Tabooo.id: Vibes – Di linimasa sejarah, Jawa pernah punya momen yang terasa seperti meme “this is fine” kecuali semuanya tidak fine, dan apinya bukan bercanda. Bayangkan sebuah dunia yang runtuh bukan karena meteor atau zombie, tapi karena pengkhianatan, perang saudara, dan satu serangan yang membakar istana megah sampai tinggal arang. Jika akhir zaman versi Kaliyuga punya trailer, ia mungkin menampilkan adegan Istana Mataram Kuno di Jawa Timur yang terbakar hebat, disusul bayangan seorang raja muda yang melarikan diri ke hutan, sementara dunia lamanya hancur di belakang.
Itu bukan film fantasi. Itu tahun 1016, ketika Dharmawangsa Teguh gugur di tangan Haji Wurawari, dan dunia Jawa secara politik maupun simbolik retak seperti kaca jatuh. Para penulis masa itu menyebutnya pralaya kehancuran yang terasa seperti reset besar-besaran.
Dari titik nol itulah Airlangga muncul. Namun sebelum menjadi legenda, ia hanyalah seorang pengungsi yang kehilangan segalanya.
Sejarah yang Panas, Seperti Tanah Setelah Terbakar
Setelah serangan Wurawari, Jawa terpecah seperti kepingan puzzle dilempar ke lantai. Ade Latifa Soetrisno, dalam penelitiannya tahun 1988, menggambarkan situasinya begitu kacau: kerajaan-kerajaan kecil bermunculan seperti gulma, saling rebut wilayah, saling curiga, saling ingin menjadi yang paling berkuasa.
Airlangga sendiri tidak bisa langsung “comeback stronger”. Ia bersembunyi di hutan bersama para rsi semacam fase healing dan reparenting dalam versi abad ke-11 sebelum akhirnya kembali pada 1019 ke puing-puing kerajaan mertuanya. Ia tidak disambut karpet merah, melainkan reruntuhan.
Untuk membangun ulang Jawa, Airlangga perlu lebih dari sekadar kekuatan moral. Ia butuh legitimasi. Ia menerbitkan Prasasti Pucangan, yang berisi silsilahnya sampai Mpu Sindok cara elegan untuk bilang, “Aku pewaris sah takhta ini.” Prasasti-prasasti lain mencatat kemenangan, kekalahan, pemberontakan, dan anugerah sima bukti bahwa dunia politik masa itu sama ributnya dengan timeline Twitter.
Jawa, Persatuan, dan Kekuasaan
Jika melihat kembali kisah ini, sulit untuk tidak menarik garis lurus ke masa kini. Jawa, dengan segala dinamikanya, masih menjadi panggung utama puluhan narasi politik yang bersaing. Bedanya, serangan tak lagi berupa prajurit bersenjata, melainkan opini publik, algoritma, dan pencitraan digital.
Pada masa Airlangga, legitimasi datang dari prasasti. Kini, ia datang dari posting-an, engagement, survei, liputan media, dan foto-foto yang dipilih dengan sangat hati-hati. Tapi esensinya sama siapa pun yang ingin berkuasa harus membangun narasi bahwa dialah yang paling layak.
Airlangga sadar betul bahwa hegemoni tak datang dari kekuatan semata. Ia memerangi Wuratan, Wengker, Hasin, hingga Wurawari, tapi ia juga membangun jaringan loyalitas. Kepada mereka yang berjasa seperti Rakai Pangkaja Dyah Tumambong Airlangga memberi gelar dan sima, semacam “verified badge” versi kerajaan.
Dan seperti politik modern, musuh tak pernah benar-benar hilang. Wengker, misalnya, datang menyerang lagi pada 1035, seperti tokoh antagonis yang menolak tamat.
Refleksi Tabooo: Apa Makna Pralaya bagi Kita?
Kisah ini bukan sekadar catatan perang ia adalah cerita tentang apa yang manusia lakukan ketika dunia yang mereka kenal runtuh.
Ada sesuatu yang sangat manusiawi pada Airlangga ia tidak langsung memenangkan semuanya. Ia jatuh, tersingkir, bersembunyi, balik lagi, kalah lagi, menang lagi. Seperti grafik naik-turun saham hidup. Seperti perjalanan siapa pun yang pernah merasa mulai dari nol atau bahkan dari minus.
Pralaya bukan hanya tentang kehancuran ia adalah tentang momen di mana semua kerangka lama patah, memaksa kita membangun ulang dari bahan yang lebih jujur.
Dan bukankah itu mirip dengan yang kita alami sebagai masyarakat?
Ketika tatanan politik goyah, ketika sosial media penuh konflik identitas, ketika dunia terasa kacau, kita sering mengira ini tanda-tanda akhir zaman. Padahal mungkin ini momen pralaya fase peralihan ke sesuatu yang lain. Sesuatu yang kita belum tahu bentuknya.
Airlangga mengajarkan bahwa kehancuran tidak perlu dibaca sebagai final. Ia bisa menjadi awal baru yang sulit, panjang, dan penuh lumpur, tapi tetap sebuah awal. Ia menunjukkan bahwa kekuasaan tak pernah aman, tapi bisa dipulihkan melalui kemampuan merangkul, memberi, dan menghadapi konflik tanpa kehilangan arah.
Dalam suasana kacau, ia memilih merangkai ulang Jawa, bukan melarikan diri darinya.
Ketika Abu Menyisakan Cahaya
Sejarah Airlangga mengingatkan kita bahwa dunia bisa runtuh berkali-kali, dalam skala kerajaan maupun hati manusia. Tapi seperti hutan setelah terbakar, selalu ada tunas kecil yang diam-diam muncul.
Pralaya bukan titik akhir ia adalah titik koma.
Mungkin hari ini kita merasa dunia runtuh oleh politik yang melelahkan, media sosial yang bising, atau rutinitas yang terasa macet. Namun sejarah berbisik pelan dari abu yang paling gelap, sering tumbuh cahaya paling tegas.
Seperti Airlangga, kita semua sedang belajar membangun dunia dari reruntuhan pelan, cemas, tapi tetap bergerak.
Karena dunia yang pernah terbakar tidak selalu berarti dunia yang berakhir. Kadang, itu hanya dunia yang sedang memulai bab baru. @dimas



