Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Lagu “Erika” Viral: Candaan Lama atau Cara Lama Melecehkan?

April 16, 2026
in Nasional, News
A A
Home News Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Satu lagu memicu gelombang reaksi.
Awalnya hiburan, lalu berubah jadi kegaduhan nasional.
Jadi, kenapa ruang akademik masih bisa kecolongan hal seperti ini?

Bukan Sekadar Viral, Ini Titik Awal Kegaduhan

Institut Teknologi Bandung (ITB) langsung merespons cepat setelah konten Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT-ITB) viral. Video itu menampilkan lagu “Erika” yang memicu kritik karena memuat unsur kekerasan seksual verbal.

Akibatnya, publik bereaksi keras. Banyak pihak menilai lirik tersebut tidak lagi sejalan dengan norma sosial saat ini.

Karena itu, ITB mengambil sikap tegas.

“ITB memandang peristiwa ini sebagai momentum penting untuk memperkuat budaya kampus,” ujar Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, Nurlaela Arief.

BacaJuga

AS dan Iran Kembali Berunding, Tapi Dunia Tak Yakin Perang Akan Berakhir

Gas Tidak Meledak, Tapi Harganya Bikin Rumah Tangga Diam-Diam Panik

Dari Panggung Hiburan ke Permintaan Maaf Terbuka

Setelah polemik membesar, HMT-ITB segera menyampaikan permintaan maaf. Mereka mengakui konten tersebut tidak mencerminkan nilai akademik.

Selain itu, mereka langsung menarik seluruh video dan audio dari berbagai platform. Langkah ini menunjukkan tanggung jawab sekaligus evaluasi internal.

Namun demikian, mereka juga mengungkap fakta penting. Lagu tersebut berasal dari era lama. Meski begitu, mereka mengakui kelalaian karena tetap menampilkannya tanpa mempertimbangkan perubahan nilai sosial.

“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya,” tulis HMT-ITB.

Kampus Bergerak: Etika Kini Tak Bisa Ditawar

Selanjutnya, ITB tidak berhenti pada klarifikasi. Kampus langsung memperkuat sistem pembinaan mahasiswa.

Pertama, ITB mendorong literasi media sosial. Kedua, kampus mempertegas etika komunikasi digital. Selain itu, pembinaan karakter juga diperluas.

Melalui Direktorat Persiapan Bersama, mahasiswa belajar menyampaikan pendapat secara kritis sekaligus santun. Dengan demikian, kampus ingin membentuk budaya digital yang lebih sehat.

“ITB ingin menghadirkan ekosistem pendidikan yang unggul dan sehat secara sosial,” tegas Nurlaela.

Saat Sistem Diuji: Satgas Jadi Garda Terdepan

Di sisi lain, ITB juga mengandalkan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK). Tim ini berperan aktif dalam perlindungan sivitas akademika.

Satgas menyediakan kanal konsultasi. Selain itu, mereka menerima laporan dan mendampingi korban.

Lebih jauh, ITB juga mewajibkan materi pencegahan kekerasan seksual bagi mahasiswa baru. Dengan langkah ini, kampus ingin membangun kesadaran sejak awal.

Satu Video, Satu Hari, Ledakan Reaksi Publik

Semua bermula pada 13 April 2026. Saat itu, video Orkes Semi Dangdut HMT-ITB menyebar cepat di media sosial.

Awalnya terlihat biasa. Namun kemudian, publik menyoroti lirik lagu “Erika” yang dianggap melecehkan perempuan.

Akibatnya, reaksi muncul secara masif. Dalam waktu singkat, tekanan publik meningkat dan mendorong kampus untuk bertindak.

Ini Bukan Lagu Lama. Ini Cara Lama yang Belum Selesai

Masalahnya bukan sekadar lagu lama.
Sebaliknya, ini soal cara lama yang belum ditinggalkan.

Artinya, sebagian ruang akademik masih gagal membaca perubahan nilai sosial. Bahkan, di era digital, kesalahan kecil bisa langsung membesar.

Yang lebih penting, ini jadi pengingat: konteks selalu berubah, tapi sensitivitas sering tertinggal.

Yang Terasa Sepele, Bisa Jadi Luka Kolektif

Sekilas terlihat ringan. Namun dampaknya tidak sederhana.

Apa yang dianggap candaan di satu ruang, bisa melukai banyak orang di ruang lain. Terlebih lagi, media sosial mempercepat penyebaran dampak itu.

Karena itu, semua orang perlu lebih sadar. Di era digital, satu konten bisa berdampak luas dalam hitungan detik.

Kampus Sudah Bergerak, Tapi Apakah Kita Ikut Berubah

Kini, kampus sudah bergerak. Sistem mulai diperbaiki. Edukasi juga diperkuat.

Namun demikian, perubahan tidak berhenti di institusi. Semua pihak harus ikut berbenah.

Sebab pada akhirnya, masalah ini bukan hanya tentang satu lagu. Ini tentang cara kita memahami batas, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab atas apa yang kita tampilkan. @dimas

Tags: etika mahasiswaHMT ITBITBKampus Indonesiakekerasan verbalLagu ErikaLiterasi DigitalPelecehan Perempuansatgas ppk

REKOMENDASI TABOOO

Aplikasi Kencan dan Dunia yang Tidak Selalu Seperti Profilnya

Aplikasi Kencan dan Dunia yang Tidak Selalu Seperti Profilnya

by eko
April 18, 2026

Tabooo.id: Life - Dulu, orang bertemu dari teman, lingkungan kerja, atau kebetulan di tempat umum. Sekarang, cukup buka aplikasi, geser...

Aplikasi Kencan: Tempat Cari Cinta atau Celah Kehilangan?

Aplikasi Kencan: Tempat Cari Cinta atau Celah Kehilangan?

by eko
April 18, 2026

Tabooo.id: Talk - Kalau sebuah aplikasi kencan membuka pintu pertemuan, lalu kenapa pintu yang sama juga bisa membuka kehilangan? Belakangan...

Kampus Hebat, Etika Terlewat: Kenapa Ini Bisa Lolos?

Kampus Hebat, Etika Terlewat: Kenapa Ini Bisa Lolos?

by dimas
April 17, 2026

Tabooo.id: Deep - Satu lagu lama tiba-tiba memicu kegelisahan baru.Awalnya terlihat biasa, namun maknanya justru menampar kesadaran publik.Lebih jauh, kasus...

Next Post
MBG Berujung UGD: 18 Siswa di Madiun Tumbang Usai Makan Gratis

MBG Berujung UGD: 18 Siswa di Madiun Tumbang Usai Makan Gratis

Recommended

Kenapa Riset Kampus Sering Mati di Rak? ITS Coba Mengubah Nasibnya

Kenapa Riset Kampus Sering Mati di Rak? ITS Coba Mengubah Nasibnya

April 17, 2026
Helikopter Ditemukan, Tujuh Nyawa Melayang: Kecelakaan atau Risiko yang Diabaikan?

Helikopter Ditemukan, Tujuh Nyawa Melayang: Kecelakaan atau Risiko yang Diabaikan?

April 17, 2026

Popular

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

April 19, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id