Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hukum Tegas ke Bawah, Lunak ke Atas: Ironi Restorative Justice di Indonesia

by dimas
Februari 2, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernah nggak sih kamu merasa hukum itu seperti kopi kekinian manis di bibir, tapi pahit di perut? Ambil contoh tukang parkir liar. Dulu dianggap sepele cuma minta uang receh sambil menatap kendaraan kita dengan tatapan “serius tapi santai.” Kini, KUHP baru menegaskan praktik itu serius. Aparat langsung menindak siapa pun yang memaksa orang membayar uang parkir. Sayangnya, ketegasan hukum ini sering hanya berlaku pada warga kecil, sementara tekanan sosial dan dominasi kuasa dari pihak lain sering lolos begitu saja.

Tukang Parkir Liar dan Relasi Kuasa

Mari mulai dari hal sederhana tukang parkir liar. Kriminologi menilai tindakan meminta uang dengan paksaan ancaman verbal, takut kendaraan dirusak, atau tekanan psikologis tidak lagi sepele. Nominal uang tidak lagi jadi ukuran yang menentukan adalah relasi kuasa antara pelaku dan korban. Dengan kata lain, siapa yang punya otoritas untuk memaksa? Selain itu, rasa takut sering lebih tajam daripada dompet yang tipis. Jadi jelas, hukum yang tegas terhadap praktik ini menandai perubahan besar dalam cara negara menilai kejahatan sehari-hari.

Masalah muncul ketika hukum berjalan tidak simetris. Ingat kasus Sleman? Suami korban penjambretan justru dijadikan tersangka, padahal ia bereaksi spontan terhadap kejahatan. Dua pelaku meninggal, tapi korban dikriminalisasi. Bukankah ini ironis? Negara yang tegas terhadap “pemerasan parkir liar” tampak bingung saat menghadapi relasi kuasa kompleks. Maka, pertanyaan muncul apakah ini benar-benar keadilan restoratif, atau sekadar jalan pintas moral yang memindahkan beban ke korban?

Restorative Justice: Filosofi vs Kenyataan

Sekarang mari kita bahas restorative justice (RJ). Filosofinya cantik kejahatan bukan hanya soal melanggar aturan, tapi konflik sosial yang harus dipulihkan. RJ menekankan tanggung jawab, pemulihan relasi, dan pengurangan trauma. Sounds ideal, kan? Namun kenyataannya sering berbeda. Jika korban harus memberikan “tali asih” kepada keluarga pelaku, itu bukan pemulihan itu reviktimisasi. Bahkan, situasi itu bisa mendekati pemerasan nonformal meski sah secara yuridis. RJ seharusnya diterapkan sukarela, setara, dan jelas. Tanpa itu, mekanisme ini justru menambah luka, bukan menyembuhkan.

Abuse of Power yang Tak Terlihat

Fenomena ini tidak berhenti di Sleman. Contoh lain kasus penjual es gabus yang dituding menggunakan bahan berbahaya. Aparat memaksa pembuktian, mempermalukan, dan menekan warga dengan otoritas mereka. Akhirnya kasus “selesai damai” setelah viral. Tapi coba pikir apakah perdamaian itu lahir dari kesetaraan posisi, atau karena ketidakberdayaan korban? Kriminologi menyebut ini structural coercion paksaan dari dominasi simbolik, bukan ancaman eksplisit. Dengan kata lain, kekuasaan simbolik kadang lebih mematikan daripada ancaman nyata.

Ini Belum Selesai

Karhutla Terus Berulang, Mengapa Negara Tak Belajar?

Tradisi Tidak Cukup Dikenang, Siapa yang Akan Menjaganya?

Ironisnya, standar hukum kita jadi ganda. Pemerasan oleh tukang parkir dianggap serius, tapi tekanan moral dalam bingkai RJ atau abuse of power aparat sering lolos. Hukum tampak tegas ke bawah, tapi lunak ke atas. Akibatnya, warga hanya bisa mengangkat alis sambil bertanya “Serius nih, negara?”

Kalau kamu pikir itu lucu, coba lihat kasus “hakim boneka” di MK. Dua orang bisa masuk dan mengubah konstelasi hakim, sehingga independensi lembaga bisa mati suri. Sama seperti hukum jalanan yang inkonsisten, struktur yang seharusnya melindungi warga bisa berubah menjadi instrumen kekuasaan.

Tabooo: Hukum Harus Tegas dan Adil

Dari perspektif Tabooo, negara harus konsisten. Restorative justice memang bisa menjadi alat pemulihan, tapi jika diterapkan timpang, ia justru menambah ketidakadilan. Hukum tidak hanya soal menghukum pelaku, tapi juga melindungi yang lemah dari siapa pun yang memegang kuasa. Tanpa itu, hukum hanya menjadi alat represif yang menakutkan warga kecil sekaligus memberi “topeng moral” bagi mereka yang punya otoritas.

Jadi, kamu di kubu mana? Mendukung tegasnya hukum terhadap semua pemerasan, atau setuju bahwa keadilan harus melihat konteks, relasi kuasa, dan posisi korban? Atau, mungkin kamu cuma ingin duduk di kafe, menyeruput kopi, dan menatap dunia hukum yang ironis ini sambil tersenyum getir? @dimas

Tags: KeadilankekuasaanKetimpanganKorupsi di IndonesiaKriminal & HukumNasionalOpiniPemerasanRestorative JusticeSosialTalk

Kamu Melewatkan Ini

Tradisi Harus Dipercaya atau Cukup Dilestarikan?

Tradisi Harus Dipercaya atau Cukup Dilestarikan?

by eko
Agustus 20, 2026

Haruskah generasi muda percaya semua mitos di balik tradisi? Sekaten menunjukkan budaya tetap hidup meski cara pandang berubah. Tabooo.id -...

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Excerpt: Kartu Kredit Indonesia resmi meluncur. Bersamaan dengan itu, BI memperluas MDR QRIS 0% mulai 1 Oktober 2026 untuk transaksi...

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Prabowo meminta RUU Perampasan Aset dipercepat. DPR masih menjaring masukan publik. Tantangannya bukan cuma pengesahan, tetapi memastikan aset hasil kejahatan...

Next Post
Disabilitas Bukan Batas: Perjuangan Bariah Raih Pendidikan dan Karier

Disabilitas Bukan Batas: Perjuangan Bariah Raih Pendidikan dan Karier

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id