Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kontroversi Tahta: Antara Titah Raja dan Suara Keluarga

by jeje
November 11, 2025
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Deep – Ada masa ketika suara istana kalah pelan dari desir angin di tembok megah itu.
Namun pelan bukan berarti hilang. Dari balik dinding tua dan serambi berukir emas, suara lama kembali bergema. Mereka menanyakan hal yang tak pernah selesai: siapa yang berhak atas takhta?

Di Surakarta, takhta bukan sekadar kursi kebesaran. Sejarah panjang raja-raja Mataram menulis garis darah dan restu itu sebagai tanda yang tak tergantikan.
Kini, ketika sang pemegang mahkota terakhir berpulang, panggung pewarisan kembali terbuka bukan dengan pedang, melainkan dengan tafsir.

Di Antara Titah dan Tafsir

Di antara kepulan dupa dan denting gamelan, para abdi menyebut satu nama dengan penuh khidmat nama yang kelak menentukan arah tahta dan takdir sebuah kerajaan.
Sang raja menuturkan titahnya di hadapan mereka yang tahu: setiap kata seorang raja bukan sekadar ucapan, tapi perintah hidup dalam adat.

Waktu pun berjalan.
Seiring kepergian sang penuntun, suara lain muncul dari balik pagar keluarga.
Sebagian pihak menegaskan titah raja harus dijalankan tanpa tafsir.
Sebagian lain meyakini keluarga besar berhak menentukan arah masa depan keraton.

Perbedaan ini bukan hal baru.
Sejarah panjang dinasti Jawa mencatat, takhta selalu menjadi pertemuan antara amanat spiritual dan dinamika manusia.
Kali ini, publik menyaksikan dua kutub yang kembali berhadapan: satu memegang teguh titah raja, satu lagi menuntut musyawarah keluarga sebagai jalan penentuan.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur


Lebih dari Sekadar Mahkota

Bagi masyarakat Jawa, takhta adalah simbol keseimbangan antara langit dan bumi, antara leluhur dan rakyat.
Siapa pun yang kelak duduk di singgasana Surakarta tidak hanya mewarisi nama besar, tetapi juga tanggung jawab menjaga harmoni di tengah perubahan zaman.

Keraton bukan sekadar bangunan. Ia adalah ingatan, ritual, dan napas budaya yang terus hidup meski zaman berganti.
Kini, setelah sang raja berpulang, publik menatap satu arah: menunggu siapa yang akan melanjutkan peran itu.
Bukan sebagai penguasa, tapi penjaga makna.


Menunggu Waktu Bicara

Dalam adat Jawa, setiap keputusan besar menunggu waktu yang tepat.
Di dunia keraton, diam bisa berarti keputusan, dan waktu sering kali menjadi hakim paling adil.

Kini, takhta Surakarta menunggu bukan siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling memahami arti ngawula mengabdi.
Sebab, seperti pepatah Jawa mengatakan:

“Sapa gelem ngasorake awake, bakal diunggahake drajate.”
Barang siapa mau merendahkan diri, dialah yang akan ditinggikan derajatnya. @jeje

Tags: Budaya Jawa

Kamu Melewatkan Ini

Dua Garebeg Mulud Karaton Surakarta, Delapan Gunungan Jadi Rebutan

Dua Garebeg Mulud Karaton Surakarta, Delapan Gunungan Jadi Rebutan

by dimas
Agustus 26, 2026

Dua Garebeg Mulud digelar di Karaton Surakarta, membawa delapan gunungan ke Masjid Agung Solo yang kemudian diperebutkan warga di puncak...

Keris Dilepas Demi Diingat: Ketika Warisan Pusaka Keluarga Masuk Museum

Keris Dilepas Demi Diingat: Ketika Warisan Pusaka Keluarga Masuk Museum

by teguh
Agustus 25, 2026

Ada warisan pusaka keluarga yang kita simpan di lemari. Ada pula warisan yang justru kita lepaskan agar tetap hidup. Pilihan...

Kapal Jung Jawa: Saat Laut Nusantara Pernah Menjadi Jalan Raya Asia

Kapal Jung Jawa: Saat Laut Nusantara Pernah Menjadi Jalan Raya Asia

by teguh
Agustus 24, 2026

Bayangkan laut Nusantara berabad-abad lalu. Tidak ada GPS, radar, atau mesin diesel. Namun, kapal-kapal besar seperti kapal jung Jawa sudah...

Next Post
10 Pahlawan Nasional Baru : Jasanya Apa?

10 Pahlawan Nasional Baru : Jasanya Apa?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id