Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dompet Seret, Pajak Ditanggung. Beres atau Basa-Basi?

by teguh
November 20, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernah nggak sih kamu duduk di kafe, lihat orang-orang sibuk ngetik sambil menyeruput latte 40 ribuan, lalu muncul satu pikiran nyentil kelas menengah ini kelihatannya sibuk, tapi kok makin rapuh?

Iya, kelas menengah kita ini. Kelompok yang sering dipuji sebagai “tulang punggung ekonomi” tapi diam-diam juga jadi bantalan setiap kali negara goyang. Peran kita penting, tapi dompet kita? Kamu pasti tahu jawabannya.

Dan sekarang ada fakta yang lebih pahit: jumlah kelas menengah Indonesia merosot. Hampir 10 juta orang hilang dalam lima tahun. BPS mencatat penurunan dari 57,33 juta (2019) menjadi 47,85 juta (2024). Ini bukan angka yang sekadar lewat di layar berita. Ini alarm keras yang mengingatkan bahwa pondasi ekonomi kita mulai retak.

Negara Panik? Lumayan, Lalu Hadirlah PPh 21 DTP

Saat angka itu bikin banyak pihak garuk kepala, pemerintah akhirnya bergerak. Lewat PMK 72/2025, mereka meluncurkan stimulus buat sektor pariwisata PPh 21 Ditanggung Pemerintah untuk pegawai hotel, restoran, agen perjalanan, dan seluruh rantai industri wisata.

Gampangnya begini, pajak gaji yang biasanya dipotong, kini pemerintah yang bayar.
Hasilnya? Take home pay langsung naik, Perusahaan juga aman karena tidak perlu menambah beban.

Ini Belum Selesai

Langit Oranye, Napas Terancam: Kabut Asap Uji Tanggung Jawab Negara

Mengapa Publik Makin Skeptis terhadap Janji Pejabat?

Stimulus ini memang tak sepenuhnya bebas syarat. Pegawai yang gajinya maksimal Rp10 juta di Januari 2025 berhak ikut. NPWP atau NIK harus aktif. Terus, kalau service charge tercatat sebagai komponen tetap dalam kontrak, ya masuk hitungan penghasilan teratur. Kalau cuma bonus fluktuatif, ya keluar dari daftar.

Untuk pekerja non-tetap, batasnya jelas upah harian maksimal Rp500 ribu. Intinya, pemerintah ingin stimulus mengalir ke mereka yang posisinya paling rawan tergelincir dari kelas menengah ke kelas rentan.

Perusahaan pun harus patuh. Mereka wajib melaporkan pemanfaatan stimulus di SPT Masa PPh 21/26 sebelum 31 Januari 2026. Kalau telat, ya konsekuensinya berat insentif dianggap hangus, pajak kembali ditagih.

Tapi di Meja Sebelah, Suara Kontra Tetap Bergaung

Setiap kebijakan pasti punya lawan bicara.
Ada yang nyeletuk, “Tiga bulan doang? Oktober–Desember? Emang inflasi cuti di Januari?”

Ada juga yang bilang, “Kalau kelas menengah turun 10 juta orang, apa stimulus sependek ini cukup buat menahan kejatuhan berikutnya?”

Pertanyaan itu wajar. Masalah kelas menengah sekarang bukan masalah musiman. Harga lauk naik terus. Biaya sekolah nyaris bikin orang tua migrain.
Cicilan rumah? Jangan ditanya.

Pariwisata memang butuh dorongan. Industri ini kena pukulan telak sejak pandemi, dan efeknya panjang. Tapi masalah kelas menengah jauh lebih kompleks daripada angka potongan pajak bulanan.

Namun di Meja Kita, Perspektif Lain Muncul

Mari kita realistis Tidak semua masalah ekonomi bisa diselesaikan dengan satu kebijakan besar, Tapi setidaknya ada langkah konkrit yang harus diambil oleh Negara terlepas hasilnya seperti apa hasilnya itu urusan belakang.

PPh 21 DTP memang bukan obat pamungkas. Tapi stimulus ini menjaga napas pekerja pariwisata agar tidak tumbang duluan. Ekonomi kita butuh konsumsi yang tetap bergerak. Dan pegawai sektor wisata memegang peran itu.

Integrasi data pajak lewat NIK dan NPWP juga membuat penyaluran lebih tertib. Kita nggak lagi hidup di era laporan manual yang penuh celah. Setidaknya kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah mulai melirik kelas menengah yang selama ini sering dianggap kuat padahal kondisinya sudah ngos-ngosan.

Kita Apresiasi, Tapi Jangan Beri Harapan Seukuran Plester

Langkah ini patut kita sambut, tapi jangan sampai kita menelan harapan berlebihan.
Kenaikan take home pay selama tiga bulan memang membantu.
Namun kelas menengah Indonesia menghadapi tekanan yang jauh lebih struktural.

Kalau pemerintah mau mempertahankan kekuatan kelas menengah, mereka perlu strategi tambahan:

  • kebijakan upah yang lebih progresif
  • stabilisasi harga pangan
  • akses perumahan yang masuk akal
  • peningkatan skill yang relevan dengan ekonomi digital
  • dan roadmap jangka panjang buat memperlebar “jalan tol menuju kelas menengah”, bukan cuma menambal jalan berlubang

Kelas menengah itu peredam kejut sosial, Kalau mereka runtuh, Indonesia juga ikut oleng.

Jadi, Kamu di Kubu Mana?

Apakah kamu percaya PPh 21 DTP bisa jadi oase kecil yang penting di tengah padang ekonomi yang panas?
Atau menurutmu langkah ini cuma permen manis yang habis dalam tiga menit?

Kita sudah cerita panjang. Pemerintah sudah ambil posisi. Sekarang giliran kamu. @teguh

Tags: BPSEkonomi IndonesiaStimulus

Kamu Melewatkan Ini

Prabowo Klaim Banyak Capaian, Survei Publik Justru Menunjukkan Tren Menurun

Prabowo Klaim Banyak Capaian, Survei Publik Justru Menunjukkan Tren Menurun

by teguh
September 21, 2026

Presiden Prabowo klaim memasuki hampir dua tahun pemerintahannya dengan nada percaya diri. Di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu, 19/09/2026, ia menyebut...

Desil Timbul Lompat dari 1 ke 9, Kuliah Anak Tukang Becak Terancam

Desil Timbul Lompat dari 1 ke 9, Kuliah Anak Tukang Becak Terancam

by teguh
Agustus 25, 2026

Kabar kelulusan kuliah justru membuat Timbul, 49, cemas. Status desil kesejahteraannya berubah dari desil 1 menjadi desil 9 yang bisa...

Negara Menguasai Sumber Daya, Rakyat Dapat Apa?

Negara Menguasai Sumber Daya, Rakyat Dapat Apa?

by dimas
Agustus 23, 2026

Negara memiliki mandat untuk menguasai sumber daya strategis. Namun, mandat itu bukan sekadar soal izin, regulasi, atau kepemilikan. Ukuran akhirnya...

Next Post
Cinta Lancar, Skor Kredit Harus Taat: Drama Pasangan Muda?

Cinta Lancar, Skor Kredit Harus Taat, Drama Pasangan Muda?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id