Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Politik Ala Instagram: Estetik di Depan, Retak di Belakang

by dimas
Desember 26, 2025
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Bayangkan politik seperti Instagram Story. Ada filter, ada caption bijak, ada backsound mellow. Semua tampak rapi, hangat, dan penuh harapan. Tapi begitu swipe up ke realita, sinyal hilang, buffering, lalu muncul tulisan kecil “Konten tidak sesuai kenyataan.”
Selamat datang di politik era media sosial, tempat citra dipoles sampai kinclong, lalu runtuh hanya karena satu notifikasi.

Di zaman sekarang, politisi bukan cuma pembuat kebijakan. Mereka juga content creator. Bedanya, kalau influencer salah endorse bisa minta maaf. Kalau politisi salah bangun persona, yang retak bukan cuma reputasi tapi kepercayaan publik.

Dan ya, di sinilah absurditas itu bermula.

Ketika Feed Lebih Penting dari Fakta

Dalam politik modern, citra bukan lagi pelengkap. Ia jadi menu utama. Media sosial mengubah cara pemimpin hadir di ruang publik lebih personal, lebih emosional, dan tentu saja lebih estetik. Publik tidak hanya melihat program, tapi juga melihat dapur rumah, foto keluarga, jokes receh, hingga caption penuh empati.

Ridwan Kamil paham betul permainan ini. Jauh sebelum menjabat Gubernur Jawa Barat, ia sudah fasih bermain di arena digital. Ia tampil sebagai pemimpin kreatif, religius moderat, ramah anak muda, sekaligus family man idaman. Instagram-nya bukan sekadar laporan kerja, tapi etalase kehidupan ideal. Dari rapat hingga romantika rumah tangga bersama “Bu Cinta”, semuanya tersaji rapi.

Ini Belum Selesai

Air Keras untuk Kritik: Demokrasi Sedang Sakit?

Demokrasi Tanpa Oposisi: Stabil atau Berbahaya?

Publik pun jatuh cinta. Bahkan bukan cuma percaya tapi berharap terlalu tinggi.

Political Branding: Politisi sebagai Produk Premium

Dalam ilmu komunikasi politik, ini disebut political branding. Politisi diperlakukan seperti merek. Harus konsisten, relatable, dan punya nilai emosional. Needham (2005) bahkan menyamakan politisi dengan brand komersial butuh identitas kuat, pesan jelas, dan diferensiasi.

Masalahnya, brand bisa rusak kalau kemasannya bocor.

Scammell (2015) menambahkan satu hal penting: politik kini makin personal. Pemimpin tidak lagi dinilai semata dari kebijakan, tapi dari persona. Dan media sosial mempercepat proses itu. Relasi terasa intim, seolah publik mengenal sang pemimpin secara pribadi. Padahal yang dilihat hanyalah versi yang sudah dikurasi.

Singkatnya, publik jatuh cinta pada panggung depan.

Ketika Backstage Bocor ke Publik

Masalah muncul saat cerita di balik layar mulai terdengar. Pasca-Pilkada Jakarta 2024, berbagai isu personal mencuat dan menabrak citra yang sudah dibangun bertahun-tahun. Dugaan korupsi, isu perselingkuhan, hingga gugatan cerai hadir beruntun, seperti notifikasi grup WhatsApp yang tak bisa dimute.

Di titik ini, publik tidak sekadar membaca berita. Mereka merasa dikhianati.

Karena dalam politik berbasis persona, yang runtuh bukan hanya fakta, tapi emosi kolektif. Kekaguman berubah jadi kekecewaan. Harapan berubah jadi sinisme. Dan komentar warganet berubah dari “inspiratif” menjadi “ternyata sama saja”.

Demokrasi yang Terlalu Baper

Erving Goffman sudah mengingatkan sejak 1959 kehidupan sosial adalah panggung. Ada front stage dan back stage. Politisi tampil rapi di depan publik, sementara sisi lain disimpan di belakang. Media sosial, sayangnya, membuat panggung depan nyaris tanpa jeda.

Begitu panggung belakang bocor, publik mengira seluruh pertunjukan adalah kebohongan.

Di sinilah demokrasi jadi ringkih. Politik yang terlalu bertumpu pada persona membuat publik menilai berdasarkan rasa suka, bukan kinerja. Akibatnya, kepercayaan memang cepat naik tapi juga cepat ambruk. Demokrasi berubah jadi urusan perasaan, bukan pertanggungjawaban.

Bukan Soal Siapa, Tapi Soal Cara

Penting dicatat ini bukan semata soal satu tokoh. Ini soal sistem politik yang gemar menjual figur ketimbang kerja. Media sosial memang memudahkan pencitraan. Tapi ia juga mempercepat kehancuran citra itu sendiri.

Politisi seharusnya tidak memperlakukan media sosial sebagai studio foto, melainkan ruang akuntabilitas. Sementara publik perlu berhenti mengidolakan dan mulai mengawasi.

Karena demokrasi tidak butuh pemimpin sempurna. Demokrasi butuh pemimpin yang bisa diuji, dikritik, dan kalau perlu dikoreksi.

Punchline: Filter Bisa Luntur, Sistem Harus Tahan Banting

Pada akhirnya, politik tidak bisa hidup dari feed yang rapi. Ia butuh sistem yang kuat.
Sebab filter Instagram bisa luntur dalam 24 jam.
Tapi kepercayaan publik, sekali retak, butuh bertahun-tahun untuk pulih.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi, “Siapa pemimpin paling relatable?”
Melainkan, “Siapa yang tetap berdiri ketika filter dimatikan?” @dimas

Tags: DemokrasiEdge TaboooFaktakuasaMediaPolitik IndonesiaSosialSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

by Tabooo
Juni 10, 2026

UU Polri baru tidak hanya mengubah batas usia pensiun. Aturan ini juga membuka pertanyaan besar soal regenerasi, kewenangan digital, ruang...

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

by dimas
Juni 9, 2026

Sosialisme pernah menjadi bagian penting dari sejarah pergerakan Indonesia. Namun kekuasaan mengubahnya menjadi kata terlarang yang terus dibayangi stigma, ketakutan,...

Tan Malaka vs Soekarno-Hatta: Pertarungan Kuasa di Awal Republik

Tan Malaka vs Soekarno-Hatta: Pertarungan Kuasa di Awal Republik

by Tabooo
Juni 8, 2026

Di awal berdirinya republik, Tan Malaka menuntut Merdeka 100%, sementara Soekarno-Hatta memilih jalan negara, pengakuan internasional, dan kalkulasi politik yang...

Next Post
Dari Ujian Desa ke Gugatan: Ayah dan Anak Terbelah Jabatan

Dari Ujian Desa ke Gugatan: Ayah dan Anak Terbelah Jabatan

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id