Tabooo.id: News – Sabtu sore (6/12/2025), layar konferensi pers daring BNPB menegangkan suasana. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, Abdul Muhari, Ph.D., membuka laporan terbaru tentang banjir dan longsor yang menghantam Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Nada suaranya tenang, tetapi isi laporannya meretakkan hati siapa pun yang mendengarnya.
Ia menegaskan bahwa angka korban tewas sudah mencapai level mengkhawatirkan, sementara ratusan keluarga masih hidup dalam ketidakpastian.
“Kami masih mencari 389 orang yang belum ditemukan,” ujarnya. Kalimat singkat itu memotong udara seperti pisau.
Angka Korba Yang Terus Bertambah
Abdul menyampaikan data rinci yang menunjukkan betapa besar kekacauan yang terjadi di tiga provinsi tersebut:
- Aceh: 359 orang meninggal jumlah tertinggi dan paling mengguncang.
- Sumatra Utara: 329 orang meninggal angka yang menandai betapa parahnya kerusakan.
- Sumatra Barat: 226 orang meninggal wilayah yang kembali jatuh dalam siklus bencana.
Totalnya mencapai 914 korban jiwa. Setiap angka membawa nama, wajah, dan cerita yang terputus mendadak.
Tim gabungan terus menyisir titik-titik yang tertimbun lumpur, tersapu arus, atau terputus dari akses. Mereka berpacu dengan waktu karena setiap jam menentukan peluang keselamatan.
Siapa Untung, Siapa Rugi?
Dalam bencana sebesar ini, pertanyaannya bukan lagi siapa benar, siapa salah tetapi siapa menanggung beban paling berat.
Yang diuntungkan:
- Pemerintah yang bergerak cepat bisa menunjukkan kemampuan koordinasi dan memperkuat kepercayaan publik.
- Lembaga kemanusiaan mendapatkan dukungan masyarakat yang meningkat.
Yang dirugikan:
- Warga di wilayah terdampak yang kehilangan keluarga, rumah, tabungan, dan masa depan.
- Pelaku ekonomi lokal yang harus menghadapi putusnya jalur logistik dan rusaknya infrastruktur dasar.
- Pemerintah daerah dengan anggaran terbatas yang kini menerima tekanan besar untuk bangkit lebih cepat.
Kenyataannya jelas: masyarakat kelas bawah yang paling terpukul, sementara pemulihan berjalan lebih lambat dari laju kehilangan.
Operasi Pencarian Yang Tak Boleh Berhenti
Tim SAR menembus hujan, lumpur, dan jalur yang hancur. Mereka bukan hanya mencari korban, tetapi juga harapan keluarga yang menunggu kabar. Setiap temuan mengubah suasana: kadang membawa kelegaan, kadang menghapus sisa harapan.
Sementara itu, wilayah-wilayah yang terluka memperlihatkan satu pola lama yang selalu berulang mitigasi lemah, infrastruktur rapuh, dan kesiapsiagaan yang tidak pernah benar-benar matang.
Penutup: Jika Kita Terus Lupa, Alam Tak Pernah Ragu Untuk Mengingatkan
Sumatra kembali jatuh bukan karena kelemahan warganya, tetapi karena kita terlalu sering membiarkan alam bekerja sendirian tanpa sistem penahan yang layak. Kita membicarakan perbaikan setiap tahun, tetapi kerusakan terus datang lebih cepat dari tindakan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang harus kita hadapi terasa ironis kapan kita berhenti menyalahkan hujan dan mulai memperbaiki diri?. @teguh




