Tabooo.id: Teknologi – Pernah kebayang nggak, merek HP yang biasa kamu pegang buat scroll TikTok atau balas chat, tiba-tiba parkir di garasi dalam bentuk mobil listrik? Kedengarannya absurd, tapi itulah yang sedang terjadi sekarang. Dunia teknologi lagi senang-senangnya bikin kita bengong. Setelah HP makin pintar, sekarang giliran pabrikan HP yang nekat masuk ke jalan raya.
Fenomena ini bukan sekadar eksperimen iseng. Sejumlah pabrikan handphone asal China perlahan tapi pasti ikut mengembangkan kendaraan listrik alias EV. Salah satu nama yang paling ramai dibicarakan tentu saja Xiaomi. Brand yang selama ini identik dengan smartphone murah-berfitur-dewa itu kini serius menjajal dunia otomotif.
Dari Smartphone ke Setir Mobil
Xiaomi resmi masuk ke sektor mobil listrik pada 2024. Mereka langsung tancap gas lewat peluncuran mobil listrik pertamanya, Xiaomi SU7, pada Maret 2024. Langkah ini langsung mengundang perhatian global, karena Xiaomi tidak datang sebagai pemain kecil.
Bahkan, berdasarkan data Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA), Xiaomi SU7 mencatat penjualan 258.164 unit sepanjang 2025 di China. Angka ini unggul sekitar 30 persen dari Tesla Model 3 yang hanya terjual 200.361 unit. Buat ukuran “anak baru”, pencapaian ini jelas bukan main-main.
Dalam EVolution Indonesia Forum yang digelar CNN Indonesia pada Selasa (3/02/2026), Deputi Perniagaan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo menyoroti fenomena ini. Ia menyebut, dalam 2–3 tahun terakhir, salah satu merek handphone bahkan berhasil menempati posisi dua besar penguasaan pasar mobil listrik di China. Meski tak menyebut nama secara eksplisit, publik tahu arah pembicaraannya ke Xiaomi.
Inovasi Jadi Senjata Utama
Menurut Ali, kunci keberhasilan pabrikan China terletak pada satu kata inovasi. Mereka tidak menunggu pasar siap. Sebaliknya, mereka membentuk pasar itu sendiri. Banyak pabrikan mobil China bahkan berangkat dari pabrik baterai, bukan dari industri otomotif konvensional.
Ali memberi contoh, ada perusahaan baterai yang berdiri sejak 1995, lalu masuk ke industri mobil listrik pada 2023. Dalam waktu singkat, perusahaan itu langsung menjadi salah satu pemain terbesar dan kini sudah hadir di Indonesia. Pola ini menunjukkan satu hal penting ekosistem lebih penting daripada sekadar produk.
Di titik ini, China tidak sekadar menjual mobil. Mereka menjual sistem. Mulai dari baterai, software, hingga integrasi teknologi digital, semuanya mereka kuasai sendiri. Maka wajar jika brand HP merasa “nyambung” masuk ke dunia EV.
Lifestyle Baru: Mobil Jadi Gadget Raksasa
Kalau ditarik ke lifestyle, pergeseran ini terasa sangat relevan. Buat Gen Z dan milenial, mobil bukan lagi sekadar alat transportasi. Mobil berubah menjadi gadget raksasa yang bisa update software, terhubung ke ekosistem digital, dan terasa personal.
HP dan mobil kini berbagi DNA yang sama: layar besar, UI ramah pengguna, dan pengalaman digital yang seamless. Xiaomi paham betul ini. Mereka tidak menjual mesin semata, tapi pengalaman. Dari cara membuka pintu sampai mengatur hiburan, semuanya terasa seperti memakai smartphone.
Secara psikologis, tren ini menjawab kebutuhan generasi modern yang ingin hidup serba praktis dan terintegrasi. Kita ingin satu ekosistem yang saling terhubung, bukan perangkat yang berdiri sendiri. Maka, ketika brand HP masuk ke mobil listrik, langkah itu terasa logis, bukan nekat.
Indonesia dalam Pusaran EV Global
EVolution Indonesia Forum sendiri memperlihatkan betapa seriusnya isu EV di Tanah Air. Forum ini mempertemukan pemerintah, industri, hingga pengamat otomotif dan energi. Sesi dialog menghadirkan nama-nama penting seperti Dirjen ILMATE Kemenperin Setia Diarta, Sekretaris Gaikindo Kukuh Kumara, hingga CEO VinFast Indonesia Kariyanto Hardjosoemarto.
Di sesi lain, Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Eniya Lestiani tampil sebagai keynote speaker bersama perwakilan PLN dan asosiasi industri kendaraan listrik. Semua diskusi mengarah ke satu tujuan membangun ekosistem EV yang kuat dan berkelanjutan di Indonesia.
Dalam konteks ini, Ali menyebut pabrikan China sebagai mitra strategis. Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tapi juga bagian dari rantai ekosistem global EV.
Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?
Perpaduan dunia HP dan mobil listrik bukan sekadar kabar industri. Ini soal perubahan cara hidup. Ke depan, pilihan mobil mungkin tidak lagi soal merek otomotif legendaris, tapi soal ekosistem digital yang paling cocok dengan gaya hidupmu.
Apakah kamu tipe yang ingin mobil terasa seperti smartphone? Atau justru rindu sensasi mobil konvensional tanpa notifikasi? Apa pun pilihannya, satu hal jelas batas antara gadget dan kendaraan makin tipis.
Dan mungkin, beberapa tahun lagi, kamu tidak akan heran lagi saat brand HP favoritmu mengajak test drive. Karena di era sekarang, teknologi tidak lagi bertanya “boleh atau tidak”. Teknologi langsung melaju. @teguh





