Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Masjid Kuncen, Jejak Awal Islam dan Kekuasaan di Madiun

by dimas
Januari 15, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Di sela gang-gang Kelurahan Kuncen, Kecamatan Taman, Madiun, sebuah masjid berdiri tanpa gembar-gembor. Dari luar, bangunan itu tampak tenang, bahkan nyaris biasa. Namun, ketika langkah kaki mendekat, Masjid Kuno Kuncen justru membuka lapisan waktu yang saling bertumpuk sejarah, legenda, ritual, dan ingatan kolektif warga.

Masjid yang juga dikenal sebagai Masjid Nur Hidayatullah ini tidak mengejar kemegahan. Ia menolak kubah menjulang dan memilih bentuk joglo dengan atap tajug bersusun. Saka kayu yang menghitam menopang bangunan, sementara pagar bata merah membingkai kawasan dengan sikap bersahaja. Di sisi masjid, sebuah sendang tua mengalir pelan. Airnya jernih, sunyi, dan penuh cerita. Di titik inilah, masa lalu Madiun terasa dekat hampir menyentuh masa kini.

Dari Demak ke Pajang, Jejak yang Sampai ke Kuncen

Sejarah Masjid Kuno Kuncen tumbuh dari pusaran politik Jawa abad ke-16. Pada 1568, Mas Karebet yang kemudian dikenal sebagai Jaka Tingkir memenangi konflik perebutan kekuasaan Kesultanan Demak. Dengan restu para wali, ia naik tahta sebagai Sultan Hadiwijaya, menggantikan Sultan Trenggono.

Namun, Sultan Hadiwijaya tidak menetap di Demak. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang. Perpindahan ini lantas menyeret Madiun ke dalam orbit kekuasaan baru. Tak lama kemudian, Sunan Bonang mengangkat Pangeran Timur putra Sultan Trenggono sekaligus adik ipar Sultan Hadiwijaya sebagai Bupati Madiun pada 18 Juli 1568. Sejarah kemudian mengenalnya sebagai Panembahan Rama atau Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno.

Beberapa tahun berselang, tepatnya pada 1575, Pangeran Timur memindahkan pusat pemerintahan Madiun dari wilayah utara ke selatan, ke kawasan yang kini disebut Kuncen. Seiring urusan administrasi, dakwah Islam ikut bergerak. Dalam konteks inilah masyarakat meyakini berdirinya masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai simpul kekuasaan dan penyebaran ajaran.

Ini Belum Selesai

Soeharto Mundur dan Jakarta yang Pernah Menjadi Neraka Terbuka

Anak Muda yang Belum Selesai Menjadi Manusia

Masjid, Makam, dan Sejarah yang Menyatu

Berbeda dari museum yang menyimpan benda di balik kaca, Masjid Kuno Kuncen menaruh sejarah langsung di tubuh bangunannya. Bedug tua masih tergantung dan tetap digunakan. Mustaka di puncak atap bertahan sebagai mahkota yang enggan tergantikan. Mimbar serta elemen interior lain terus dijaga keasliannya.

Namun, denyut sejarah paling kuat justru terasa di kompleks makam. Di sanalah Panembahan Rama dimakamkan bersama kerabat dan para abdi dalemnya. Nisan-nisan tua berdiri sederhana, tetapi kehadirannya menegaskan satu hal penting Kuncen pernah menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat penyebaran Islam pertama di Madiun.

Karena itu, ziarah tidak pernah benar-benar surut. Orang datang bukan hanya untuk berdoa, melainkan juga untuk menyambung rasa antara masa kini dan masa lalu yang masih hidup dalam ingatan.

Sendang dan Ritual yang Terus Berjalan

Tak jauh dari masjid dan makam, sendang Kuncen mengalir tanpa tergesa. Bagi warga setempat, air ini bukan sekadar sumber kehidupan. Di sinilah ritual jamasan pusaka berlangsung, terutama menjelang bulan Suro atau Grebeg Maulud. Keris, tombak, dan benda pusaka dibersihkan dengan penuh kehati-hatian, seolah air sendang menyimpan bahasa sendiri.

Kepercayaan ini menegaskan peran Kuncen sebagai ruang pertemuan. Islam, tradisi Jawa, dan ingatan lokal berbaur tanpa saling meniadakan. Justru di sanalah kekuatannya bertahan.

Arsitektur yang Teguh Menjaga Akar

Secara arsitektural, Masjid Kuno Kuncen berbicara pelan namun tegas. Atap tajug bersusun tiga mengingatkan pada arsitektur meru Hindu-Buddha, bukan pada kubah Timur Tengah. Empat saka guru dari kayu jati menopang bangunan utama dengan wibawa yang alami.

Selain itu, bedug menggantikan menara, sementara pagar bata merah membingkai kawasan dengan fungsi sekaligus makna. Inilah wajah masjid pusaka Jawa Islam yang tumbuh dari tanahnya sendiri.

Karena nilai historis itulah, Pemerintah Kota Madiun menetapkan kompleks Masjid Kuno Kuncen sebagai Situs Cagar Budaya pada 2019. Status ini bukan sekadar label administratif. Ia menjadi janji perlindungan. Setiap pemugaran, termasuk pembangunan menara baru pada 2023, harus melalui pengawasan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur agar sejarah tidak terkikis oleh niat baik yang tergesa.

Kuncen Hari Ini, di Antara Wisata dan Warisan

Kini, Masjid Kuno Kuncen berdiri di persimpangan zaman. Pemerintah daerah mulai mengembangkannya sebagai destinasi wisata religi. Peziarah berdatangan. Peneliti mencatat. Wisatawan mengabadikan sudut-sudut sunyi.

Namun, tantangannya tetap sama bagaimana merawat tanpa merusak, serta mengenalkan tanpa menghilangkan makna. Kuncen bukan panggung pertunjukan. Ia adalah arsip hidup.

Refleksi Tabooo: Sejarah yang Mengajak Kita Melambat

Masjid Kuno Kuncen mengajarkan satu hal penting sejarah tidak selalu berteriak. Sering kali, ia hanya berdiri diam, menunggu kita cukup pelan untuk mendengarkan.

Di tengah dunia yang terus mempercepat segalanya, Kuncen memilih ritme lain. Ia mengingatkan bahwa iman, budaya, dan kekuasaan pernah tumbuh berdampingan tanpa saling menghapus. Mungkin, justru di situlah maknanya hari ini bahwa merawat masa lalu bukan soal nostalgia, melainkan soal menjaga arah.

Selama masjid ini tetap berdiri, waktu di Kuncen tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti cara bercerita. @dimas

Tags: BudayaIslamJawamadiunReligiSejarah

Kamu Melewatkan Ini

Drama Madiun Belum Tuntas: Giliran Bagus Panuntun Diperiksa KPK

Drama Madiun Belum Tuntas: Giliran Bagus Panuntun Diperiksa KPK

by Tabooo
Mei 11, 2026

Bagus Panuntun diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan pemerasan yang menyeret Wali Kota Madiun nonaktif, Maidi. Dari luar, ini...

Fashion 2026: Ini Bukan Lagi Soal Gaya, Tapi Cara Kamu Bertahan

Fashion 2026: Ini Bukan Lagi Soal Gaya, Tapi Cara Kamu Bertahan

by Naysa
Mei 8, 2026

Dulu, fashion cuma soal terlihat keren. Sekarang, itu sudah tidak cukup. Tahun 2026 mengubah semuanya, baju bukan lagi sekadar gaya,...

Kenapa Dunia Tidak Pernah Stabil? – Madilog Series #1.7

Kenapa Dunia Tidak Pernah Stabil? – Madilog Series #1.7

by Tabooo
Mei 13, 2026

Kenapa Dunia Tidak Pernah Stabil? Karena realitas terus bergerak, sementara manusia terus mencoba mempertahankan sesuatu agar tetap sama. Sistem berubah,...

Next Post
Hoaks! Klaim Prabowo–Purbaya Sepakat Turunkan Harga BBM Jadi Rp7.000

Hoaks! Klaim Prabowo–Purbaya Sepakat Turunkan Harga BBM Jadi Rp7.000

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id