Selasa, April 21, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Banjir Solo: Bencana Alam atau Kegagalan Mitigasi yang Berulang?

by dimas
April 15, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Hujan turun semalaman. Awalnya, air datang perlahan. Namun, dalam hitungan jam, air sudah masuk ke dalam rumah warga.
Bagi masyarakat Solo, ini bukan kejadian baru. Justru, ini terasa seperti siklus yang terus berulang.

Hujan Deras, Kota Kembali Terendam

Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Solo Raya sejak Selasa (14/4/2026) malam. Akibatnya, air mulai menggenang di permukiman hingga Rabu (15/4/2026) dini hari.

Menurut Humas Basarnas Solo, Aditya, sedikitnya delapan kelurahan terdampak.

“Yang terdampak ada sejumlah kelurahan, ketinggian bervariasi, salah satunya setinggi panggul orang dewasa, ada yang 80 sampai 120 sentimeter,” ujarnya.

Adapun wilayah terdampak meliputi Pajang, Joyosuran, Tipes, Joyontakan, Bumi, Sondakan, Kratonan, dan Panularan.

Ini Belum Selesai

Ketika Kepala Desa Pegang Miliaran, Tapi Negara Minim Membimbing

Kartini Dikenang, Tapi Mengapa Ketimpangan Perempuan Masih Nyata?

Warga Mengungsi, Aktivitas Terhenti

Ketika air terus naik, warga segera meninggalkan rumah. Sebagian kemudian mengungsi ke tempat yang lebih aman, termasuk Kantor Kelurahan Tipes.

Sementara itu, data sementara menunjukkan ratusan kepala keluarga terdampak. Di Pajang, puluhan rumah terendam. Di sisi lain, Panularan mencatat ratusan keluarga terdampak.

Akibatnya, aktivitas warga langsung terhenti. Sekolah tidak berjalan. Pekerjaan tertunda. Bahkan, roda ekonomi ikut melambat.

Ini Bukan Sekadar Hujan

Memang, hujan deras menjadi pemicu utama. Namun demikian, hujan bukan fenomena baru.

Lalu, muncul pertanyaan penting:
jika titik genangan selalu sama, apakah ini masih bisa dianggap murni faktor alam?

Di sinilah perbedaannya terlihat. Hujan memang datang dari alam. Akan tetapi, banjir terjadi karena sistem kota tidak siap menampungnya.

Masalah yang Sudah Lama Diketahui

Sebenarnya, penyebab banjir di Solo sudah lama teridentifikasi.
Pertama, sistem drainase tidak mampu menampung debit air tinggi.
Kedua, aliran sungai mengalami pendangkalan dan penyempitan.
Selain itu, alih fungsi lahan mengurangi daya serap air secara signifikan.

Di sisi lain, permukiman terus berkembang di kawasan rawan banjir.
Lebih jauh lagi, pembaruan peta risiko bencana berjalan lambat.

Padahal, mitigasi harus dimulai dari data yang akurat. Tanpa itu, kebijakan justru berpotensi memperparah situasi.

Respons Cepat, Pencegahan Tertinggal

Setiap kali banjir terjadi, respons darurat bergerak cepat. Petugas segera melakukan evakuasi dan menyalurkan bantuan.

Namun, di balik itu, muncul pola yang sama. Penanganan selalu fokus saat bencana terjadi. Sebaliknya, upaya pencegahan sering tertinggal.

Akibatnya, kota hanya bereaksi, bukan mengantisipasi.

Padahal, langkah pencegahan sudah jelas. Mulai dari normalisasi sungai, perbaikan drainase, hingga pembangunan sumur resapan.

Selain itu, pemerintah perlu menegakkan tata ruang berbasis risiko dan memperkuat sistem peringatan dini.

Warga Selalu Menanggung Dampak

Banjir tidak hanya membawa air. Lebih dari itu, banjir membawa kerugian yang nyata.

Barang rusak. Penghasilan hilang. Anak-anak tidak bisa sekolah.
Selain itu, rasa aman warga ikut terganggu.

Ini dampaknya buat kamu:
ketika kota gagal mengelola risiko, siapa pun bisa menjadi korban berikutnya.

Kota yang Tidak Belajar dari Pola

Jika kejadian yang sama terus berulang di tempat yang sama, maka itu bukan kebetulan. Sebaliknya, itu adalah pola.

Sayangnya, pola ini terus muncul tanpa perbaikan signifikan.

Yang perlu disadari, masalahnya bukan pada kurangnya pengetahuan. Justru, masalahnya terletak pada minimnya tindakan nyata.

Kalimat yang perlu diingat, banjir bukan lagi kejadian mendadak, melainkan kegagalan yang terus berulang.

Penutup

Air mungkin akan surut dalam beberapa hari. Namun, persoalan utamanya tidak ikut hilang.

Jadi, apakah ini akan terus disebut bencana alam?
Atau, sudah saatnya kita mengakui adanya kegagalan dalam sistem mitigasi?

Pada akhirnya, hujan memang tidak bisa dihentikan.
Namun demikian, dampaknya seharusnya bisa dikendalikan. @dimas

Tags: Alih Fungsi LahanBanjir 2026banjir solobencana banjirCuaca EkstremDrainase KotaKota Rawan BanjirKrisis LingkunganMitigasi BencanaNormalisasi SungaiPengelolaan AirPerubahan IklimResapan AirSolo RayaTata KotaTata Ruang KotaUrban Flooding

Kamu Melewatkan Ini

Dari Akuarium ke Bencana Ekologi: Sapu-sapu Tak Lagi Bisa Dikendalikan?

Dari Akuarium ke Bencana Ekologi: Sapu-sapu Tak Lagi Bisa Dikendalikan?

by dimas
April 20, 2026

Di tengah upaya pemerintah menjaga keseimbangan ekosistem sungai melalui berbagai kebijakan dan operasi pembersihan, satu pertanyaan besar muncul jika ikan...

Hutan Kalimantan Rusak: Paru-Paru Dunia Kini di Ujung Napas?

Hutan Kalimantan Rusak: Paru-Paru Dunia Kini di Ujung Napas?

by dimas
April 18, 2026

Tabooo.id: Talk - Hutan Kalimantan pernah jadi kebanggaan dunia. Kini, kondisinya berubah drastis. Kita tidak lagi bicara potensi, tetapi soal...

Kebakaran Gambut Datang Lebih Dini, Ancaman El Nino Kian Nyata

Kebakaran Gambut Datang Lebih Dini, Ancaman El Nino Kian Nyata

by dimas
April 18, 2026

Tabooo.id: Nasional - Kebakaran lahan gambut mulai muncul bahkan sebelum puncak musim kemarau 2026 tiba. Kondisi ini langsung memicu alarm...

Next Post
Mobilitas Warga Solo Lumpuh: Banjir Datang, Kemacetan Mengular

Mobilitas Warga Solo Lumpuh: Banjir Datang, Kemacetan Mengular

Recommended

Max Havelaar: Film Kolonial Dulu Ditakuti Penguasa, Kini Menampar Zaman Lagi

Max Havelaar: Film Kolonial Dulu Ditakuti Penguasa, Kini Menampar Zaman Lagi

April 21, 2026
Bisnis Gelap Elpiji Rp1 Miliar: Ketika Subsidi Berubah Jadi Ladang Uang

Bisnis Gelap Elpiji Rp1 Miliar: Ketika Subsidi Berubah Jadi Ladang Uang

April 17, 2026

Popular

Mengenal Pingitan: Ruang Sunyi yang Membentuk Kartini dan Gagasan Emansipasi

Mengenal Pingitan: Ruang Sunyi yang Membentuk Kartini dan Gagasan Emansipasi

April 20, 2026

Beasiswa Dian Sastro 2026 Dibuka, Ini Syaratnya

April 20, 2026

Harga BBM Non-Subsidi Melonjak, Transparansi Pemerintah Dipertanyakan

April 20, 2026

Cadangan Gas Raksasa di Indonesia: Siap Jadi Kekuatan Dunia atau Cuma Wacana?

April 20, 2026

Hari Buruh: Perayaan atau Sekadar Jeda dari Ketidakadilan?

April 20, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id