Tabooo.co.id: Regional – Setelah vakum berbulan-bulan, Bandara Internasional Dhoho di Kediri akhirnya kembali menggeliat di Hari Pahlawan, Senin (10/11/2025). Super Air Jet resmi membuka rute Jakarta–Kediri pulang-pergi dengan pesawat berbadan lebar Airbus. Euforia penerbangan perdana terasa 132 penumpang datang, 168 berangkat. Semua lancar. Tapi, begitu keluar terminal, satu pertanyaan besar muncul: mau ke mana naik apa?
Bandara yang dibangun megah oleh PT Gudang Garam ini memang tampak siap secara infrastruktur dan pelayanan. Namun, di luar gedungnya, situasi agak janggal: tak terlihat satu pun bus, taksi konvensional, atau angkot. Tak ada kendaraan umum yang biasanya jadi denyut nadi mobilitas bandara.
Padahal, saat penerbangan perdana di awal tahun, deretan armada Bus Harapan Jaya dan taksi sempat berjejer rapi. Sekarang, yang tersisa hanya transportasi online. GoJek dan Maxim jadi penyelamat.
“Di sini bisa pesan pakai GoJek maupun Maxim,” kata Nuha, salah satu pengemudi online. Ia mengaku, ada sekitar 20 driver yang siap siaga tiap kali pesawat mendarat. “Saya bahkan pernah antar penumpang sampai Malang,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kediri, Nizam, menjelaskan bahwa ketiadaan angkutan umum ini hanyalah masa transisi. “Secara MoU sudah ada, baik dengan Harapan Jaya maupun DAMRI. Kami akan berkolaborasi,” jelasnya. Menurutnya, angkutan umum baru akan aktif sepenuhnya setelah jadwal penerbangan stabil yakni tiga kali seminggu.
Bagi warga Kediri dan sekitarnya, ini lebih dari sekadar soal transportasi. Bandara Dhoho adalah proyek strategis nasional yang diharapkan menghidupkan ekonomi lokal dan membuka akses baru ke Jawa Timur bagian barat daya. Tapi kalau penumpang masih harus pesan ojek online untuk keluar bandara, apa artinya konektivitas megah itu?
Berita ini penting karena keberlanjutan bandara bukan cuma soal pesawat yang mendarat, tapi tentang bagaimana akses dan mobilitas publik bisa benar-benar terasa manfaatnya. Bandara megah tak akan berarti tanpa jalan penghubung yang hidup.
Pada akhirnya, apa gunanya landasan sepanjang dua kilometer kalau penumpangnya masih harus menunggu driver di depan gerbang? (Sigit)




