• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Kamis, Maret 26, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News Nasional

Iming-iming Operator Komputer, WNI Dijebak Jadi Scammer di Kamboja

Januari 5, 2026
in Nasional, News
A A
Iming-iming Operator Komputer, WNI Dijebak Jadi Scammer di Kamboja

Sejumlah WNI korban perdagangan orang (TPPO) atau penipuan online dipulangkan ke Indonesia. (Foto istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Janji pekerjaan layak kembali memakan korban. Kepolisian Republik Indonesia membongkar praktik tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang menjerat warga negara Indonesia melalui lowongan kerja palsu sebagai operator komputer di Kamboja. Alih-alih bekerja di perusahaan resmi, para korban justru terjebak dalam jaringan penipuan daring lintas negara.

Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigjen Pol. Moh. Irhamni menyampaikan, salah satu korban bersama suaminya tertarik pada tawaran kerja dengan gaji Rp 9 juta per bulan. Tawaran itu datang dari seseorang yang mengaku telah bekerja sebagai operator komputer di Kamboja.

“Pelaku menjanjikan pekerjaan dengan gaji Rp 9 juta per bulan. Setelah korban menyatakan minat, sponsor langsung mengurus seluruh dokumen keberangkatan,” ujar Irhamni saat konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (26/12/2025) malam.

Dokumen Lengkap, Kebebasan Direnggut

Sponsor menyiapkan paspor, visa, hingga tiket keberangkatan tanpa hambatan. Proses yang cepat dan rapi membuat korban yakin bahwa pekerjaan tersebut legal dan aman.

Namun, setibanya di Kamboja, situasi berubah drastis. Sponsor mengambil paspor korban dan membawa mereka ke lokasi kerja yang tidak mereka kenal. Tanpa ruang menolak, korban harus bekerja sebagai scammer online.

Usai mendarat di Bandara Phnom Penh, seseorang menjemput korban dengan taksi dan mengajak mereka menempuh perjalanan darat selama empat jam. Karena baru pertama kali datang ke Kamboja, korban tidak memahami lokasi tujuan. Mereka mengikuti instruksi hingga akhirnya menyadari bahwa mereka telah masuk perangkap.

Target Gagal, Hukuman Menghantui

Di tempat kerja, tekanan datang setiap hari. Target penipuan menjadi ukuran utama kinerja. Ketika korban gagal memenuhi target, pelaku langsung menjatuhkan hukuman fisik dan psikis.

“Hukumannya bertahap, mulai dari push up, sit up, sampai lari 300 kali di lapangan futsal,” tambahnya.

Jam kerja panjang dan tekanan mental membuat korban hidup dalam ketakutan. Situasi semakin berat karena bos yang mengendalikan operasional diketahui merupakan warga negara asing asal China.

Kabur di Saat Lengah

Kesempatan melarikan diri muncul ketika pengawasan melemah. Saat pelaku mengajak korban makan bersama, korban memanfaatkan momen itu untuk kabur. Mereka langsung mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh dan meminta perlindungan.

Langkah tersebut menyelamatkan mereka. Polri kemudian berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan KBRI Phnom Penh untuk memulangkan para korban ke Indonesia.

RelatedPosts

Jalan Santai Banjar Legian Kulod: Dari Langkah Kecil ke Rasa Satu Keluarga

24 Nama Resmi Timnas Indonesia untuk FIFA Series 2026

Negara Hadir, Ancaman Belum Hilang

Pada hari yang sama, Polri memulangkan sembilan WNI korban TPPO dari Kamboja. Kepala Bareskrim Polri Komjen Pol. Syahardiantono menegaskan, pemulangan itu lahir dari kerja sama Polri, Kementerian Luar Negeri, KBRI Phnom Penh, dan BP2MI.

Ia menyebut langkah ini sebagai pelaksanaan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Astacita poin ke-7 yang menekankan perlindungan warga negara dan penegakan supremasi hukum.

“Polri memastikan negara hadir untuk melindungi warga dari segala bentuk eksploitasi dan kejahatan TPPO,” pungkasnya.

Siapa yang Paling Terdampak?

Kasus ini kembali menunjukkan bahwa pencari kerja dengan keterbatasan informasi dan tekanan ekonomi menjadi kelompok paling rentan. Tawaran gaji besar di luar negeri terus menjadi pintu masuk jaringan kejahatan lintas negara.

Selama ketimpangan ekonomi dan rendahnya literasi migrasi aman masih bertahan, modus serupa akan terus mencari korban baru. Negara memang berhasil memulangkan mereka, tetapi satu pertanyaan tetap menggantung: sampai kapan mimpi kerja layak berubah menjadi mimpi buruk di negeri orang? @dimas

Tags: kambojakbriKejahatanMigrasiOnlinePenipuanPerdagangan OrangPerlindunganPhnom PenhPol. Moh. IrhamniPolriScammerTPPOwni
Next Post
Israel Gempur Basis Elite Hizbullah di Lebanon

Israel Gempur Basis Elite Hizbullah di Lebanon

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Pakoe Boewono XIV: Raja Gen Z yang Menyelamatkan Ingatan Kraton

    Bersua Sang Raja: No Jeans, No Kaos

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengamen Jalanan: Korban Sistem atau Pilihan yang Dipelihara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Di Balik Kelancaran Mudik Lebaran, Nyawa Petugas Jadi Taruhan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Langkah di Bali Butuh Lebih dari Sekadar Mata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Joget Rp6 Juta Sehari: Program Sosial atau Ladang Cuan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.