Tabooo.id: Life – Senja selalu datang pelan di Yogyakarta. Lampu jalan menyala satu per satu, sementara klakson bersahutan di perempatan. Di tengah riuh itu, Ryaas Amin menarik gas motornya. Jaket hijau ojek online menempel di tubuhnya, ponsel di dashboard menyala menampilkan pesanan berikutnya.
Pada siang hari, ia duduk di bangku kuliah Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi pengantar makanan yang menyusuri gang sempit. Dua dunia ini tampak berlawanan, tetapi bertemu dalam satu tujuan bertahan, mandiri, dan terus melangkah.
Bagi Ryaas, hidup bukan soal memilih jalan paling nyaman. Sebaliknya, hidup adalah keberanian berjalan meski jalannya berliku dan sunyi.
Restu yang Tenang, Tekad yang Keras
Keputusan Ryaas untuk kuliah sambil bekerja lahir dari kebutuhan sekaligus keyakinan. Ia ingin membayar kuliahnya sendiri. Ia juga ingin merasakan arti berdiri di atas kaki sendiri sejak dini.
Orang tuanya memberi dukungan dengan cara sederhana. Tidak ada sorakan atau tuntutan. Mereka hanya meminta satu hal: keseimbangan antara kuliah dan kerja. Kalimat singkat itu menjadi kompas bagi Ryaas di tengah padatnya hari.
Dengan restu yang tenang itu, Ryaas melangkah tanpa rasa bersalah. Ia tidak sedang membuktikan apa pun kepada siapa pun. Ia hanya ingin jujur pada dirinya sendiri.
Kota Pelajar dan Kenyataan yang Lebih Kompleks
Yogyakarta sering dipuja sebagai kota mahasiswa yang ramah dan terjangkau. Namun di balik romantisme itu, realitas berjalan lebih rumit. Biaya hidup perlahan naik. Kebutuhan mahasiswa bertambah. Tidak semua orang memiliki privilese untuk bergantung penuh pada orang tua.
Karena itu, bekerja sambil kuliah kini menjadi pilihan yang semakin lazim. Ada yang bekerja di kafe, menjaga toko, menjadi asisten dosen, hingga mengantar makanan seperti Ryaas. Pilihan ini bukan sekadar soal uang, melainkan cara bertahan di sistem yang menuntut kemandirian lebih cepat.
Ryaas memilih ojek online karena fleksibilitas. Ia bisa mengatur jam kerja sesuai ritme kuliah. Saat tugas menumpuk, ia berhenti. Ketika waktu memberi celah, ia kembali ke jalan.
Waktu sebagai Negosiasi Harian
Namun fleksibilitas tidak berarti mudah. Setiap hari, Ryaas bernegosiasi dengan waktu. Pagi untuk kuliah. Siang untuk membaca dan menyusun tugas. Sore hingga malam ia gunakan untuk bekerja. Di sela-sela itu, ia mencuri waktu istirahat.
Menurut Ryaas, penghasilan bisa diatur, tetapi disiplin tidak bisa ditawar. Ada hari-hari ketika tubuh lelah dan pesanan sepi. Ada pula saat hujan turun bersamaan dengan tugas yang menumpuk. Meski begitu, ia tetap bergerak.
Baginya, keinginan selalu datang bersama tanggung jawab untuk mengusahakannya.
Motor Pinjaman dan Kepercayaan
Ryaas memulai semuanya tanpa fasilitas lengkap. Ia menggunakan motor pinjaman dari kakak dan pamannya secara bergantian. Kendaraan itu ia rawat seperti milik sendiri, karena ia paham satu hal: kepercayaan adalah modal paling mahal.
Dari motor itulah ia membayar biaya kuliah. Dari perjalanan itu pula ia belajar banyak hal. Ia belajar menahan emosi saat alamat tidak jelas. Ia belajar menerima keluhan pelanggan. Ia juga belajar bahwa satu bintang di aplikasi tidak selalu mencerminkan niat baik seseorang.
Di jalanan, teori psikologi yang ia pelajari di kelas menemukan bentuk nyatanya.
Kampus sebagai Ruang Strategi
Meski bekerja, Ryaas tidak pernah menomorduakan kuliah. Sejak awal semester, ia menyusun strategi. Ia memilih mata kuliah dengan mempertimbangkan beban SKS. Ia menghitung waktu secara realistis.
Saat masa KRS tiba, ia tidak hanya berpikir soal minat akademik, tetapi juga kapasitas diri. Dengan cara itu, ia menjaga agar kuliah dan kerja tidak saling menjatuhkan.
Bagi Ryaas, pendidikan tetap prioritas. Kerja hanyalah penopang agar mimpi tetap berjalan.
Mandiri di Tengah Sistem yang Tidak Selalu Ramah
Di sinilah paradoks muncul. Di satu sisi, Ryaas bangga bisa mandiri. Namun di sisi lain, ia sadar tidak semua mahasiswa bekerja karena ingin belajar hidup. Banyak yang bekerja karena terpaksa.
Ryaas memiliki keluarga yang mendukung dan lingkungan yang relatif aman. Namun di luar sana, banyak mahasiswa menanggung beban ganda tanpa jaring pengaman. Mereka kelelahan, tetapi tetap dituntut berprestasi.
Kisah Ryaas, karena itu, bukan sekadar cerita inspiratif. Ia adalah potret generasi yang terus bernegosiasi dengan realitas.
Sikap Tabooo: Jangan Meromantisasi Lelah
Tabooo melihat kerja sambil kuliah bukan sebagai lencana heroik yang wajib dipakai semua orang. Kerja keras memang patut dihargai, tetapi tidak boleh dijadikan romantika kosong.
Anak muda tidak seharusnya dipaksa dewasa terlalu cepat, lalu diberi tepuk tangan dari jauh. Kampus perlu lebih peka. Negara perlu lebih hadir. Sistem perlu memberi ruang agar pilihan hidup tidak selalu berarti pengorbanan berlebihan.
Ryaas tidak butuh pujian berlebihan. Ia butuh ruang yang adil untuk tumbuh.
Mengantar Pesanan, Menjemput Masa Depan
Kini, penghasilan Ryaas bisa mencapai sekitar Rp3 juta per bulan. Angka itu baginya bukan sekadar nominal. Ia adalah simbol kemandirian. Ia membiayai dirinya sendiri.
Ryaas ingin mewujudkan keinginannya dengan usahanya sendiri. Jika gagal, ia tidak ingin menyeret orang tuanya ke dalam rasa bersalah.
Di jalanan Yogyakarta, Ryaas terus mengantar pesanan. Namun sesungguhnya, ia sedang menjemput masa depan pelan, lelah, dan jujur.
Pertanyaannya kemudian bergeser berapa banyak Ryaas lain yang berjalan tanpa sorotan, hanya bermodal tekad dan motor pinjaman?
Dan apakah kita cukup berani memperbaiki sistem, atau sekadar nyaman menyebut mereka inspirasi sebelum kembali lupa? @dimas





