Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Iming-iming Operator Komputer, WNI Dijebak Jadi Scammer di Kamboja

by dimas
Januari 5, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional

Tabooo.id: Nasional – Janji pekerjaan layak kembali memakan korban. Kepolisian Republik Indonesia membongkar praktik tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang menjerat warga negara Indonesia melalui lowongan kerja palsu sebagai operator komputer di Kamboja. Alih-alih bekerja di perusahaan resmi, para korban justru terjebak dalam jaringan penipuan daring lintas negara.

Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigjen Pol. Moh. Irhamni menyampaikan, salah satu korban bersama suaminya tertarik pada tawaran kerja dengan gaji Rp 9 juta per bulan. Tawaran itu datang dari seseorang yang mengaku telah bekerja sebagai operator komputer di Kamboja.

“Pelaku menjanjikan pekerjaan dengan gaji Rp 9 juta per bulan. Setelah korban menyatakan minat, sponsor langsung mengurus seluruh dokumen keberangkatan,” ujar Irhamni saat konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (26/12/2025) malam.

Dokumen Lengkap, Kebebasan Direnggut

Sponsor menyiapkan paspor, visa, hingga tiket keberangkatan tanpa hambatan. Proses yang cepat dan rapi membuat korban yakin bahwa pekerjaan tersebut legal dan aman.

Namun, setibanya di Kamboja, situasi berubah drastis. Sponsor mengambil paspor korban dan membawa mereka ke lokasi kerja yang tidak mereka kenal. Tanpa ruang menolak, korban harus bekerja sebagai scammer online.

Ini Belum Selesai

Ketika Polisi Dilarang Nge-Vape, Siapa yang Mengawasi Pengawas?

Banjir Lahar Dingin Semeru Jebol Tanggul, Akses Jalan Lumajang Terputus

Usai mendarat di Bandara Phnom Penh, seseorang menjemput korban dengan taksi dan mengajak mereka menempuh perjalanan darat selama empat jam. Karena baru pertama kali datang ke Kamboja, korban tidak memahami lokasi tujuan. Mereka mengikuti instruksi hingga akhirnya menyadari bahwa mereka telah masuk perangkap.

Target Gagal, Hukuman Menghantui

Di tempat kerja, tekanan datang setiap hari. Target penipuan menjadi ukuran utama kinerja. Ketika korban gagal memenuhi target, pelaku langsung menjatuhkan hukuman fisik dan psikis.

“Hukumannya bertahap, mulai dari push up, sit up, sampai lari 300 kali di lapangan futsal,” tambahnya.

Jam kerja panjang dan tekanan mental membuat korban hidup dalam ketakutan. Situasi semakin berat karena bos yang mengendalikan operasional diketahui merupakan warga negara asing asal China.

Kabur di Saat Lengah

Kesempatan melarikan diri muncul ketika pengawasan melemah. Saat pelaku mengajak korban makan bersama, korban memanfaatkan momen itu untuk kabur. Mereka langsung mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh dan meminta perlindungan.

Langkah tersebut menyelamatkan mereka. Polri kemudian berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan KBRI Phnom Penh untuk memulangkan para korban ke Indonesia.

Negara Hadir, Ancaman Belum Hilang

Pada hari yang sama, Polri memulangkan sembilan WNI korban TPPO dari Kamboja. Kepala Bareskrim Polri Komjen Pol. Syahardiantono menegaskan, pemulangan itu lahir dari kerja sama Polri, Kementerian Luar Negeri, KBRI Phnom Penh, dan BP2MI.

Ia menyebut langkah ini sebagai pelaksanaan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Astacita poin ke-7 yang menekankan perlindungan warga negara dan penegakan supremasi hukum.

“Polri memastikan negara hadir untuk melindungi warga dari segala bentuk eksploitasi dan kejahatan TPPO,” pungkasnya.

Siapa yang Paling Terdampak?

Kasus ini kembali menunjukkan bahwa pencari kerja dengan keterbatasan informasi dan tekanan ekonomi menjadi kelompok paling rentan. Tawaran gaji besar di luar negeri terus menjadi pintu masuk jaringan kejahatan lintas negara.

Selama ketimpangan ekonomi dan rendahnya literasi migrasi aman masih bertahan, modus serupa akan terus mencari korban baru. Negara memang berhasil memulangkan mereka, tetapi satu pertanyaan tetap menggantung: sampai kapan mimpi kerja layak berubah menjadi mimpi buruk di negeri orang? @dimas

Tags: kambojakbriKejahatanOnlinePenipuanPerdagangan OrangPerlindunganPolriScammer

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Polisi Dilarang Nge-Vape, Siapa yang Mengawasi Pengawas?

Ketika Polisi Dilarang Nge-Vape, Siapa yang Mengawasi Pengawas?

by teguh
November 3, 2026

Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto melarang seluruh Pegawai Negeri pada Polri (PNPP) menggunakan rokok elektrik atau vape. Larangan Polisi...

Dijanjikan Kerja, WNI Justru Direkrut ke Medan Perang Rusia

Dijanjikan Kerja, WNI Justru Direkrut ke Medan Perang Rusia

by dimas
November 3, 2026

Dijanjikan kerja di luar negeri, 58 WNI justru masuk dalam jaringan perekrutan militer Rusia yang mengarahkan calon korban ke medan...

Desa Bersinar: Jangan Cuma Terang di Spanduk, Gelap di Lapangan

Desa Bersinar: Jangan Cuma Terang di Spanduk, Gelap di Lapangan

by teguh
November 1, 2026

Indonesia punya 75.266 desa bersinar yang ditargetkan menjadi wilayah bersih narkoba. Angkanya besar, ambisinya terdengar meyakinkan, dan kolaborasi pemerintah dengan...

Next Post
Israel Gempur Basis Elite Hizbullah di Lebanon

Israel Gempur Basis Elite Hizbullah di Lebanon

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id