Tabooo.id: Entertainment – Pernah nggak sih kamu merasa hidup ini jahat tapi elegan? Terutama urusan cinta. Kita sudah siap, sudah jatuh, sudah berharap. Namun semesta malah nyengir sambil bilang, “Maaf, waktunya salah.” Di titik itulah lagu “Waktu yang Salah” karya Fiersa Besari menampar pelan tanpa suara keras, tapi nyeseknya tahan lama.
Lagu ini tidak cuma jadi teman hujan atau playlist galau pukul dua pagi. Banyak pendengar menjadikannya pengakuan kolektif tentang rasa tulus yang datang di momen keliru.
Lagu yang Terlalu Jujur untuk Didengarkan Sambil Santai
Fiersa Besari merilis “Waktu yang Salah” lewat album 11:11 pada 2018. Sejak itu, lagu ini langsung menancap di hati pendengarnya. Liriknya sederhana, aransemennya minim, dan vokalnya terasa dekat seolah Fiersa memilih bicara jujur ketimbang sekadar menghibur.
Alih-alih menjual cinta ala film romantis, Fiersa menyuguhkan kenyataan. Tidak ada adegan kejar-kejaran di bandara. Tidak ada hujan deras yang diiringi teriakan nama. Lagu ini justru memotret rasa pahit saat seseorang mencintai orang lain yang tak bisa ia miliki sekarang. Bahkan, mungkin selamanya.
Cerita di lagu ini juga bukan soal cinta sepihak. Di situlah letak lukanya. Dua orang saling rasa, tetapi keadaan memaksa mereka saling mengalah.
Ketika Cinta Kalah oleh Kalender dan Kondisi
Kekuatan utama lagu ini muncul dari keberaniannya meruntuhkan mitos lama: cinta selalu cukup. Banyak orang percaya bahwa rasa sayang bisa mengalahkan segalanya. Kenyataannya, hidup tidak sesederhana caption Instagram.
Pekerjaan menuntut fokus. Jarak menggerus kelekatan. Trauma lama ikut nimbrung. Status menggantung tanpa kepastian. Masa lalu pun sering muncul tanpa undangan. Semua faktor itu kerap berbicara lebih keras daripada rasa cinta.
Lewat lagu ini, Fiersa seakan menyampaikan satu pesan tegas: kedewasaan tidak selalu soal bertahan. Kadang, orang justru perlu tahu kapan harus merelakan. Bukan karena rasa kurang besar, melainkan karena cinta yang sehat paham batas.
Ironisnya, di era serba cepat saat semua orang bisa saling chat kapan saja lagu ini terasa makin relevan. Banyak hubungan tumbuh kilat, lalu runtuh karena kesiapan emosional tidak sejalan. Kita sering jatuh cinta lebih dulu, lalu lupa bertanya: “Gue sudah siap belum, ya?”
Galau sebagai Proses Pendewasaan
Lewat “Waktu yang Salah”, Fiersa mengingatkan pendengarnya bahwa galau bukan tanda kelemahan. Galau adalah proses. Dari sana, seseorang belajar menerima bahwa tidak semua keinginan harus berujung kepemilikan.
Lagu ini juga tidak mengajak siapa pun menyalahkan keadaan atau memainkan peran korban. Sebaliknya, ia menawarkan sikap berdamai. Di situlah letak kedewasaannya.
Saat budaya pop gemar memuja toxic love dan drama berlebihan, lagu ini hadir sebagai penyeimbang. Cinta tidak harus ribut. Tidak harus posesif. Terkadang, cinta memilih pergi pelan-pelan dengan cara yang elegan.
Jadi, Pernah di Posisi Itu?
Mungkin kamu pernah datang terlalu cepat. Atau terlalu lambat. Bisa juga datang tepat waktu, tapi ke orang yang salah. “Waktu yang Salah” memang tidak menawarkan solusi instan. Namun, lagu ini memberi pengertian: kamu tidak sendirian.
Barangkali, setelah memutar lagu ini berulang kali, kamu sampai pada satu kesimpulan sederhana tapi berat—mencintai juga berarti tahu kapan berhenti.
Sekarang giliran kamu. Pernah mencintai di waktu yang salah, atau baru sadar setelah lagu ini menemani malam panjangmu? Yuk, diskusi.@eko





