Tabooo.id: Vibes – Jika Surabaya punya denyut nadi lama yang masih terasa, maka ia berdetak di Pasar Tunjungan. Di tengah gedung bergaya kolonial yang mulai pudar catnya, aroma kopi, gorengan, dan buah segar bercampur dengan jejak sejarah. Anak muda kini berbondong-bondong ke sini bukan untuk belanja bahan pokok, tapi untuk mengejar estetika retro, kuliner murah, dan photobooth bergaya koran lawas sebuah nostalgia visual yang manis di jari-jari mereka.
Pasar ini lahir pada 1923, ketika Surabaya masih di bawah bayang-bayang kolonial Belanda. Jalan Tunjungan bukan sekadar jalur komersial ia menjadi magnet bagi kaum borjuis Belanda untuk bersantai, minum kopi, dan berbelanja. Gedung ini juga menjadi markas strategi para pejuang Surabaya saat pertempuran 10 November 1945. Jejak langkah sejarah itu masih terasa, seolah setiap sudut pasar menyimpan rahasia perjuangan.
Kios dan Los: Ragam Dagangan Masa Lalu
Sejak 1979, Pasar Tunjungan resmi menjadi pasar aktif. Pedagang menempati kios permanen dengan dinding dari lantai ke langit-langit atau los fleksibel yang bisa diubah sesuai kebutuhan. Barang dagangan beragam, dari buah segar hingga elektronik. Namun seiring perubahan pola belanja, lantai dua mulai kosong, eskalator berhenti berfungsi, dan beberapa bagian gedung mengalami vandalisme.
Kehidupan selalu menemukan celah. Komunitas pengusaha muda “Pasar Kita-kita” mengubah ruang kosong lantai satu menjadi pusat kreatif dan kuliner. Aroma makanan legendaris kembali memenuhi lorong-lorong. Anak muda datang untuk berburu spot foto estetik, bukan hanya membeli kebutuhan rumah tangga. Lantai bawah kembali hidup meski lantai dua sebagian besar masih terbengkalai.
Pasar sebagai Panggung Digital dan Sosial
Pasar Tunjungan kini bagaikan mesin waktu yang menyatu dengan digital. Bangunan klasik, signage retro, dan lorong sempit tetap hadir, sementara photobooth bergaya koran lawas, kafe kecil, dan jajanan kreatif menjadi viral di media sosial. Anak muda menikmati kuliner sambil mengabadikan momen untuk Instagram dan TikTok. Pasar yang dulu soal perdagangan kini menjadi panggung visual dan sosial.
Di sini, kita belajar bahwa ruang fisik bisa berubah fungsi tanpa kehilangan identitas. Anak muda menikmati proses antrean makanan legendaris, mencari sudut foto terbaik, merasakan atmosfer Surabaya tempo dulu. Sejarah dan tren modern bersinggungan, menciptakan pengalaman yang tidak bisa ditemukan di mal-mall besar.
Pesona Sederhana yang Menginspirasi
Pasar Tunjungan, dengan keriput cat dan lorong tak terawat, menjadi kanvas bagi kreativitas dan nostalgia. Budaya tidak selalu tentang megah dan baru; kadang hadir di celah sederhana, di aroma gorengan, lantai yang berdecit, dan tawa anak muda yang mencari estetika di tengah kenangan kota.
Akhirnya, Pasar Tunjungan bukan sekadar tempat berjualan atau makan. Ia saksi hidup yang mengingatkan kita zaman boleh berganti, cara menikmati kota bisa berubah, tapi kenangan, rasa, dan cerita selalu menemukan jalannya. Di lorong sempit ini, masa lalu dan masa kini berdansa, sambil menunggu generasi berikutnya menulis bab baru di dindingnya yang masih berdiri tegak meski berdebu dan berwarna pudar. @Sabrina Fidhi-Surabaya




