Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Malam Tahun Baru 2026 di Kota Tua: Meriah Tapi Penuh Kontras

by dimas
Januari 1, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Detik-detik pergantian Tahun Baru di kawasan wisata Kota Tua, Jakarta Barat, berlangsung meriah. Tepat pukul 00.00 WIB, langit Kota Tua berubah menjadi kanvas cahaya berkat atraksi drone yang menampilkan Monas, MRT, hingga tulisan “Jakarta 500,” menyongsong lima abad Kota Jakarta.

Ribuan pengunjung yang duduk lesehan menikmati musik di panggung spontan berdiri. Mereka menengadah ke langit, sementara ribuan layar ponsel diarahkan untuk mengabadikan momen spektakuler itu. Sebelum pergantian tahun, acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh lintas agama. Di layar besar, ditayangkan kondisi sejumlah wilayah di Sumatera yang terdampak bencana, mengingatkan pengunjung bahwa kegembiraan malam itu tidak mewakili semua orang.

Kembang Api Warga Mengalahkan Panggung Resmi

Meski atraksi drone memukau, letupan kembang api tetap mewarnai langit Kota Tua. Suara pengeras di panggung utama kalah oleh letupan dari berbagai penjuru. Sebagian besar kembang api berasal dari permukiman warga di sekitar kawasan wisata, termasuk Pinangsia, Glodok, dan belakang Stasiun Jakarta Kota.

Beberapa pengunjung nekat menyalakan kembang api di dalam area perayaan. Petugas keamanan segera menertibkan mereka. Shadam (24), salah satu pengunjung, berkomentar dengan bercanda, “Tetap ada ya, padahal tadi katanya mengheningkan cipta. Tapi ya namanya tahun baru, kurang seru kalau enggak ada ‘duar-duar’-nya.”

Imbauan Pejabat Bertemu Tradisi

Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, sebelumnya menekankan agar perayaan tidak diwarnai pesta kembang api berlebihan. Ia menegaskan, “Harapannya kemeriahan tahun baru tidak harus diwarnai bunyi petasan dan kembang api. Pertama, kita juga menjaga saudara kita yang sedang musibah.” tegasnya.

Ini Belum Selesai

Suran Agung PSHW ke-123: Madiun Mengawal Persaudaraan

TABOOO Corner Hadir di Winongo, Buka Ruang Membaca Realitas

Imbauan itu dimaksudkan untuk menunjukkan solidaritas kepada warga Sumatera yang masih memulihkan hidup pasca-bencana. Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Twedi Aditya pun menyebar anggota dan Bhabinkamtibmas untuk mengingatkan masyarakat agar tidak menyalakan kembang api secara berlebihan.

Namun, tradisi menyalakan kembang api terbukti sulit dibendung. Pesta warga berlangsung bersahutan selama 10-15 menit sebelum kerumunan mulai terurai usai pertunjukan drone.

Dampak Sosial: Kontradiksi Antara Euforia dan Empati

Perayaan ini menunjukkan kontradiksi sosial. Warga menikmati kebebasan dan kegembiraan, sementara pemerintah berupaya menegakkan norma solidaritas dan keamanan. Tradisi lama kerap berbenturan dengan imbauan moral dan sosial. Pertanyaannya muncul apakah euforia pribadi lebih kuat dibanding empati terhadap korban bencana?

Yang paling terdampak bukan hanya aparat yang harus mengatur keamanan, tetapi juga warga yang menyeimbangkan antara merayakan dan menghormati korban. Daerah terdampak di Sumatera tetap menunggu perhatian serius, jauh dari sorot lampu dan kembang api Jakarta.

Refleksi Politik dan Budaya

Peristiwa ini menjadi cermin bahwa kebijakan pemerintah sering berbenturan dengan kebiasaan masyarakat. Imbauan menahan diri dan menjaga solidaritas kadang kalah oleh hasrat untuk merayakan. Dalam konteks politik, hal ini mengingatkan bahwa komunikasi pemerintah harus menyentuh akar budaya masyarakat, bukan sekadar kata-kata formal di atas kertas.

Kota Tua, dengan kembang api dan atraksi drone-nya, menampilkan kontras antara kemeriahan simbolik dan realitas sosial. Pemerintah ingin menunjukkan empati, tapi masyarakat memilih merayakan pelepasan penat. Inilah ironi yang menghiasi pergantian tahun.

Kesimpulan: Antara Kembang Api dan Kesadaran

Perayaan Tahun Baru 2026 di Kota Tua Jakarta membuktikan satu hal euforia rakyat sulit diatur meski ada imbauan moral dan solidaritas. Masyarakat ingin merayakan, pemerintah ingin menegakkan norma sosial. Akibatnya, perhatian terhadap korban bencana bisa tersisihkan oleh hiruk-pikuk pesta.

Di antara warna-warni drone dan letupan kembang api, tersimpan pertanyaan yang menyentil apakah kemeriahan itu untuk rakyat banyak, atau sekadar tontonan bagi yang menonton dari jauh? Di negara yang katanya peduli, terkadang suara empati kalah oleh dentuman pesta. @dimas

Tags: 2026EmpatiJakarta BaratKota TuaPerayaanSolidaritasTahun Baru

Kamu Melewatkan Ini

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

by teguh
Juni 18, 2026

Media sosial sering mengabadikan kesalahan lebih lama daripada kebaikan. Satu unggahan bisa berubah menjadi ruang sidang publik dalam hitungan menit....

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

by teguh
Juni 16, 2026

Lampu toko kelontong itu tetap menyala seperti biasa. Aktivitas warga berjalan normal. Namun di balik malam yang tampak tenang, seorang...

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

by teguh
Juni 15, 2026

Seorang ayah Langkahnya pelan ketika memasuki halaman rumah pemilik toko. Di sampingnya berdiri dua anak laki-laki yang terus menunduk. Tak...

Next Post
Prabowo Rayakan Tahun Baru 2026 Bersama Pengungsi di Tapanuli Selatan

Prabowo Rayakan Tahun Baru 2026 Bersama Pengungsi di Tapanuli Selatan

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id