Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Antre Sejak Sore! Bubur Samin Jayengan Jadi Simbol Solidaritas Ramadan

by eko
Maret 2, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Regional – Masjid Darussalam kembali menjadi pusat perhatian setiap sore selama Ramadan 2026. Di Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, warga menggelar tradisi pembagian bubur samin seperti yang mereka lakukan selama puluhan tahun terakhir. Menjelang azan magrib, antrean panjang langsung memenuhi halaman masjid.

Tradisi ini bukan sekadar agenda berbagi takjil. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia telah menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Status itu menegaskan bahwa bubur samin bukan hanya makanan, melainkan bagian dari identitas budaya Solo.

Dari Perantau, Lahir Solidaritas

Wakil Ketua Takmir Masjid Darussalam sekaligus Ketua Panitia Ramadan 2026, Ma’yasin, menjelaskan bahwa para perantau asal Kalimantan Selatan memulai tradisi ini. Mereka datang ke Solo untuk mencari penghidupan. Sebagian meraih kesuksesan, sebagian lainnya tidak.

“Dulu orang tua kami merantau. Yang berhasil ingin berbagi dengan membawa makanan khas kampung untuk dinikmati bersama saat buka puasa,” ujar Ma’yasin, Minggu (1/3/2026).

Awalnya, mereka membawa berbagai jenis makanan. Suatu hari, seseorang memasak bubur samin. Rasanya cocok di lidah warga dan memberi efek hangat setelah disantap.

Ini Belum Selesai

Kapolda Sulsel Usul Arena Tawuran 10 Lawan 10, Polisi Bidik Produsen Busur

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

“Sejak itu kami rutin memasak bubur samin setiap Ramadan,” jelasnya.

Para saudagar yang sukses kemudian menggalang iuran agar tradisi ini terus berjalan. Setiap tahun jumlah donatur bertambah. Warga yang membawa pulang bubur bahkan kerap membagikannya lagi ke tetangga.

“Manfaatnya tidak berhenti di masjid. Bubur ini sampai ke rumah-rumah,” kata Ma’yasin.

Produksi Naik Tiga Kali Lipat

Pada 1985–1987, panitia hanya memasak 10–15 kilogram bubur per hari. Kini mereka memasak 45–50 kilogram setiap hari. Jumlah itu setara 1.100 hingga 1.200 porsi.

Panitia menyediakan 150 porsi untuk jemaah yang berbuka di masjid. Sisanya mereka bagikan kepada warga untuk dibawa pulang. Setiap sore, warga rela mengantre demi semangkuk bubur hangat.

“Siapa pun boleh mengambil. Tidak hanya Muslim, warga non-Muslim juga kami persilakan,” tegas Ma’yasin.

Panitia mengelola kegiatan ini dengan dana sedekah warga Kalimantan Selatan, para saudagar, serta masyarakat sekitar. Donatur dari Singapura dan pemerintah kota juga ikut membantu, terutama dalam penyediaan beras selama tiga tahun terakhir.

Di tengah harga kebutuhan pokok yang naik-turun, tradisi ini memberi dampak nyata. Pekerja harian, lansia, dan keluarga berpenghasilan rendah merasakan manfaat langsung. Mereka tidak perlu memikirkan menu berbuka setiap hari.

Masak Empat Jam, Sajikan Kehangatan

Panitia mulai memasak selepas zuhur. Mereka merebus air, memasukkan beras, lalu menambahkan sayuran dan minyak samin. Dua tungku besar bekerja hingga menjelang asar.

Minyak samin hasil olahan lemak kambing memberi rasa gurih khas sekaligus sensasi hangat.

“Kalau kami pakai minyak biasa, rasanya berbeda. Samin ini yang membuat bubur terasa khas,” ujar salah satu panitia dapur.

Masjid Darussalam berdiri di atas tanah wakaf milik seorang abdi keraton bernama Jayeng. Pada 1980-an, pengurus merenovasi bangunan masjid hingga tampil lebih representatif seperti sekarang.

Ma’yasin menegaskan bahwa tradisi bubur samin dalam skala besar seperti ini hanya ada di Solo.

“Kami ingin tradisi ini terus berjalan. Kami ingin warga tetap merasakan kebersamaan lewat bubur samin,” pungkasnya.

Di tengah kota yang bergerak cepat dan biaya hidup yang ikut melesat, warga Jayengan memilih merawat solidaritas lewat panci besar dan tungku yang menyala karena kadang, perubahan sosial tidak lahir dari pidato panjang, tetapi dari dapur yang terus mengepul setiap Ramadan. @eko

Tags: PuasaRamadanSoloSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

by teguh
Oktober 13, 2026

Museum tak harus menunggu pengunjung datang. Kali ini, koleksi sejarah dan budaya Solo yang biasanya tersimpan di gedung museum justru...

Patriot Bengawan Bidik Posisi Kedua PORPROV Jateng

Patriot Bengawan Bidik Posisi Kedua PORPROV Jateng

by eko
Oktober 8, 2026

Patriot Bengawan siap berlaga di PORPROV Jateng 2026. Kontingen Surakarta membidik posisi kedua dengan target 95 medali emas. Tabooo.id: Surakarta...

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

by teguh
September 25, 2026

Api kembali muncul di TPA Putri Cempo, Solo, Kamis 24/9/2026. Petugas sebelumnya terus membasahi titik panas setelah kebakaran besar melanda...

Next Post
Perancis, Jerman, dan Inggris Siap Ambil Langkah Defensif terhadap Iran

Perancis, Jerman, dan Inggris Siap Ambil Langkah Defensif terhadap Iran

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id