Tabooo.id: Global – Untuk pertama kalinya, Indonesia melangkah ke panggung budaya Vatikan lewat ajang bergengsi The International Exhibition “100 Presepi in Vaticano”. Pameran 100 Gua Natal ini bukan sekadar ajang partisipasi simbolik. Indonesia datang membawa cerita tentang iman, budaya, alam, dan harapan yang lahir dari pinggiran dunia.
Pameran yang menjadi bagian dari rangkaian Jubilee of Culture ini berlangsung di lengan kiri barisan tiang marmer karya maestro Renaisans, Gian Lorenzo Bernini. Ruang ikonik itu menampilkan lebih dari 132 instalasi gua Natal dari 23 negara. Italia, Jerman, Amerika Serikat, hingga negara-negara Amerika Latin dan Asia ikut meramaikan. Namun, di antara deretan karya tersebut, Indonesia tampil dengan narasi yang tenang, puitis, sekaligus mengusik nurani.
Debut Indonesia di Panggung Budaya Vatikan
Partisipasi Indonesia terasa istimewa karena bertepatan dengan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Takhta Suci. Delegasi Indonesia dipimpin Nina Handoko, sementara karya utama lahir dari tangan seniman Yogyakarta Maria Tri Sulistyani, pendiri Papermoon Puppet Theatre.
Sejak 2018, Vatikan rutin menggelar “100 Presepi in Vaticano” di masa kepausan Paus Fransiskus. Pameran ini tidak berhenti pada estetika Natal. Vatikan justru mendorong refleksi tentang makna kelahiran Kristus sebagai kritik terhadap konsumerisme dan kemewahan yang sering menutupi nilai kemanusiaan.
Dalam konteks itulah karya Indonesia menemukan tempatnya. Ia tidak berteriak, tetapi sulit diabaikan.
Waving Hope: Natal dari Pegunungan Mollo
Instalasi Indonesia berjudul “Waving Hope – Menenun Pengharapan”, selaras dengan tema Jubileum 2025, Peregrini in Spe atau Peziarah Pengharapan. Karya berukuran 135 x 135 x 65 cm ini menggeser lanskap Natal dari kandang Betlehem ke pegunungan batu Mollo, Nusa Tenggara Timur.
Maria menempatkan kisah kelahiran Yesus di tengah perempuan-perempuan penenun Mollo. Mereka hidup sederhana dan kerap terpinggirkan, tetapi setia menjaga alam dan identitas budaya. Keluarga Kudus tidak berdiri sendiri. Tangan-tangan terbuka menopang mereka tangan para penenun, petani, gembala, dan pedagang kecil.
“Tangan melambangkan gerak dan kehidupan. Harapan hanya lahir jika kita mau bertindak,” ujar Maria.
Melalui tafsir ini, Natal hadir sebagai peristiwa yang rapuh, lahir di ruang yang retak dan penuh luka.
Iman, Alam, dan Kritik yang Lembut
Pilihan Mollo bukan kebetulan. Wilayah ini menyimpan sejarah panjang perjuangan perempuan adat melawan tambang marmer yang mengancam gunung, air, dan ruang hidup sejak 1999.
Ketua Steering Committee delegasi Indonesia, Romo Budi Subanar SJ, menegaskan bahwa narasi ini mencerminkan inti Natal. Yesus lahir di tengah ketidakamanan. Hari ini, pesan itu hidup kembali di tengah mereka yang menjaga tanah dan hutan demi masa depan.
Tenun Mollo yang membalut Keluarga Kudus menjadi pengingat bahwa iman selalu bersinggungan dengan keadilan sosial dan keberlanjutan budaya.
Diplomasi Budaya yang Bergerak
Partisipasi Indonesia juga melibatkan Program Studi Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kolaborasi ini mempertemukan seniman, akademisi, dan diplomat dalam satu bahasa: budaya.
Cerita Indonesia tidak berhenti di ruang pamer. Papermoon Puppet Theatre menghidupkan instalasi ini lewat pertunjukan teater boneka di KBRI Takhta Suci dan Colegio Verbo Divino. Di atas panggung, kisah penenun Mollo bergerak, menari, dan bersuara di hadapan komunitas internasional.
Lebih dari Sekadar Gua Natal
Indonesia tidak datang ke Vatikan dengan kemilau emas. Indonesia datang dengan cerita tentang perempuan, alam, dan harapan yang dirajut pelan-pelan.
Di antara ratusan gua Natal dunia, karya Indonesia meninggalkan satu pertanyaan sunyi: jika Natal lahir di tengah ketidakadilan, sudah sejauh mana kita menjaga dunia tempat harapan itu bertumbuh? Sebab tanpa itu, perayaan Natal mungkin hanya tinggal dekorasi indah dipandang, tetapi kosong makna. @dimas





