Tabooo.id: Global – Paus Leo XIV menepuk meja diplomasi global. Dalam pidato State of World pertamanya di Hall of Benediction, Vatikan, Jumat (9/1/2026), pemimpin umat Katolik sedunia itu menegaskan: negara-negara kini lebih memilih senjata daripada dialog. Organisasi internasional gagal menahan konflik.
“Perang kembali menjadi tren, dan semangat untuk berperang semakin menyebar,” kata paus pertama asal Amerika ini. Ia mendesak semua pihak mengedepankan diplomasi berbasis dialog dan konsensus, bukan kekuatan.
Kekhawatiran Global: Dari Venezuela Hingga Asia Timur
Paus Leo XIV menyoroti krisis di Venezuela, Myanmar, Ukraina, dan konflik maritim Asia Timur, termasuk sengketa Taiwan dan Laut China Selatan. Ia menekankan: rakyatlah yang menanggung derita. “Solusi politik damai harus diutamakan, dan kepentingan rakyat harus didahulukan, bukan kepentingan partisan,” tegasnya.
Paus juga mengingatkan soal Tanah Suci dan Tepi Barat. Penduduk sipil Palestina terus menjadi korban kekerasan. Ia menegaskan bahwa solusi dua negara tetap menjadi perspektif yang relevan bagi Israel–Palestina.
Siapa Untung, Siapa Rugi?
Paus Leo XIV menunjukkan pola global: negara yang memakai kekuatan untuk menegaskan pengaruhnya memperoleh keuntungan politik dan strategis jangka pendek. Namun rakyat baik sipil di kawasan konflik maupun masyarakat global menanggung kerugian nyata. Nyawa hilang, hak asasi dilanggar, dan keamanan sosial terguncang.
Ia menyindir: prinsip pasca-Perang Dunia II, yang melarang agresi untuk mencapai tujuan nasional, kini terkikis. “Negara mencari perdamaian melalui senjata, bukan keadilan dan kesucian hidup. Ini ancaman serius bagi hukum dan tatanan sipil damai,” ujarnya.
Diplomasi Damai Masih Jalan Terbaik
Paus menegaskan bahwa Takhta Suci mendukung semua inisiatif yang mempromosikan perdamaian. Ia menyerukan kerja sama global untuk melawan polarisasi, memperkuat pembangunan manusia, dan melindungi keluarga dari keruntuhan sosial.
Ia juga menekankan perlunya menghadapi fenomena baru seperti AI, privasi digital, dan konsumerisme dengan literasi dan tanggung jawab. “Perdamaian tetap sulit, tapi realistis. Dunia harus berani memilih dialog dan kerendahan hati,” pungkasnya.
Catatan Akhir
Di tengah perang, sengketa, dan politik kekuatan, pesan paus mengingatkan satu hal: senjata mungkin memberi kemenangan sementara, tetapi rakyat dan kemanusiaan selalu menanggung biaya termahal. Ironisnya, kekuatan yang membanggakan diri di panggung internasional sering lupa bahwa manusia paling sederhana, di ujung konflik, yang benar-benar menderita. (red)




