Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Airlangga ke AS, Finalisasi Tarif Dagang Indonesia dan Amerika

by dimas
Desember 21, 2025
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Pemerintah Indonesia mengutus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan rincian akhir kesepakatan dagang bilateral yang diumumkan pada Juli lalu. Langkah ini menandai fase paling menentukan dalam hubungan ekonomi Jakarta-Washington, terutama ketika dinamika negosiasi terus memancing sorotan publik dan pelaku pasar.

Kesepakatan tersebut mencakup penurunan tarif impor produk Indonesia oleh Amerika Serikat dari 32 persen menjadi 19 persen. Pemerintah menilai penurunan tarif ini krusial karena menyangkut daya saing ekspor nasional, keberlanjutan industri padat karya, serta stabilitas hubungan dagang di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Airlangga Turun Langsung ke Meja Perundingan

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memastikan Airlangga memimpin langsung perundingan lanjutan dengan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR). Pemerintah memilih pendekatan ini untuk mempercepat pengambilan keputusan pada isu-isu teknis yang belum tuntas.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan bahwa keberangkatan Airlangga menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menutup proses negosiasi.

“Airlangga saat ini sedang menuju Amerika Serikat untuk memfinalisasi kesepakatan,” ujar Haryo.

Ini Belum Selesai

Kirab Pusaka di Tengah Dualisme: Tradisi atau Legitimasi?

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

Pemerintah berharap kehadiran pejabat setingkat menteri mampu membuka ruang kompromi yang lebih luas, sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia.

Sawit Menjadi Titik Tekan Negosiasi

Dalam perundingan kali ini, Indonesia memusatkan perhatian pada minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Airlangga menilai Amerika Serikat belum memberikan perlakuan setara terhadap CPO, meskipun AS telah mengecualikan sejumlah komoditas pertanian lain dari tarif impor.

“Perintah eksekutif itu sudah mencakup kopi, kakao, dan komoditas lainnya. Saat ini, pembahasan tinggal menyisakan CPO dan produk turunannya,” ujar Airlangga.

Bagi Indonesia, CPO tidak hanya berfungsi sebagai komoditas ekspor unggulan. Industri sawit menopang ekonomi jutaan petani dan pekerja, sehingga kebijakan tarif AS akan langsung memengaruhi harga, pendapatan, dan stabilitas daerah penghasil.

Komitmen Impor dan Isu Kepercayaan

Dalam kerangka kesepakatan Juli, Indonesia menyatakan kesiapan meningkatkan impor energi, produk pertanian, dan pesawat terbang dari Amerika Serikat dengan nilai miliaran dolar AS. Pemerintah memasukkan komitmen ini sebagai upaya menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara.

Namun, proses negosiasi memunculkan ketegangan baru. Sejumlah pejabat AS menilai Indonesia mengubah sebagian komitmen awal. Seorang pejabat AS bahkan menyebut Jakarta menarik kembali kesepakatan yang telah dibahas. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyampaikan keraguan dengan menyebut Indonesia mulai menunjukkan sikap enggan.

Pemerintah Indonesia langsung membantah tudingan tersebut. Haryo Limanseto menegaskan bahwa perundingan masih berjalan dan perbedaan pandangan merupakan bagian wajar dari diplomasi dagang.

“Proses negosiasi selalu dinamis. Pemerintah berharap kedua pihak segera mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan,” tegasnya.

Taruhan Ekonomi di Balik Kesepakatan

Dalam kesepakatan yang diumumkan pada Juli lalu, Indonesia menyetujui penghapusan tarif atas lebih dari 99 persen produk asal Amerika Serikat dan membuka seluruh hambatan nontarif bagi perusahaan AS. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat menurunkan tarif impor produk Indonesia menjadi 19 persen.

Presiden AS Donald Trump saat itu menyebut kesepakatan ini sebagai kemenangan besar bagi industri, pekerja, petani, dan pelaku manufaktur Amerika. Di sisi lain, pemerintah Indonesia berharap perjanjian ini mampu memperkuat kinerja ekspor nasional sekaligus menarik investasi asing.

Data USTR mencatat defisit perdagangan barang Amerika Serikat dengan Indonesia mencapai 17,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp 299 triliun pada 2024. Angka tersebut naik 5,4 persen dibanding tahun sebelumnya dan menjadi latar kuat bagi tekanan Washington untuk menuntaskan kesepakatan.

Airlangga menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan penandatanganan resmi perjanjian ini oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump pada tahun depan.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, negosiasi dagang kini bukan lagi sekadar soal tarif. Proses ini menjadi ujian konsistensi, daya tawar, dan kemampuan negara menjaga kepentingan nasional tanpa kehilangan arah sebelum mencapai garis akhir. @dimas

Tags: DagangEkonomi IndonesiaEksporGlobalIndustriInternasionalNegosiasiPerdagangan

Kamu Melewatkan Ini

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

by teguh
Juni 13, 2026

Pemerintah selama bertahun-tahun mengandalkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, temuan terbaru Bank Dunia menunjukkan...

Investor Sudah Datang, Tapi Mesin Negara Masih Pemanasan?

Investor Sudah Datang, Tapi Mesin Negara Masih Pemanasan?

by teguh
Juni 12, 2026

"Rakyat tidak membutuhkan narasi kemenangan. Rakyat membutuhkan bukti bahwa negara bekerja." Pernyataan pengamat politik Rocky Gerung itu mungkin terdengar sederhana....

Rupiah Sekarat, Rakyat Melarat

Rupiah Sekarat, Rakyat Melarat

by Tabooo
Juni 10, 2026

Rupiah melemah tidak hanya terasa di pasar uang. Ia masuk ke dapur, pom bensin, toko elektronik, bengkel, dan meja makan...

Next Post
Martina Ayu Pratiwi: Tujuh Medali, Satu Nama Paling Tangguh

Martina Ayu Pratiwi: Tujuh Medali, Satu Nama Paling Tangguh

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id