Selasa, Juni 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Korupsi Kepala Daerah dan Upaya Membelokkan Arah Pilkada

by dimas
Januari 21, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Pagi hari, air menetes dari langit-langit rumah. Ember berjejer di lantai, dan semua orang paham sumber masalahnya ada di atap. Namun rapat keluarga justru melahirkan keputusan absurd mematikan lampu. Mereka beralasan sederhana dalam gelap, kebocoran tak terlihat.

Cara berpikir semacam ini kembali muncul setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap kepala daerah.

OTT Terjadi Lagi, Alasan Lama Muncul Kembali

Awal 2026 belum genap sebulan ketika KPK menangkap dua kepala daerah sekaligus. Wali Kota Madiun Maidi dan Bupati Pati Sudewo menyusul daftar panjang pejabat daerah yang lebih dulu mengenakan rompi oranye. Pada Selasa (20/1/2026), KPK menetapkan keduanya sebagai tersangka dan kembali memicu debat publik.

Sejak itu, pola kasus terlihat jelas. Korupsi muncul berulang. Drama hukum terus berjalan. Namun elite politik tetap merespons dengan nada yang sama: mereka menyalahkan sistem demokrasi.

Elite Mengubah Korupsi Menjadi Alibi

Setiap OTT hampir selalu membuka pintu wacana serupa. Elite politik menggunakan kasus korupsi kepala daerah sebagai alasan untuk mengubah mekanisme Pilkada. Mereka mendorong pemilihan kepala daerah keluar dari tangan rakyat dan masuk ke ruang DPRD.

Ini Belum Selesai

Panen Melimpah, Pasar Sepi: Siapa yang Salah, Sawah atau Dompet?

Emil Dardak dan Bagus Panuntun Serukan Persaudaraan Pendekar

Mereka menyusun narasi bertahap. Pertama, mereka menyebut Pilkada terlalu mahal. Kedua, mereka menilai biaya kampanye menjerat kandidat. Ketiga, mereka menyimpulkan kepala daerah “terpaksa” korup demi menutup ongkos politik. Dengan alur ini, mereka menggeser korupsi dari kejahatan menjadi efek samping sistem.

Dalih Lama Terus Diputar

Narasi tersebut bukan cerita baru. Sebelumnya, Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya, Bupati Malang Rendra Kresna, hingga Bupati Kapuas Ben Brahim S Bahat memakai alasan serupa. Mereka membungkus korupsi sebagai biaya politik dan menyamarkannya sebagai konsekuensi demokrasi.

Akibatnya, fokus publik ikut bergeser. Publik tidak lagi menyorot pelaku, partai, atau sistem rekrutmen politik. Sebaliknya, wacana justru menyerang Pilkada langsung.

Efisiensi Dijadikan Mantra

Di titik ini, jargon efisiensi naik ke panggung utama. Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Sugiono, menyatakan biaya kampanye kepala daerah bersifat prohibitif dan menghalangi figur berkapasitas. Karena itu, ia mendorong pemilihan kepala daerah lewat DPRD demi efisiensi proses dan anggaran.

Argumen ini terdengar masuk akal di permukaan. Namun ketika nalar hukum berbicara, logika tersebut mulai retak.

Akademisi Menarik Garis Tegas

Pengajar Hukum Pemilu Universitas Indonesia, Titi Anggraini, menolak mentah-mentah argumen tersebut. Ia menegaskan bahwa korupsi kepala daerah tidak lahir dari Pilkada langsung. Menurutnya, korupsi tumbuh dari integritas individu yang runtuh, sistem rekrutmen politik yang cacat, serta pengawasan yang lemah.

Dengan demikian, ketika negara mengubah desain Pilkada karena korupsi, negara justru menghukum rakyat atas kegagalan elite politik.

DPRD Bukan Zona Bebas Transaksi

Selain itu, romantisme pemilihan lewat DPRD juga menyimpan masalah serius. Peneliti Perludem, Haykal, mengingatkan bahwa pemilihan di DPRD membuka ruang transaksi politik yang lebih tertutup. Data ICW bahkan menunjukkan pelaku korupsi dari unsur DPRD jumlahnya lebih banyak dibanding kepala daerah.

Fakta ini menegaskan satu hal memindahkan Pilkada ke DPRD tidak menghapus korupsi. Langkah itu justru berpotensi memusatkan korupsi di ruang yang jauh dari pengawasan publik.

Hak Rakyat Dipangkas, Akar Masalah Ditinggal

Sementara elite sibuk mengutak-atik mekanisme Pilkada, persoalan utama tetap dibiarkan. Mahar politik terus hidup. Pendanaan kampanye tetap gelap. Akuntabilitas partai berjalan setengah hati. Namun di saat yang sama, elite menganggap hak rakyat memilih sebagai variabel paling mudah dipangkas.

Alih-alih memperbaiki atap yang bocor, mereka memilih mematikan lampu.

Lampu Padam, Kebocoran Terus Mengalir

Pada akhirnya, wacana Pilkada lewat DPRD tampak sebagai solusi instan yang malas. Gagasan ini tidak menyembuhkan penyakit, hanya menyembunyikan gejala.

Atap tetap bocor. Lampu sengaja dipadamkan. Publik pun diminta percaya rumah demokrasi ini masih kokoh hingga suatu hari langit-langit runtuh dan menimpa semua orang. @dimas

Tags: DemokrasiElitekedaulatanKorupsi di IndonesiaKPKPilkadaPolitik IndonesiarakyatReformasi

Kamu Melewatkan Ini

Danantara Libatkan KPK Sebelum Hilirisasi Dimulai, Tata Kelola Jadi Sorotan

Danantara Libatkan KPK Sebelum Hilirisasi Dimulai, Tata Kelola Jadi Sorotan

by teguh
Juni 30, 2026

Pemerintah mulai memperkuat benteng antikorupsi sebelum proyek-proyek hilirisasi bergulir. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk...

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

by teguh
Juni 25, 2026

Presiden Prabowo Subianto mengaku mengetahui pihak yang diduga membiayai sejumlah aksi demonstrasi. Ia menyampaikan klaim itu saat menghadiri Puncak Pekan...

Kantata Takwa, Bento, Bongkar: Ketika Kritik Lama Bertemu Elite Masa Kini

Kantata Takwa, Bento, Bongkar: Ketika Kritik Lama Bertemu Elite Masa Kini

by teguh
Juni 21, 2026

Malam itu, Stadion Utama Gelora Bung Karno tidak hanya menjadi lokasi konser Kantata Takwa. Lebih dari seratus ribu orang memenuhi...

Next Post
Jenazah Korban ATR 42-500 Dievakuasi dari Jurang Maros-Pangkep

Jenazah Korban ATR 42-500 Dievakuasi dari Jurang Maros-Pangkep

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id