Tabooo.id: Regional – Masjid Darussalam kembali menjadi pusat perhatian setiap sore selama Ramadan 2026. Di Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, warga menggelar tradisi pembagian bubur samin seperti yang mereka lakukan selama puluhan tahun terakhir. Menjelang azan magrib, antrean panjang langsung memenuhi halaman masjid.
Tradisi ini bukan sekadar agenda berbagi takjil. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia telah menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Status itu menegaskan bahwa bubur samin bukan hanya makanan, melainkan bagian dari identitas budaya Solo.
Dari Perantau, Lahir Solidaritas
Wakil Ketua Takmir Masjid Darussalam sekaligus Ketua Panitia Ramadan 2026, Ma’yasin, menjelaskan bahwa para perantau asal Kalimantan Selatan memulai tradisi ini. Mereka datang ke Solo untuk mencari penghidupan. Sebagian meraih kesuksesan, sebagian lainnya tidak.
“Dulu orang tua kami merantau. Yang berhasil ingin berbagi dengan membawa makanan khas kampung untuk dinikmati bersama saat buka puasa,” ujar Ma’yasin, Minggu (1/3/2026).
Awalnya, mereka membawa berbagai jenis makanan. Suatu hari, seseorang memasak bubur samin. Rasanya cocok di lidah warga dan memberi efek hangat setelah disantap.
“Sejak itu kami rutin memasak bubur samin setiap Ramadan,” jelasnya.
Para saudagar yang sukses kemudian menggalang iuran agar tradisi ini terus berjalan. Setiap tahun jumlah donatur bertambah. Warga yang membawa pulang bubur bahkan kerap membagikannya lagi ke tetangga.
“Manfaatnya tidak berhenti di masjid. Bubur ini sampai ke rumah-rumah,” kata Ma’yasin.
Produksi Naik Tiga Kali Lipat
Pada 1985–1987, panitia hanya memasak 10–15 kilogram bubur per hari. Kini mereka memasak 45–50 kilogram setiap hari. Jumlah itu setara 1.100 hingga 1.200 porsi.
Panitia menyediakan 150 porsi untuk jemaah yang berbuka di masjid. Sisanya mereka bagikan kepada warga untuk dibawa pulang. Setiap sore, warga rela mengantre demi semangkuk bubur hangat.
“Siapa pun boleh mengambil. Tidak hanya Muslim, warga non-Muslim juga kami persilakan,” tegas Ma’yasin.
Panitia mengelola kegiatan ini dengan dana sedekah warga Kalimantan Selatan, para saudagar, serta masyarakat sekitar. Donatur dari Singapura dan pemerintah kota juga ikut membantu, terutama dalam penyediaan beras selama tiga tahun terakhir.
Di tengah harga kebutuhan pokok yang naik-turun, tradisi ini memberi dampak nyata. Pekerja harian, lansia, dan keluarga berpenghasilan rendah merasakan manfaat langsung. Mereka tidak perlu memikirkan menu berbuka setiap hari.
Masak Empat Jam, Sajikan Kehangatan
Panitia mulai memasak selepas zuhur. Mereka merebus air, memasukkan beras, lalu menambahkan sayuran dan minyak samin. Dua tungku besar bekerja hingga menjelang asar.
Minyak samin hasil olahan lemak kambing memberi rasa gurih khas sekaligus sensasi hangat.
“Kalau kami pakai minyak biasa, rasanya berbeda. Samin ini yang membuat bubur terasa khas,” ujar salah satu panitia dapur.
Masjid Darussalam berdiri di atas tanah wakaf milik seorang abdi keraton bernama Jayeng. Pada 1980-an, pengurus merenovasi bangunan masjid hingga tampil lebih representatif seperti sekarang.
Ma’yasin menegaskan bahwa tradisi bubur samin dalam skala besar seperti ini hanya ada di Solo.
“Kami ingin tradisi ini terus berjalan. Kami ingin warga tetap merasakan kebersamaan lewat bubur samin,” pungkasnya.
Di tengah kota yang bergerak cepat dan biaya hidup yang ikut melesat, warga Jayengan memilih merawat solidaritas lewat panci besar dan tungku yang menyala karena kadang, perubahan sosial tidak lahir dari pidato panjang, tetapi dari dapur yang terus mengepul setiap Ramadan. @eko




