Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Banjir Merah di Solo Bukan Kebetulan, Ini Akumulasi Kelalaian

by dimas
April 16, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality Regional

Tabooo.id: Regional – Air banjir biasanya berwarna keruh kecokelatan. Namun di Kelurahan Joyotakan, Kecamatan Serengan, Kota Solo, air justru berubah menjadi merah mencolok. Video kejadian ini langsung menyebar dan menarik perhatian publik pada Rabu (15/4/2026).

Warga di RT 3 RW 6 menyaksikan genangan yang tampak seperti larutan pewarna. Kondisi ini membuat banyak orang bertanya-tanya.

Limbah Diduga Jadi Sumber Warna

Lurah Joyotakan, Bambang Kristianto, menjelaskan hasil penelusuran di lokasi. Ia menemukan plastik berisi zat pewarna di sekitar aliran Sungai Wingko.

“Kita telusuri, di sekitar sini ada plastik, di dalamnya ada semacam pewarna yang memudar,” ujar Bambang.

Ia menilai zat tersebut bercampur dengan air banjir hingga menghasilkan warna merah yang mencolok.

Ini Belum Selesai

Ketika Polisi Dilarang Nge-Vape, Siapa yang Mengawasi Pengawas?

Banjir Lahar Dingin Semeru Jebol Tanggul, Akses Jalan Lumajang Terputus

“Sehingga mungkin karena pekatnya pewarna itu sampai merata seperti ini,” lanjutnya.

Debit Sungai Tinggi Hambat Aliran

Debit Sungai Wingko yang masih tinggi membuat air tidak bisa mengalir keluar. Petugas juga menutup pintu air pada pagi hari untuk mengendalikan arus.

Akibatnya, air tertahan di jalan hingga sore. Hingga pukul 17.00 WIB, genangan masih belum surut.

“Air ini sudah terlanjur tidak bisa keluar. Nanti kalau sudah surut, kita buka, airnya masuk lagi,” jelas Bambang.

Warga Sudah Lama Mengetahui Sumbernya

Warga setempat sebenarnya sudah lama mengetahui keberadaan bahan pewarna tersebut. Rusdi, warga RT 3 RW 6, menceritakan awal mula temuan itu.

“Itu sudah lama sekali barang itu jatuh, ada mobil lewat. Sama warga dipinggirkan,” ujarnya.

“Itu kan lama sekali kering. Kena air jadi merah,” tambahnya.

Ia menyebut kendaraan pengangkut tekstil sering melintas di kawasan tersebut.

Aktivitas Tetap Berjalan, Belum Ada Keluhan

Meski warna air mencolok, warga tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Hingga kini, tidak ada laporan gangguan kesehatan.

“Belum ada terkait masalah kesehatan,” kata Bambang.

Namun, kondisi ini tetap memunculkan kekhawatiran, terutama terkait dampak jangka panjang.

Ribuan Warga Terdampak Banjir

BPBD Jawa Tengah mencatat dampak banjir hingga Rabu pukul 18.00 WIB. Banjir menjangkau 13 kelurahan di empat kecamatan.

Sebanyak 1.083 kepala keluarga terdampak dan 109 jiwa mengungsi. Ketinggian air berkisar antara 20 hingga 50 sentimeter.

Sebagian wilayah mulai surut. Warga bersama petugas langsung membersihkan sisa genangan.

Dinas Sosial membuka dapur umum di Joyotakan. BPBD, Dinsos Jawa Tengah, dan PMI Surakarta juga menyalurkan bantuan makanan siap saji.

Ini Bukan Sekadar Warna Air

Air merah ini terlihat seperti fenomena unik. Namun, kejadian ini menunjukkan persoalan yang lebih dalam.

Limbah yang dibiarkan, pengawasan yang lemah, dan kondisi alam bertemu dalam satu waktu. Hasilnya langsung terlihat di depan mata.

Satu karung pewarna mampu mengubah warna air satu wilayah. Lalu, apa yang terjadi jika sumber lain ikut tercampur?

Dampak ke Masyarakat

Warga tidak hanya menghadapi genangan. Mereka juga menghadapi ketidakpastian soal keamanan lingkungan.

Air yang berubah warna memicu rasa waswas, meski belum muncul dampak kesehatan. Ini menjadi peringatan nyata bagi semua pihak.

Analisis Tabooo

Kejadian ini bukan peristiwa tunggal. Pola serupa sering muncul di berbagai daerah.

Lingkungan menyimpan masalah kecil yang sering diabaikan. Saat kondisi ekstrem datang, masalah itu langsung terlihat.

Warga sebenarnya sudah mengetahui sumbernya sejak lama. Namun, perhatian baru muncul setelah video viral.

Ini yang perlu disorot. Masalah lama sering menunggu momen viral agar dianggap penting.

Penutup

Banjir di Solo mungkin segera surut. Namun, persoalan di balik warna merah ini belum tentu selesai.

Apakah kita akan memperbaiki sumber masalahnya, atau menunggu kejadian serupa terulang?

Tags: banjir soloLingkungan Hidup

Kamu Melewatkan Ini

Kalam Salan Gunakan Bahasa Jawa untuk Desak Prabowo Atasi Kabut Asap

Kalam Salan Gunakan Bahasa Jawa untuk Desak Prabowo Atasi Kabut Asap

by dimas
Oktober 24, 2026

Kalam Salan menggunakan bahasa Jawa untuk mendesak Prabowo mengatasi kebakaran hutan dan lahan Indonesia yang memicu kabut asap lintas negara...

Karhutla Kalsel: 11 Perusahaan Disorot, Sanksi Mengintai

Karhutla Kalsel: 11 Perusahaan Disorot, Sanksi Mengintai

by dimas
Agustus 24, 2026

Karhutla Kalsel menyeret 11 perusahaan dalam sorotan. Kementerian LH mengusut dugaan pembakaran lahan dengan ancaman sanksi hingga Rp15 triliun. Tabooo.id...

Target Bebas Gunungan Sampah 2027, Realistis atau Sekadar Janji?

Target Bebas Gunungan Sampah 2027, Realistis atau Sekadar Janji?

by dimas
Agustus 13, 2026

Target bebas gunungan sampah pada akhir 2027 dinilai ambisius. Mampukah pemerintah membenahi sistem pengelolaan sampah atau sekadar menghilangkan tumpukan? Tabooo.id...

Next Post
Lagu “Erika” Viral: Candaan Lama atau Cara Lama Melecehkan?

Lagu “Erika” Viral: Candaan Lama atau Cara Lama Melecehkan?

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id