Tabooo: Film – Akhirnya, film zombi lokal yang gak malu-maluin. Abadi Nan Jaya sudah redmi tayang di Netflix. Film ini bukan cuma pamer darah dan jeritan, tapi berhasil bikin mayat hidup terasa… masuk akal.
Di tengah kebiasaan film horor kita yang sering “asal serem”, karya Kimo Stamboel ini datang membawa hal langka, yaitu naskah yang sadar konteks, logika yang gak maksa, dan keberanian buat bikin jamu gagal BPOM jadi pemicu kiamat kecil.
1. Wabah Dimulai dari Jamu
Premisnya sederhana tapi brilian: satu produk jamu yang ditolak izin BPOM, dan bum … Desa Wanirejo jadi lahan eksperimen antara manusia dan mayat hidup.
Di tangan Kimo Stamboel, konsep yang kedengarannya “lebay” ini malah terasa logis dan relevan.
Kita tahu betul betapa kuatnya budaya jamu di Indonesia, dan film ini menjadikannya medium kritik sosial. Dari kepercayaan rakyat, sistem kesehatan, sampai birokrasi yang sering bikin penyakit baru ketimbang nyembuhin.
Mikha Tambayong dan Marthino Lio tampil meyakinkan sebagai orang biasa yang dipaksa heroik. Donny Damara menambah kedalaman emosional, seolah berkata “Di negeri ini, kadang yang mati justru lebih jujur dari yang hidup”.
2. Zombinya Gak Kaleng-Kaleng
Zombi di Abadi Nan Jaya bukan sekadar figuran berdarah-darah, tapi entitas dengan karakter. Gerakannya agresif, instingtif, dan untuk pertama kalinya di film lokal, bikin kita lupa kalau ini produksi Indonesia.
Efek praktikalnya gila: darah muncrat, daging sobek, dan adegan ngilu yang bikin popcorn nyaris tumpah. Make-up-nya presisi sampai ke detail kulit busuk yang bereaksi sama air.
Emang ada beberapa efek ledakan yang masih “kurang greget”, tapi untuk level produksi lokal, ini udah mendekati standar internasional. Dan yang paling penting, film ini ngerti kapan harus ngeri dan kapan harus mikir.
3. Ketika Zombi Terasa Wajar
Yang bikin Abadi Nan Jaya istimewa adalah kejujuran tonenya. Kimo gak berusaha bikin film ini “terlalu keren” kayak adaptasi barat, tapi juga gak jatuh ke parodi. Ia menghadirkan dunia di mana zombi adalah bagian dari keseharian, dan manusia tetap ribut karena urusan pribadi, bahkan saat kiamat di depan mata.
Kamera menyorot konflik manusia dengan manusia lebih sering daripada manusia lawan zombi, dan di situlah film ini hidup, bahwa ancaman terbesar bukan wabah, tapi ego.
Abadi Nan Jaya adalah bukti bahwa film horor Indonesia bisa matang tanpa kehilangan identitas lokal. Dengan durasi 116 menit, film ini berdarah, berisik, tapi punya jiwa.
Sebuah eksperimen sosial berbungkus zombi, yang akhirnya berhasil bikin kita percaya bahwa kengerian paling nyata justru tumbuh dari budaya yang terlalu yakin dirinya kebal.





