Tabooo.id: Global – Upaya mencegah krisis geopolitik baru di kawasan Arktik kini bergerak dari London. Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer menyiapkan langkah diplomatik untuk membujuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar menghentikan ambisi mencaplok Greenland, pulau strategis yang berada di bawah kedaulatan Kerajaan Denmark.
Berdasarkan laporan surat kabar The i Paper yang dikutip Antara pada Selasa (20/1/2026), Starmer memilih jalur kolektif ketimbang konfrontatif. Ia menggandeng sekutu-sekutu NATO untuk meyakinkan Washington bahwa Eropa mampu menjaga keamanan Arktik tanpa perlu perluasan wilayah Amerika Serikat.
Selain itu, langkah tersebut juga menandai upaya Inggris menahan eskalasi konflik yang berpotensi melebar. Starmer bersama para menteri kabinet senior Inggris secara aktif melancarkan kampanye diplomatik ke tokoh-tokoh kunci di Washington. Melalui jalur itu, mereka berusaha meredam dua ancaman sekaligus: rencana pencaplokan Greenland dan potensi perang dagang antara AS dan Eropa akibat perbedaan sikap politik.
Pulau Dingin dengan Api Kepentingan
Sekilas, Greenland tampak sunyi dan jauh dari hiruk-pikuk politik global. Namun, di balik hamparan es, pulau itu menyimpan kepentingan strategis besar. Jalur militer Arktik, cadangan sumber daya alam, serta posisinya di tengah rivalitas Barat dengan Rusia dan China membuat Greenland menjadi rebutan kekuatan besar.
Dalam beberapa kesempatan, Trump secara terbuka menyatakan bahwa Greenland “seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat.” Pernyataan tersebut segera memicu ketegangan diplomatik. Pemerintah Denmark bersama otoritas Greenland pun merespons dengan peringatan tegas, sambil menuntut Washington menghormati integritas teritorial mereka.
Bagi Eropa, persoalan ini melampaui isu kedaulatan semata. Jika Amerika Serikat mengambil alih Greenland, keseimbangan kekuatan di Arktik akan berubah drastis. Karena itu, negara-negara Eropa khawatir kawasan tersebut bergeser dari zona kerja sama internasional menjadi arena unjuk kekuatan militer.
NATO Jadi Penyangga Politik
Melihat risiko itu, Starmer menempatkan NATO sebagai pilar utama pendekatannya. Dengan membawa isu Greenland ke dalam kerangka pertahanan kolektif, Inggris dan sekutunya ingin menyampaikan pesan jelas kepada Washington: Arktik bukan ruang kosong yang bisa diklaim sepihak.
Pada saat bersamaan, tekanan juga datang dari sisi ekonomi. Ancaman perang dagang yang Trump lontarkan kepada negara-negara Eropa yang menolak rencananya mendorong diplomasi Inggris bergerak lebih cepat. London pun berupaya menjaga dua kepentingan sekaligus, yakni stabilitas keamanan kawasan dan keberlanjutan hubungan ekonomi transatlantik.
Di titik inilah posisi Starmer menjadi serba rumit. Ia harus tetap tampil sebagai sekutu dekat Amerika Serikat, namun pada saat yang sama menunjukkan sikap tegas agar Eropa tidak terlihat tunduk pada tekanan politik Washington.
Manuver Militer di Tengah Diplomasi
Sementara diplomasi berjalan, kehadiran militer justru menambah ketegangan. Pesawat-pesawat militer dari Komando Pertahanan Dirgantara Amerika Utara (NORAD) dijadwalkan tiba di pangkalan Amerika Serikat di Greenland dalam waktu dekat.
NORAD menyebut pengerahan tersebut sebagai bagian dari kegiatan yang telah lama direncanakan. Dalam pernyataan resmi pada Senin (19/1/2026), organisasi gabungan AS-Kanada itu menegaskan bahwa mereka telah berkoordinasi dengan otoritas Denmark dan memberi tahu Pemerintah Greenland.
Meski demikian, publik Eropa sulit memisahkan manuver militer tersebut dari dinamika politik yang sedang berlangsung. Kehadiran pesawat tempur di wilayah sensitif Arktik muncul beriringan dengan wacana pencaplokan, sehingga memunculkan kesan intimidatif.
NORAD juga menegaskan bahwa pesawat-pesawat itu akan mendukung operasi pertahanan berkelanjutan dan beroperasi bersama armada lain dari daratan Amerika Serikat dan Kanada. Organisasi tersebut menyatakan bahwa mereka secara rutin menjalankan operasi tersebar untuk menjaga pertahanan Amerika Utara, sebagaimana dikutip AFP.
Dampak yang Menjalar ke Warga
Jika konflik ini terus membesar, dampaknya tidak akan berhenti di ruang diplomasi. Warga Greenland menghadapi ketidakpastian atas masa depan wilayah mereka. Di sisi lain, Denmark berisiko kehilangan kedaulatan simbolik sekaligus strategis. Negara-negara Eropa pun harus bersiap menghadapi tekanan ekonomi jika perang dagang benar-benar terjadi.
Secara global, Arktik kembali berubah dari kawasan beku menjadi titik panas geopolitik.
Starmer tampaknya memahami satu hal penting. Mencaplok wilayah mungkin terdengar seperti manuver lama ala abad ke-20. Namun, dampaknya justru terasa sangat modern mengganggu rantai pasok, memengaruhi harga energi, dan mengguncang stabilitas global.
Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa terasa sederhana namun mengganggu jika pulau es pun kini diperebutkan dengan ancaman militer dan tarif dagang, masih adakah ruang yang benar-benar netral di dunia yang mengaku modern ini? @dimas




