Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Erick Thohir Lepas Atlet Para Games ke Thailand, Optimistis Raih 82 Emas

by dimas
Januari 11, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir optimistis target 82 medali emas yang dipatok National Paralympic Committee (NPC) Indonesia pada ASEAN Para Games ke-13 tahun 2025 di Thailand bukan sekadar ambisi di atas kertas. Ia menilai persiapan kontingen Merah Putih berjalan serius dan terukur, meski menghadapi berbagai keterbatasan.

Usai mengukuhkan dan melepas Kontingen Indonesia di Pendopo Balai Kota Surakarta, Sabtu (10/1/2026) pagi, Erick memberikan apresiasi kepada seluruh elemen yang terlibat. Ia menyebut peran NPC, chef de mission, manajer atlet, hingga tim pendukung sebagai kunci utama kesiapan kontingen.

“Targetnya tetap 82 emas. Dengan segala keterbatasan yang ada, ini luar biasa. Artinya, semua pihak menyiapkan kontingen secara serius dan penuh dedikasi,” ujar Erick.

Melalui pernyataan itu, Erick menegaskan sikap pemerintah yang menempatkan olahraga disabilitas sebagai bagian penting dari prestasi nasional, bukan sekadar pelengkap agenda olahraga.

Rekam Jejak Juara, Persaingan Tetap Ketat

Optimisme Erick bertumpu pada rekam jejak kuat Indonesia di ajang ASEAN Para Games. Data mencatat kontingen Merah Putih hampir selalu finis di posisi satu atau dua. Bahkan, dalam tiga edisi terakhir, Indonesia keluar sebagai juara umum.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Meski demikian, Erick menolak sikap jumawa. Ia mengingatkan seluruh tim agar tidak terlena oleh dominasi masa lalu. Menurutnya, negara-negara pesaing terus meningkatkan kualitas pembinaan atlet.

“Kalau kita ingin tetap berada di peringkat atas, kita harus menghitung kekuatan negara lain. Vietnam dan Malaysia memiliki persiapan atlet yang sangat baik,” tambahnya.

Erick juga memastikan dirinya akan hadir langsung di Thailand. Ia ingin memberi dukungan moral dan memastikan para atlet merasakan kehadiran negara di tengah perjuangan mereka.

Transformasi Pembinaan: Atlet Tak Boleh Dilupakan

Di balik target medali, Erick menyoroti isu krusial yang sering luput dari perhatian publik: keberlanjutan hidup atlet setelah masa kejayaan berakhir. Ia mengungkapkan bahwa Kemenpora kini melakukan evaluasi dan transformasi pembinaan, baik di NPC maupun Komite Olimpiade Indonesia (KOI).

Pemerintah, kata Erick, menyiapkan program jangka pendek, menengah, dan panjang. Program tersebut mencakup roadmap karier bagi atlet disabilitas setelah mereka pensiun dari arena kompetisi.

“Kami ingin memperhatikan atlet secara utuh. Negara tidak boleh hadir hanya saat mereka berjaya, tetapi juga setelahnya,” tegas Erick.

Ia menambahkan, Presiden Prabowo Subianto memberi perhatian khusus terhadap skema jaminan masa depan atlet, termasuk rencana dana pensiun yang kini masih dalam tahap pembahasan.

Bonus dan Literasi Finansial Atlet

Terkait bonus ASEAN Para Games, Erick menyampaikan bahwa pemerintah telah mengajukan usulan dan masih menunggu keputusan Presiden. Ia berharap pemerintah menetapkan nilai bonus setara dengan atlet SEA Games, sebagaimana kebijakan sebelumnya.

Namun, Erick menekankan bahwa bonus bukan satu-satunya solusi. Ia menilai literasi finansial memegang peran penting dalam menjaga masa depan atlet.

“Kami sudah menjalankan program literasi finansial. Tujuannya agar bonus tidak habis untuk kebutuhan sesaat, tetapi bisa menopang kehidupan jangka panjang,” tegasnya.

Menurut Erick, Kemenpora akan terus menyinergikan program tersebut dengan NPC dan berbagai pemangku kepentingan yang peduli pada keberlanjutan prestasi olahraga nasional.

Prestasi dan Kesejahteraan Tak Bisa Dipisahkan

ASEAN Para Games bukan hanya arena perebutan medali. Bagi atlet disabilitas, ajang ini menjadi ruang pembuktian bahwa keterbatasan fisik tidak membatasi kontribusi bagi bangsa.

Kebijakan pembinaan dan jaminan masa depan atlet berdampak langsung bukan hanya bagi atlet, tetapi juga keluarga dan komunitas disabilitas yang menjadikan prestasi olahraga sebagai simbol harapan dan inklusivitas.

Target 82 emas memang ambisius. Namun, di balik angka itu tersimpan pertanyaan mendasar apakah negara hanya hadir saat lagu kebangsaan berkumandang, atau juga setia menemani atlet ketika sorak sorai usai?

Pada akhirnya, prestasi sejati bukan semata soal podium, melainkan tentang bagaimana negara memastikan para pejuangnya tetap berdiri tegak setelah pertandingan selesai. @dimas

Tags: ASEANAtletDisabilitasErick ThohirKesejahteraanKontingen IndonesiaMedali EmasNasionalolahragaPrestasi

Kamu Melewatkan Ini

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026

Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan...

BPIP Undang Semua Mantan Presiden ke Hari Lahir Pancasila, Siapa yang Datang?

BPIP Undang Semua Mantan Presiden ke Hari Lahir Pancasila, Siapa yang Datang?

by teguh
Mei 29, 2026

Hari Lahir Pancasila tahun ini terasa lebih dari sekadar seremoni negara. Di tengah dinamika politik nasional, publik mulai bertanya: siapa...

Next Post
Konsep Otomatis

Megawati Soroti Peran Negara dalam Krisis Ekologis dan Kemanusiaan

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id