Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

KPK Dalami Pemerasan Pengisian Perangkat Desa di Pati

by dimas
Februari 3, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menguliti dugaan praktik pemerasan dalam pengisian jabatan perangkat desa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Perkara ini menyeret Bupati Pati nonaktif Sudewo dan membuka tabir dugaan jual beli kursi aparatur desa yang berlangsung secara terstruktur.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan penyidik kini memusatkan perhatian pada alur dan tahapan penyerahan uang, mulai dari calon perangkat desa hingga ke tangan para tersangka. Penyidik mendalami hal tersebut saat memeriksa tiga saksi dari unsur perangkat desa, yakni Rukin, Karyadi, dan Suranta, di Polda Jawa Tengah, Senin (2/2/2026).

“Saksi hadir semua. Penyidik mendalami alur dan tahapan penyetoran uang oleh para pihak yang akan mengisi posisi calon perangkat desa,” ujar Budi, Selasa (3/2/2026).

Selain menelusuri aliran dana, penyidik menggali keterangan mengenai mekanisme resmi pengisian formasi perangkat desa. KPK ingin membandingkan prosedur normatif dengan praktik di lapangan yang sarat pungutan.

Rekrutmen Menyimpang Sejak Awal

KPK mengungkap perkara ini bermula pada akhir 2025 ketika Pemerintah Kabupaten Pati merencanakan pembukaan pengisian perangkat desa pada Maret 2026. Pada saat itu, terdapat 601 jabatan perangkat desa yang kosong.

Ini Belum Selesai

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Sudewo diduga memanfaatkan situasi tersebut. Ia membahas peluang penggalangan uang bersama tim sukses dan orang-orang kepercayaannya. Dalam skema ini, beberapa kepala desa menerima peran sebagai koordinator di tingkat kecamatan.

Sejak November 2025, tim tersebut secara intensif membicarakan rencana pengisian jabatan. Abdul Suyono, Kepala Desa Karangrowo, dan Sumarjiono, Kepala Desa Arumanis, kemudian menghubungi para kepala desa di wilayah masing-masing. Keduanya menginstruksikan pengumpulan uang dari para calon perangkat desa.

Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu menjelaskan, atas arahan Sudewo, Suyono dan Sumarjiono menetapkan tarif Rp 165 juta hingga Rp 225 juta per calon perangkat desa. Keduanya menaikkan angka itu dari tarif awal Rp 125 juta sampai Rp 150 juta.

Aliran Dana Terorganisasi

Skema pungutan tersebut berjalan luas. Hingga 18 Januari 2026, Sumarjiono mengumpulkan sekitar Rp 2,6 miliar dari delapan kepala desa di Kecamatan Jaken.

Sumarjiono bersama Karjan, Kepala Desa Sukorukun, menghimpun dana tersebut lalu menyerahkannya kepada Suyono. Setelah itu, Suyono diduga meneruskan uang ke Sudewo.

Menurut KPK, pola ini menunjukkan adanya sistem berjenjang dalam praktik pemerasan, bukan sekadar tindakan perorangan.

Empat Orang Berstatus Tersangka

KPK menetapkan empat orang sebagai tersangka, yakni Sudewo selaku Bupati Pati nonaktif, Abdul Suyono, Sumarjiono, dan Karjan.

Dalam perkara ini, KPK menjerat para tersangka dengan Pasal 12 huruf e Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 20 huruf c KUHP.

Warga Desa Menanggung Beban

Kasus ini tidak hanya menyangkut pejabat daerah. Dampaknya langsung menghantam desa dan warganya.

Ketika jabatan perangkat desa diperjualbelikan, kualitas aparatur terancam merosot. Mereka yang lolos bukan lagi yang paling kompeten, melainkan yang paling kuat secara finansial.

Kondisi tersebut berpotensi menurunkan mutu pelayanan publik di desa. Program bantuan rawan salah sasaran. Administrasi pemerintahan bisa kacau. Pada saat yang sama, kepercayaan warga terhadap pemerintah desa ikut terkikis.

Calon perangkat desa yang tidak memiliki modal besar kehilangan peluang sejak awal, meski memiliki kapasitas dan integritas.

Saat Kursi Desa Menjadi Komoditas

Skandal ini menunjukkan bagaimana jabatan di tingkat paling bawah pemerintahan dapat berubah menjadi komoditas.

Ketika kursi desa memiliki harga ratusan juta rupiah, pelayanan publik sejak awal menanggung beban korupsi.

Pertanyaannya sederhana jika seseorang harus membayar mahal untuk masuk, dari mana ia akan mengembalikan uang tersebut? Dari gaji semata, atau dari kantong warga?

Di titik inilah korupsi tidak lagi tampak sebagai kejahatan elitis, melainkan sebagai beban yang perlahan dipikul masyarakat desa. @dimas

Tags: Budi PrasetyoBupati PatiDaerahjual beli jabatanKorupsi di IndonesiaKPKKriminal & HukumPemberantasanPemerintahanPerangkat DesaSkandalSudewo

Kamu Melewatkan Ini

Drama Madiun Belum Tuntas: Giliran Bagus Panuntun Diperiksa KPK

Drama Madiun Belum Tuntas: Giliran Bagus Panuntun Diperiksa KPK

by Tabooo
Mei 11, 2026

Bagus Panuntun diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan pemerasan yang menyeret Wali Kota Madiun nonaktif, Maidi. Dari luar, ini...

Konsep Otomatis

Pemerintah Madiun dalam Sorotan KPK: Ketika Sistem Terlalu Lama Dibiarkan

by jeje
Mei 11, 2026

Di Kota Madiun, cerita itu seperti membuka bab baru dari buku lama. Sebab, kasus yang kini menyeret sejumlah nama di...

IKN Dipuji Dunia, Tapi Kenapa Sebagian Warga Masih Ragu?

IKN Dipuji Dunia, Tapi Kenapa Sebagian Warga Masih Ragu?

by teguh
Mei 11, 2026

Kalau badan PBB mulai melirik Ibu Kota Nusantara (IKN) bahkan IKN dipuji dunia, apa itu bikin kamu lebih yakin proyek...

Next Post
Saudah, Tambang Ilegal, dan Sunyinya Perlindungan Negara

Nenek Saudah, Tambang Ilegal, dan Sunyinya Perlindungan Negara

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id