Di tengah wacana pembangunan taksi air sebagai solusi mengurai kemacetan di Bali yang kian parah, satu pertanyaan besar muncul: jika moda transportasi laut ini digadang mampu memangkas waktu tempuh dan mengurangi beban jalan, seberapa siap infrastruktur serta sistem konektivitasnya benar-benar menjawab persoalan kemacetan yang sudah menahun di Pulau Dewata?
Tabooo.id: Regional – Wacana taksi air di Bali kembali menguat seiring kemacetan yang makin mengganggu mobilitas warga dan wisatawan di kawasan utama pariwisata. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengkaji water taxi yang akan menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan Canggu, salah satu titik tersibuk di Bali Selatan.
Bali kini menghadapi tekanan mobilitas yang semakin berat. Status sebagai destinasi wisata dunia tidak sejalan dengan kondisi lalu lintas yang semakin padat setiap hari.
Data menunjukkan, Bali memiliki sekitar 4,7 juta kendaraan. Panjang jalan hanya 8.685 kilometer. Ketimpangan ini membuat sejumlah kawasan seperti Kuta, Canggu, dan Nusa Dua sering macet, bahkan di luar jam sibuk.
Di sisi lain, Bali menerima hampir 20 juta wisatawan per tahun. Namun hanya sekitar 4 persen yang memakai transportasi umum. Sisanya masih bergantung pada kendaraan pribadi dan sewa. Kondisi ini menambah beban jalan setiap hari.
Taksi Air Jadi Opsi Baru di Tengah Kemacetan
ASDP mulai melirik taksi air sebagai alternatif transportasi. Opsi ini muncul untuk menjawab kepadatan lalu lintas di jalur darat yang terus meningkat.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, mengatakan pengembangan ini menjadi bagian dari integrasi transportasi nasional.
“Pengembangan layanan taksi air menjadi bagian dari komitmen kami untuk menghadirkan sistem transportasi yang terintegrasi,” ujarnya di Bali, Minggu (19/4/2026).
Rencana awal, layanan ini akan menghubungkan Bandara Ngurah Rai dengan Canggu. Jalur ini dikenal sebagai salah satu rute paling padat di Bali.
Waktu tempuh lewat laut diperkirakan hanya 30 menit. Sementara jalur darat bisa mencapai 1–2 jam, terutama saat macet.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menjelaskan tim masih mengkaji rute. Kajian ini meliputi keselamatan, kondisi perairan, dan kesiapan infrastruktur.
Masih Kajian, Target Rampung 2026
Proyek taksi air masih berada pada tahap detailed engineering design (DED). ASDP bekerja sama dengan PT Angkasa Pura Indonesia untuk menyelesaikan studi kelayakan.
Target penyelesaian kajian ditetapkan pada 2026. Setelah itu, pemerintah akan menentukan arah kebijakan lanjutan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menilai konsep ini bisa memperkuat konektivitas antarmoda.
“Ini diharapkan meningkatkan efisiensi mobilitas dan mengurangi kepadatan lalu lintas, khususnya di Badung sebagai pusat pariwisata,” ujarnya.
Tantangan Nyata Ada di Konektivitas
Meski terdengar menjanjikan, rencana ini masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bali, I Made Rai Ridharta, menilai masalah utama bukan hanya moda transportasi, tetapi juga konektivitas.
Ia menekankan pentingnya first mile dan last mile. Artinya, akses dari bandara ke dermaga dan dari dermaga ke tujuan akhir harus jelas.
“Kalau akses ke dermaga masih macet, dan tujuan akhir tidak siap, maka masalah tidak selesai,” katanya.
Tanpa integrasi yang baik, taksi air hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.
Harapan Baru atau Sekadar Wacana Baru?
Taksi air membawa harapan baru bagi Bali. Moda ini bisa memangkas waktu perjalanan dan memberi alternatif transportasi wisata.
Namun tantangan besar masih menunggu. Mulai dari investasi, kesiapan dermaga, hingga integrasi dengan transportasi darat.
Pemerintah juga dinilai perlu memperkuat transportasi publik yang sudah ada, seperti Trans Metro Dewata, agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
Pada akhirnya, taksi air bukan hanya soal inovasi. Ini juga ujian besar apakah Bali benar-benar siap membenahi sistem mobilitasnya, atau kembali menambah daftar panjang wacana yang belum tuntas. @dimas






