Selasa, Juni 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Antre Sejak Sore! Bubur Samin Jayengan Jadi Simbol Solidaritas Ramadan

by eko
Maret 2, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Masjid Darussalam kembali menjadi pusat perhatian setiap sore selama Ramadan 2026. Di Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, warga menggelar tradisi pembagian bubur samin seperti yang mereka lakukan selama puluhan tahun terakhir. Menjelang azan magrib, antrean panjang langsung memenuhi halaman masjid.

Tradisi ini bukan sekadar agenda berbagi takjil. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia telah menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Status itu menegaskan bahwa bubur samin bukan hanya makanan, melainkan bagian dari identitas budaya Solo.

Dari Perantau, Lahir Solidaritas

Wakil Ketua Takmir Masjid Darussalam sekaligus Ketua Panitia Ramadan 2026, Ma’yasin, menjelaskan bahwa para perantau asal Kalimantan Selatan memulai tradisi ini. Mereka datang ke Solo untuk mencari penghidupan. Sebagian meraih kesuksesan, sebagian lainnya tidak.

“Dulu orang tua kami merantau. Yang berhasil ingin berbagi dengan membawa makanan khas kampung untuk dinikmati bersama saat buka puasa,” ujar Ma’yasin, Minggu (1/3/2026).

Awalnya, mereka membawa berbagai jenis makanan. Suatu hari, seseorang memasak bubur samin. Rasanya cocok di lidah warga dan memberi efek hangat setelah disantap.

Ini Belum Selesai

Danantara Libatkan KPK Sebelum Hilirisasi Dimulai, Tata Kelola Jadi Sorotan

Beras Sulit Laku, Mentan Bicara Produksi Melimpah, Pedagang Soroti Daya Beli

“Sejak itu kami rutin memasak bubur samin setiap Ramadan,” jelasnya.

Para saudagar yang sukses kemudian menggalang iuran agar tradisi ini terus berjalan. Setiap tahun jumlah donatur bertambah. Warga yang membawa pulang bubur bahkan kerap membagikannya lagi ke tetangga.

“Manfaatnya tidak berhenti di masjid. Bubur ini sampai ke rumah-rumah,” kata Ma’yasin.

Produksi Naik Tiga Kali Lipat

Pada 1985–1987, panitia hanya memasak 10–15 kilogram bubur per hari. Kini mereka memasak 45–50 kilogram setiap hari. Jumlah itu setara 1.100 hingga 1.200 porsi.

Panitia menyediakan 150 porsi untuk jemaah yang berbuka di masjid. Sisanya mereka bagikan kepada warga untuk dibawa pulang. Setiap sore, warga rela mengantre demi semangkuk bubur hangat.

“Siapa pun boleh mengambil. Tidak hanya Muslim, warga non-Muslim juga kami persilakan,” tegas Ma’yasin.

Panitia mengelola kegiatan ini dengan dana sedekah warga Kalimantan Selatan, para saudagar, serta masyarakat sekitar. Donatur dari Singapura dan pemerintah kota juga ikut membantu, terutama dalam penyediaan beras selama tiga tahun terakhir.

Di tengah harga kebutuhan pokok yang naik-turun, tradisi ini memberi dampak nyata. Pekerja harian, lansia, dan keluarga berpenghasilan rendah merasakan manfaat langsung. Mereka tidak perlu memikirkan menu berbuka setiap hari.

Masak Empat Jam, Sajikan Kehangatan

Panitia mulai memasak selepas zuhur. Mereka merebus air, memasukkan beras, lalu menambahkan sayuran dan minyak samin. Dua tungku besar bekerja hingga menjelang asar.

Minyak samin hasil olahan lemak kambing memberi rasa gurih khas sekaligus sensasi hangat.

“Kalau kami pakai minyak biasa, rasanya berbeda. Samin ini yang membuat bubur terasa khas,” ujar salah satu panitia dapur.

Masjid Darussalam berdiri di atas tanah wakaf milik seorang abdi keraton bernama Jayeng. Pada 1980-an, pengurus merenovasi bangunan masjid hingga tampil lebih representatif seperti sekarang.

Ma’yasin menegaskan bahwa tradisi bubur samin dalam skala besar seperti ini hanya ada di Solo.

“Kami ingin tradisi ini terus berjalan. Kami ingin warga tetap merasakan kebersamaan lewat bubur samin,” pungkasnya.

Di tengah kota yang bergerak cepat dan biaya hidup yang ikut melesat, warga Jayengan memilih merawat solidaritas lewat panci besar dan tungku yang menyala karena kadang, perubahan sosial tidak lahir dari pidato panjang, tetapi dari dapur yang terus mengepul setiap Ramadan. @eko

Tags: PuasaRamadanSoloSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Dua Kirab Malam 1 Suro, Keraton Surakarta Masuk Zona Rawan?

Dua Kirab Malam 1 Suro, Keraton Surakarta Masuk Zona Rawan?

by Tabooo
Juni 9, 2026

Dua Kirab Malam 1 Suro di Keraton Surakarta disebut berpotensi digelar pada tanggal yang sama. Situasi ini memicu kekhawatiran karena...

Anti-Swapraja: Ketika Feodalisme Dianggap Musuh

Anti-Swapraja: Ketika Feodalisme Dianggap Musuh

by Tabooo
Mei 29, 2026

Gerakan anti swapraja Surakarta bukan sekadar penolakan terhadap keraton. Ia lahir dari benturan Republik, feodalisme, ketimpangan agraria, dan kemarahan kelas...

Surakarta dan Keistimewaannya: Luka yang Belum Usai

Surakarta dan Keistimewaannya: Luka yang Belum Usai

by Tabooo
Mei 25, 2026

Surakarta pernah memiliki dasar hukum sebagai daerah istimewa. Namun gejolak politik, konflik elite, dan keputusan pusat membuat status itu membeku...

Next Post
Perancis, Jerman, dan Inggris Siap Ambil Langkah Defensif terhadap Iran

Perancis, Jerman, dan Inggris Siap Ambil Langkah Defensif terhadap Iran

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id