Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Masjid Kuncen, Jejak Awal Islam dan Kekuasaan di Madiun

by dimas
Januari 15, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Di sela gang-gang Kelurahan Kuncen, Kecamatan Taman, Madiun, sebuah masjid berdiri tanpa gembar-gembor. Dari luar, bangunan itu tampak tenang, bahkan nyaris biasa. Namun, ketika langkah kaki mendekat, Masjid Kuno Kuncen justru membuka lapisan waktu yang saling bertumpuk sejarah, legenda, ritual, dan ingatan kolektif warga.

Masjid yang juga dikenal sebagai Masjid Nur Hidayatullah ini tidak mengejar kemegahan. Ia menolak kubah menjulang dan memilih bentuk joglo dengan atap tajug bersusun. Saka kayu yang menghitam menopang bangunan, sementara pagar bata merah membingkai kawasan dengan sikap bersahaja. Di sisi masjid, sebuah sendang tua mengalir pelan. Airnya jernih, sunyi, dan penuh cerita. Di titik inilah, masa lalu Madiun terasa dekat hampir menyentuh masa kini.

Dari Demak ke Pajang, Jejak yang Sampai ke Kuncen

Sejarah Masjid Kuno Kuncen tumbuh dari pusaran politik Jawa abad ke-16. Pada 1568, Mas Karebet yang kemudian dikenal sebagai Jaka Tingkir memenangi konflik perebutan kekuasaan Kesultanan Demak. Dengan restu para wali, ia naik tahta sebagai Sultan Hadiwijaya, menggantikan Sultan Trenggono.

Namun, Sultan Hadiwijaya tidak menetap di Demak. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang. Perpindahan ini lantas menyeret Madiun ke dalam orbit kekuasaan baru. Tak lama kemudian, Sunan Bonang mengangkat Pangeran Timur putra Sultan Trenggono sekaligus adik ipar Sultan Hadiwijaya sebagai Bupati Madiun pada 18 Juli 1568. Sejarah kemudian mengenalnya sebagai Panembahan Rama atau Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno.

Beberapa tahun berselang, tepatnya pada 1575, Pangeran Timur memindahkan pusat pemerintahan Madiun dari wilayah utara ke selatan, ke kawasan yang kini disebut Kuncen. Seiring urusan administrasi, dakwah Islam ikut bergerak. Dalam konteks inilah masyarakat meyakini berdirinya masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai simpul kekuasaan dan penyebaran ajaran.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Masjid, Makam, dan Sejarah yang Menyatu

Berbeda dari museum yang menyimpan benda di balik kaca, Masjid Kuno Kuncen menaruh sejarah langsung di tubuh bangunannya. Bedug tua masih tergantung dan tetap digunakan. Mustaka di puncak atap bertahan sebagai mahkota yang enggan tergantikan. Mimbar serta elemen interior lain terus dijaga keasliannya.

Namun, denyut sejarah paling kuat justru terasa di kompleks makam. Di sanalah Panembahan Rama dimakamkan bersama kerabat dan para abdi dalemnya. Nisan-nisan tua berdiri sederhana, tetapi kehadirannya menegaskan satu hal penting Kuncen pernah menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat penyebaran Islam pertama di Madiun.

Karena itu, ziarah tidak pernah benar-benar surut. Orang datang bukan hanya untuk berdoa, melainkan juga untuk menyambung rasa antara masa kini dan masa lalu yang masih hidup dalam ingatan.

Sendang dan Ritual yang Terus Berjalan

Tak jauh dari masjid dan makam, sendang Kuncen mengalir tanpa tergesa. Bagi warga setempat, air ini bukan sekadar sumber kehidupan. Di sinilah ritual jamasan pusaka berlangsung, terutama menjelang bulan Suro atau Grebeg Maulud. Keris, tombak, dan benda pusaka dibersihkan dengan penuh kehati-hatian, seolah air sendang menyimpan bahasa sendiri.

Kepercayaan ini menegaskan peran Kuncen sebagai ruang pertemuan. Islam, tradisi Jawa, dan ingatan lokal berbaur tanpa saling meniadakan. Justru di sanalah kekuatannya bertahan.

Arsitektur yang Teguh Menjaga Akar

Secara arsitektural, Masjid Kuno Kuncen berbicara pelan namun tegas. Atap tajug bersusun tiga mengingatkan pada arsitektur meru Hindu-Buddha, bukan pada kubah Timur Tengah. Empat saka guru dari kayu jati menopang bangunan utama dengan wibawa yang alami.

Selain itu, bedug menggantikan menara, sementara pagar bata merah membingkai kawasan dengan fungsi sekaligus makna. Inilah wajah masjid pusaka Jawa Islam yang tumbuh dari tanahnya sendiri.

Karena nilai historis itulah, Pemerintah Kota Madiun menetapkan kompleks Masjid Kuno Kuncen sebagai Situs Cagar Budaya pada 2019. Status ini bukan sekadar label administratif. Ia menjadi janji perlindungan. Setiap pemugaran, termasuk pembangunan menara baru pada 2023, harus melalui pengawasan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur agar sejarah tidak terkikis oleh niat baik yang tergesa.

Kuncen Hari Ini, di Antara Wisata dan Warisan

Kini, Masjid Kuno Kuncen berdiri di persimpangan zaman. Pemerintah daerah mulai mengembangkannya sebagai destinasi wisata religi. Peziarah berdatangan. Peneliti mencatat. Wisatawan mengabadikan sudut-sudut sunyi.

Namun, tantangannya tetap sama bagaimana merawat tanpa merusak, serta mengenalkan tanpa menghilangkan makna. Kuncen bukan panggung pertunjukan. Ia adalah arsip hidup.

Refleksi Tabooo: Sejarah yang Mengajak Kita Melambat

Masjid Kuno Kuncen mengajarkan satu hal penting sejarah tidak selalu berteriak. Sering kali, ia hanya berdiri diam, menunggu kita cukup pelan untuk mendengarkan.

Di tengah dunia yang terus mempercepat segalanya, Kuncen memilih ritme lain. Ia mengingatkan bahwa iman, budaya, dan kekuasaan pernah tumbuh berdampingan tanpa saling menghapus. Mungkin, justru di situlah maknanya hari ini bahwa merawat masa lalu bukan soal nostalgia, melainkan soal menjaga arah.

Selama masjid ini tetap berdiri, waktu di Kuncen tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti cara bercerita. @dimas

Tags: BudayaIslamJawamadiunReligiSejarah

Kamu Melewatkan Ini

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

by dimas
Oktober 13, 2026

JABFest 2026 di Yogyakarta menghadirkan seni, buku, film, dan diskusi untuk melawan pendangkalan berpikir serta menjaga ingatan kolektif. Tabooo.id: Yogyakarta...

Jalan Merak Memanas, Massa Diduga Pesilat Bentrok dengan Aparat

Madiun Memanas, Massa Diduga Pesilat Bentrok dengan Aparat Jelang Parluh

by dimas
September 22, 2026

Jalan Merak Madiun memanas. Massa diduga pesilat bentrok dengan aparat jelang Parluh 2026, akses warga dan lalu lintas ikut dibatasi....

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

by teguh
September 10, 2026

Polemik “goblok” hanya permukaan. Di bawahnya ada benturan antara kebebasan, kenyamanan publik, otoritas, dan negara. Kata “goblok” tiba-tiba masuk ke...

Next Post
Hoaks! Klaim Prabowo–Purbaya Sepakat Turunkan Harga BBM Jadi Rp7.000

Hoaks! Klaim Prabowo–Purbaya Sepakat Turunkan Harga BBM Jadi Rp7.000

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id