Jumat, Mei 15, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Keteladanan dan Kesederhanaan: PB XIV Sholat Jumat Tanpa Pengawalan

by dimas
Januari 30, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Jumat siang, Surakarta terasa berbeda. Dari balik gerbang Masjid Raya Sheikh Zayed, suara azan lembut bergema, menandai waktu sholat yang sakral. Di dalam masjid, ketenangan menyelimuti seluruh ruang. SISKS Pakoe Boewono XIV, Sinuhun Kraton Surakarta, menunaikan sholat Jumat. Tak ada kamera yang memotret, tak ada wartawan yang mendesak kesunyian dan khidmat dijaga rapat.

Seorang abdi dalem hampir berbisik saat menata ruang untuk Sinuhun. “Biar khusyuk, biar tenang,” ujarnya. Di negeri yang mengaku demokratis, bahkan seorang raja memerlukan ruang privat untuk menenggelamkan diri dalam spiritualitas. Ironisnya, kesederhanaan itu justru menjadi sorotan publik karena jutaan mata ingin mengintip sekilas kehidupan elite budaya di balik pagar.

Tradisi dan Ibadah di Tengah Sorotan

Pada Jumat (30/1/2026), Pakoe Boewono XIV menunaikan sholat bersama abdi dalem Kraton. Setelah beribadah, Sinuhun diajak berkeliling masjid oleh takmir, menyusuri arsitektur megah yang menjadi kebanggaan masyarakat Solo. Langit-langit berornamen, dinding bercahaya, dan ruang utama yang luas tampak semakin agung di mata yang terbiasa dengan kemewahan.

Aktivitas ini tidak sekadar soal keindahan visual. Tindakan tersebut menegaskan sisi religius dan rendah hati seorang pemimpin. Meski memimpin Kraton dengan status simbolik tinggi, Pakoe Boewono XIV menempatkan ibadah sebagai prioritas utama. Kesederhanaan itu menyampaikan pesan terselubung: kepemimpinan sejati bukan soal protokol dan kemegahan, tetapi keteladanan spiritual.

Di Balik Kehadiran Elite: Kesenjangan dan Bayangan Kekuasaan

Di balik sakralnya momen itu, muncul pertanyaan yang jarang terdengar siapa yang benar-benar merasakan manfaatnya? Masjid yang megah bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi simbol hubungan antara budaya, agama, dan elit politik lokal. Kehadiran Sinuhun menegaskan posisi Kraton sebagai pusat tradisi, namun tidak semua warga Solo memiliki akses yang sama ke simbol-simbol keagamaan itu.

Ini Belum Selesai

Adrenalin: Mesin Kreativitas di Era Tekanan

Dwifungsi Belum Mati? Revisi UU TNI Membuka Luka Lama Indonesia

Sementara itu, masyarakat kecil tukang parkir, pedagang kaki lima, dan jamaah biasa menyaksikan ritual dari luar gerbang. Meski masjid bersifat publik, ruang intim seorang raja tetap tertutup. Ironi sosialnya nyata spiritualitas menjadi tontonan ketika dikombinasikan dengan simbol status, sementara yang berada di bawah hanya bisa mengamati dari jauh.

Apresiasi atau Panggung Politik?

Keliling masjid bersama takmir menampilkan kedekatan simbolik dengan masyarakat. Namun jika ditelaah lebih dalam, kegiatan itu sekaligus menjadi panggung politik terselubung.

Di negeri yang sebagian besar rakyatnya bergulat dengan masalah ekonomi dan sosial, simbolisme elite berfungsi ganda. Kehadiran raja di ruang publik, meski sederhana, menegaskan hierarki sosial ada yang bisa masuk, ada yang menonton dari luar. Dengan kata lain, budaya dan agama sering menjadi alat legitimasi kekuasaan.

Sebagian warga Solo menilai kehadiran Pakoe Boewono XIV inspiratif. Sholat Jumat tertutup, keliling masjid, dan mengamati arsitektur megah menunjukkan kepedulian spiritual dan moral seorang raja.

Tabooo Editorial: Keteladanan dalam Batas

Tabooo.id berani menyentil kepemimpinan spiritual ala Sinuhun adalah contoh sekaligus metafora. Di satu sisi, kita belajar tentang keteladanan dan kesederhanaan. Di sisi lain, ritual sederhana itu berubah menjadi panggung status, terselubung dalam pakaian religius dan tradisi.

Negara yang mengaku demokratis sering menolak kebenaran hanya karena terlalu jujur. Di Solo, tradisi dipoles agar terlihat harmonis, namun tetap menegaskan hierarki sosial. Di balik sholat yang khusyuk, tersimpan pelajaran tentang kekuasaan budaya dan agama bisa berfungsi sebagai alat simbolik legitimasi.

Penutup: Ibadah, Tradisi, dan Pertanyaan Publik

Langkah sederhana namun bermakna dari Pakoe Boewono XIV menegaskan satu hal kepemimpinan bukan hanya soal status, tetapi keteladanan spiritual dan budaya. Namun, pertanyaan publik tetap menggantung apakah simbol keteladanan ini benar-benar menyentuh masyarakat luas, atau hanya memantul di ruang elit?

Di Solo, spiritualitas dan kekuasaan berjalan beriringan. Kesederhanaan yang tampak tulus kadang hanya menjadi siluet dari hierarki yang tak terlihat, di balik kemegahan arsitektur dan ritual sakral yang memikat mata. @dimas

Tags: BudayaIbadahkepemimpinanKraton SurakartaPakoe Boewono XIVpurbayaSoloSpiritual

Kamu Melewatkan Ini

Fashion 2026: Ini Bukan Lagi Soal Gaya, Tapi Cara Kamu Bertahan

Fashion 2026: Ini Bukan Lagi Soal Gaya, Tapi Cara Kamu Bertahan

by Naysa
Mei 8, 2026

Dulu, fashion cuma soal terlihat keren. Sekarang, itu sudah tidak cukup. Tahun 2026 mengubah semuanya, baju bukan lagi sekadar gaya,...

Celurit Ke Layar Global: Identitas, Estetika, dan Siapa yang Sebenarnya Bercerita?

Celurit Ke Layar Global: Identitas, Estetika, dan Siapa yang Sebenarnya Bercerita?

by teguh
Mei 5, 2026

Seorang aktor Indonesia berdiri tegap di sebuah frame, menggenggam celurit dengan tenang. Namun, ia tidak berada di ladang Madura. Bukan...

Ketika Celurit Naik Kelas: Dari Ladang Madura ke Layar Hollywood

Ketika Celurit Naik Kelas: Dari Ladang Madura ke Layar Hollywood

by teguh
Mei 5, 2026

Awalnya terlihat biasa. Namun, saat kamu perhatikan lebih lama, frame itu terasa janggal. Joe Taslim berdiri rapi, tenang, dan percaya...

Next Post
Dua Periode Prabowo-Gibran: Drama Politik Menuju 2029

Dua Periode Prabowo-Gibran: Drama Politik Menuju 2029

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Sepatu Kekecilan Itu Membunuh? Tragedi Siswa SMK Samarinda Bikin Publik Tersentak

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

Judol Memburu Anak-anak: 80 Ribu Bocah di Bawah 10 Tahun Terpapar

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

Pemerintah Tak Melarang Pesta Babi, Tapi Mengapa Nobar Mahasiswa Tetap Dihentikan?

Mei 14, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id