang Siapkan Rekayasa Lalin ke Borobudur

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id