Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bayang-Bayang Riza Chalid dan Pidana 18 Tahun untuk Sang Anak

by dimas
Februari 14, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Ruang sidang itu terasa dingin, tetapi hawa yang menyelimuti ruangan jauh lebih berat dari sekadar pendingin udara. Seorang jaksa berdiri tegak, membuka berkas tebal, lalu mengucapkan satu kalimat yang segera mengubah suasana.

“Muhamad Kerry menggunakan pengaruh Mohamad Riza Chalid untuk menekan pejabat Pertamina.”

Nada suaranya datar, tetapi maknanya menghantam keras dan mengguncang ruang yang sebelumnya sunyi.

Di kursi terdakwa, Muhamad Kerry Adrianto Riza menatap lurus ke depan. Ia tidak banyak bergerak, seolah berusaha menjaga ketenangan yang rapuh. Sesekali, napasnya terlihat berat. Nama ayahnya terus bergema di ruang sidang, seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Publik telah lama mengenal Mohamad Riza Chalid sebagai figur kuat di bisnis minyak Indonesia. Reputasi itu tidak lahir dalam semalam, melainkan terbentuk melalui jaringan panjang, kedekatan, dan pengaruh yang melintasi banyak rezim.

Hari itu, jaksa menuntut Kerry 18 tahun penjara. Persidangan tersebut tidak sekadar mengadili tindakan pidana, melainkan membuka lapisan hubungan antara kekuasaan dan bisnis. Dari sana, publik mulai melihat bagaimana pengaruh bisa bekerja tanpa harus tampil di permukaan. Negara, dalam konteks ini, tampak seperti aktor yang tidak sepenuhnya bebas menentukan langkahnya sendiri.

Ini Belum Selesai

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

Bersih Desa Winongo, Tradisi yang Menjaga Identitas

Kepentingan yang Datang Sebelum Kebutuhan

Rencana penyewaan terminal bahan bakar minyak di Merak pada awalnya tampak seperti keputusan bisnis biasa. Dokumen disiapkan. Proposal diajukan. Pembahasan berlangsung melalui jalur resmi.

Namun, jaksa menghadirkan gambaran yang berbeda.

Pertamina ternyata tidak memiliki kebutuhan mendesak atas terminal tersebut. Distribusi berjalan stabil. Operasional tidak mengalami gangguan. Situasi juga tidak menunjukkan adanya krisis yang memerlukan tambahan fasilitas segera.

Meski kondisi normal, proyek tetap bergerak maju.

Menurut jaksa, Kerry memanfaatkan jalur tidak resmi melalui orang kepercayaan ayahnya, Irawan Prakoso. Ia mendekati Hanung Budya Yuktyanta, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, lalu mendorong percepatan kerja sama.

Tekanan itu tidak hadir dalam bentuk ancaman terbuka. Sebaliknya, pengaruh bekerja melalui pemahaman diam-diam. Di industri minyak, nama Mohamad Riza Chalid membawa arti khusus. Banyak pihak memahami bahwa nama tersebut sering membuka akses yang tertutup bagi orang lain.

Situasi itu membuat keputusan berubah arah, bahkan tanpa perintah langsung.

Kontrak yang Mendahului Kepemilikan

Keanehan berikutnya muncul pada waktu penandatanganan kerja sama.

Saat kontrak diteken, terminal BBM Merak belum berada di tangan Kerry. Kepemilikan aset masih tercatat atas nama PT Oil Tanking Merak. Walaupun demikian, perjanjian tetap berjalan tanpa penundaan.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Kerry mengajukan pinjaman bank untuk membeli terminal tersebut. Ia membutuhkan jaminan kuat agar kredit dapat disetujui.

Kontrak dengan Pertamina kemudian menjadi alat yang sangat menentukan.

Jaksa menjelaskan bahwa perjanjian tersebut meningkatkan kepercayaan pihak bank. Selain itu, dukungan personal dari Riza Chalid memperkuat keyakinan kreditur terhadap rencana akuisisi tersebut.

Rangkaian ini menciptakan situasi yang tidak lazim. Negara memberikan kontrak kepada pihak yang bahkan belum memiliki aset sepenuhnya. Dengan demikian, kontrak itu membantu mewujudkan kepemilikan yang sebelumnya belum ada.

Realitas bisnis dan keputusan negara saling mendahului.

Jalur Sunyi yang Menggeser Sistem

Rangkaian peristiwa berikutnya tidak berlangsung di ruang terbuka. Komunikasi terjadi melalui jalur yang tidak selalu tercatat secara formal. Irawan Prakoso meminta percepatan. Setelah itu, Hanung Budya dan Alfian Nasution menyampaikan permintaan kepada Direktur Utama Pertamina saat itu, Karen Galaila.

Tujuan akhirnya adalah penunjukan langsung PT Oil Tanking Merak.

Padahal, perusahaan tersebut tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan aturan.

Meski syarat tidak terpenuhi, proses tetap berjalan.

Perubahan tidak terjadi secara dramatis. Sistem masih terlihat utuh. Prosedur masih tampak berjalan. Namun, arah keputusan telah bergeser.

Di titik itulah, negara mulai kehilangan sesuatu yang lebih penting dari sekadar uang.

Ia kehilangan ketegasan.

Luka yang Tercatat dalam Angka

Dampak finansial dari keputusan tersebut sangat besar. Penyewaan terminal menyebabkan kerugian Rp 2,9 triliun.

Selain itu, pengadaan kapal milik Kerry menambah kerugian tambahan. Nilainya mencapai hampir 10 juta dollar AS dan lebih dari Rp 1 miliar.

Ketika seluruh komponen digabungkan, jumlahnya melonjak drastis.

Total kerugian negara mencapai Rp 285,1 triliun.

Besarnya angka itu sulit dipahami secara langsung. Dana sebesar itu dapat membangun fasilitas kesehatan, memperbaiki infrastruktur desa, dan membuka peluang pendidikan bagi jutaan orang.

Namun, dalam kasus ini, angka tersebut berubah menjadi simbol kehilangan.

Sosok yang Hadir dan Sosok yang Hilang

Kerry kini menghadapi proses hukum secara langsung. Ia duduk di kursi terdakwa, mendengar tuntutan, dan menunggu putusan.

Sementara itu, nama Mohamad Riza Chalid terus disebut dalam persidangan.

Jaksa menjelaskan keterlibatannya. Pengaruhnya juga digambarkan secara rinci. Perannya disebut sebagai faktor penting dalam proses yang terjadi.

Namun, sosok itu belum hadir di ruang sidang.

Kondisi tersebut menciptakan kontras yang tajam. Satu orang menghadapi hukum secara langsung, sementara figur lain masih berada di luar jangkauan.

Situasi ini memunculkan pertanyaan yang sulit dihindari.

Apakah keadilan selalu menjangkau semua pihak dengan kekuatan yang sama?

Negara, Sistem, dan Pengaruh

Kasus ini memperlihatkan bagaimana pengaruh dapat membentuk keputusan tanpa terlihat secara kasat mata. Sistem tetap berdiri. Aturan tetap tertulis. Prosedur tetap dijalankan.

Namun, kepentingan tertentu mampu mengubah arah keputusan.

Fenomena tersebut tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui jaringan, hubungan, dan kedekatan yang berlangsung lama.

Dalam kondisi seperti itu, negara menghadapi tantangan yang tidak selalu terlihat.

Bukan ancaman dari luar, melainkan tekanan dari dalam.

Tangki yang Membisu, Pertanyaan yang Hidup

Terminal BBM Merak masih berdiri kokoh hingga hari ini. Struktur baja itu tetap diam. Tidak ada suara yang keluar dari sana.

Namun, kasus ini meninggalkan pertanyaan yang terus hidup.

Seberapa kuat negara mempertahankan independensinya?

Sampai di mana pengaruh pribadi dapat mengubah keputusan publik?

Pada akhirnya, satu pertanyaan paling mendasar terus muncul, Apakah negara benar-benar memegang kendali penuh, atau justru berjalan di bawah bayang-bayang kekuatan lain yang tidak terlihat? @dimas

Tags: EnergiKasuskekuasaanKerry AdriantoKorupsi di IndonesiaKriminal & HukumminyakPertaminaRiza ChalidSkandal

Kamu Melewatkan Ini

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

by dimas
Juni 21, 2026

Memuliakan kekuasaan atau memuliakan manusia? Ketika rakyat merasa terabaikan, kontrak sosial mulai retak, kepercayaan publik memudar, dan demokrasi kehilangan fondasi...

Negara Hukum atau Negara Elite?

Negara Hukum atau Negara Elite?

by dimas
Juni 18, 2026

Negara hukum seharusnya melindungi rakyat. Namun ketika elite lebih menentukan arah kebijakan, demokrasi menghadapi krisis legitimasi dan kepercayaan publik. Tabooo.id...

Feodalisme, Kekuasaan dan Ketakutan untuk Berpikir

Feodalisme, Kekuasaan dan Ketakutan untuk Berpikir

by dimas
Juni 13, 2026

Feodalisme masih membentuk relasi kuasa di Indonesia. Dari loyalitas buta hingga anti-diskusi, warisan ini terus menghambat perubahan. Tabooo.id - Bayangkan...

Next Post
Hoaks LPG 3 Kg Jelang Ramadhan Yang Bikin Warga Panik

Hoaks LPG 3 Kg Jelang Ramadhan Yang Bikin Warga Panik

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id