Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kontroversi Tahta: Antara Titah Raja dan Suara Keluarga

by jeje
November 11, 2025
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Ada masa ketika suara istana kalah pelan dari desir angin di tembok megah itu.
Namun pelan bukan berarti hilang. Dari balik dinding tua dan serambi berukir emas, suara lama kembali bergema. Mereka menanyakan hal yang tak pernah selesai: siapa yang berhak atas takhta?

Di Surakarta, takhta bukan sekadar kursi kebesaran. Sejarah panjang raja-raja Mataram menulis garis darah dan restu itu sebagai tanda yang tak tergantikan.
Kini, ketika sang pemegang mahkota terakhir berpulang, panggung pewarisan kembali terbuka bukan dengan pedang, melainkan dengan tafsir.

Di Antara Titah dan Tafsir

Di antara kepulan dupa dan denting gamelan, para abdi menyebut satu nama dengan penuh khidmat nama yang kelak menentukan arah tahta dan takdir sebuah kerajaan.
Sang raja menuturkan titahnya di hadapan mereka yang tahu: setiap kata seorang raja bukan sekadar ucapan, tapi perintah hidup dalam adat.

Waktu pun berjalan.
Seiring kepergian sang penuntun, suara lain muncul dari balik pagar keluarga.
Sebagian pihak menegaskan titah raja harus dijalankan tanpa tafsir.
Sebagian lain meyakini keluarga besar berhak menentukan arah masa depan keraton.

Perbedaan ini bukan hal baru.
Sejarah panjang dinasti Jawa mencatat, takhta selalu menjadi pertemuan antara amanat spiritual dan dinamika manusia.
Kali ini, publik menyaksikan dua kutub yang kembali berhadapan: satu memegang teguh titah raja, satu lagi menuntut musyawarah keluarga sebagai jalan penentuan.

Ini Belum Selesai

Reformasi 1998: Luka yang Masih Menunggu Keadilan

Kebangkitan Aktivis Perempuan: Apa Artinya Bagi Demokrasi Indonesia?


Lebih dari Sekadar Mahkota

Bagi masyarakat Jawa, takhta adalah simbol keseimbangan antara langit dan bumi, antara leluhur dan rakyat.
Siapa pun yang kelak duduk di singgasana Surakarta tidak hanya mewarisi nama besar, tetapi juga tanggung jawab menjaga harmoni di tengah perubahan zaman.

Keraton bukan sekadar bangunan. Ia adalah ingatan, ritual, dan napas budaya yang terus hidup meski zaman berganti.
Kini, setelah sang raja berpulang, publik menatap satu arah: menunggu siapa yang akan melanjutkan peran itu.
Bukan sebagai penguasa, tapi penjaga makna.


Menunggu Waktu Bicara

Dalam adat Jawa, setiap keputusan besar menunggu waktu yang tepat.
Di dunia keraton, diam bisa berarti keputusan, dan waktu sering kali menjadi hakim paling adil.

Kini, takhta Surakarta menunggu bukan siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling memahami arti ngawula mengabdi.
Sebab, seperti pepatah Jawa mengatakan:

“Sapa gelem ngasorake awake, bakal diunggahake drajate.”
Barang siapa mau merendahkan diri, dialah yang akan ditinggikan derajatnya. @jeje

Tags: Budaya Jawa

Kamu Melewatkan Ini

Pamali: Benarkah Tradisi Membunuh Pikiran Kritis?

Pamali: Benarkah Tradisi Membunuh Pikiran Kritis?

by Waras
Mei 8, 2026

Internet semakin cepat dan generasi muda semakin kritis. Namun, pamali/wewaler tetap hidup di banyak rumah Indonesia. Orang tua masih melarang...

Pamali Jawa Bukan Sekadar Mitos. Ini Algoritma Moral Leluhur

Pamali Jawa Bukan Sekadar Mitos. Ini Algoritma Moral Leluhur

by Waras
Mei 7, 2026

Dari larangan duduk di bantal sampai makan di depan pintu, semua terdengar seperti mitos lama. Padahal, di balik ancaman mistis...

“Jangan Duduk di Bantal” Ternyata Bukan Mitos Bodoh

“Jangan Duduk di Bantal” Ternyata Bukan Mitos Bodoh

by Waras
Mei 7, 2026

Banyak orang muda menertawakan larangan duduk di bantal. Mereka menganggapnya mitos lama yang tidak masuk akal. “Mana mungkin duduk di...

Next Post
10 Pahlawan Nasional Baru : Jasanya Apa?

10 Pahlawan Nasional Baru : Jasanya Apa?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id