Tabooo.id: Sport – Ironi ini terus berulang di olahraga Indonesia.
Kita menuntut atlet berprestasi, tapi mereka harus bayar dulu untuk berangkat.
Jadi, ini seleksi atlet atau seleksi dompet?
Gagal Tanding Bukan Karena Kalah
Nama I Gede Wahyu Surya Wiguna langsung viral. Atlet angkat berat asal Buleleng, Bali ini batal tampil di kejuaraan dunia di Druskininkai, Lithuania.
Ia tidak cedera.
Ia tidak kalah seleksi.
Ia terhenti karena uang.
Lewat media sosial, Wahyu mengaku belum mengantongi rekomendasi dan tidak sanggup memenuhi dana jaminan sebesar 20.000 dolar AS atau sekitar Rp339 juta.
“Pengurus meminta dana jaminan $20.000, Itu jadi syarat utama. Uang sebanyak itu dari mana?” tulisnya.
Ia menjelaskan, pengurus menggunakan dana itu sebagai jaminan jika terjadi pelanggaran atau denda selama kompetisi. Jika tidak ada masalah, mereka akan mengembalikan uang tersebut.
Masalahnya jelas tidak semua atlet punya Rp339 juta untuk sekadar berangkat.
Pengurus Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi) Buleleng membenarkan bahwa Wahyu menerima undangan dari International Powerlifting Federation (IPF).
Namun hingga batas akhir pendaftaran, pihak terkait tidak juga menerbitkan rekomendasi.
Sekretaris Pabersi Buleleng, Ketut Widi Sandiada, menyebut situasi ini juga menimpa atlet lain.
Artinya, masalah ini tidak berhenti di satu nama.
Ia juga menegaskan, pengurus tidak melakukan pungutan liar. Mereka menerapkan dana jaminan sesuai aturan tes doping dari World Anti-Doping Agency (WADA).
Aturan di Atas, Realita di Bawah
Di atas kertas, semua terlihat rapi.
Namun di lapangan, sistem memaksa atlet siap finansial sebelum bertanding.
Masalah ini bukan sekadar prosedur.
Sistem ini diam-diam menyaring atlet berdasarkan kemampuan ekonomi.
Di titik ini, olahraga bergeser arah dari adu kekuatan jadi adu akses.
Yang Hilang Sebelum Terlihat
Dampaknya terasa, bahkan buat kamu yang bukan atlet.
Banyak talenta terbaik gagal muncul bukan karena mereka lemah,
tapi karena mereka tidak punya biaya.
Akibatnya, panggung internasional tidak selalu menampilkan yang terbaik.
Panggung itu hanya menampilkan yang mampu bertahan secara finansial.
Berapa banyak “Wahyu” lain yang hilang sebelum sempat terlihat?
Prestasi Butuh Uang Dulu?
Sistem olahraga seharusnya membuka jalan, bukan menutup pintu.
Kita butuh aturan doping.
Kita butuh prosedur.
Tapi ketika biaya jadi syarat utama, kita harus jujur ini bukan meritokrasi.
Ini seleksi diam-diam.
Yang lebih pahit, kita baru mengakui atlet saat mereka menang.
Padahal, sebelum itu, mereka berjuang sendirian.
Mimpi yang Harus Dibayar di Awal
Kita selalu bangga saat atlet mengibarkan bendera di luar negeri.
Tapi kita jarang bertanya, berapa banyak yang gagal berangkat?
Kalau mimpi saja harus dibayar di awal, apakah kita benar-benar membangun prestasi atau hanya menjaga ilusi? @dimas






