Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pameran Uang Bukan Prestasi, Tapi Alarm Korupsi

by dimas
November 22, 2025
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Kamis sore yang lembap di Gedung Merah Putih berubah menjadi panggung teater yang tidak pernah direncanakan. Di tengah ruangan, tumpukan uang Rp300 miliar menjulang seperti instalasi seni. Kamera berkedip cepat, para jurnalis saling mendorong, dan seorang petugas KPK berdiri layaknya kurator museum yang menjaga karya mahal.

Di sela hiruk-pikuk itu, seorang wartawan sempat berbisik pada rekannya, “Ini KPK atau pameran UMKM ‘Festival Uang Nusantara’ sih?”

Adegan tersebut tampak dramatis, bahkan absurd. Namun atmosfer seperti inilah yang kini muncul sebagai wajah baru pemberantasan korupsi panggung penuh visual, lengkap dengan sorotan lampu dan kerumunan penonton. Dan di tengah keramaian itu, publik terpecah apakah ini bentuk transparansi atau sekadar gimmick untuk menutupi luka lebih dalam?

Lubang Sistem yang Membesar Tanpa Disadari

Kasus investasi fiktif PT Taspen membuka lagi kelemahan negara dalam mengawasi uang publik. Dari manipulasi yang berjalan bertahun-tahun itu, KPK menyita lebih dari Rp883 miliar dari Ekiawan Heri Primaryanto. Ia menerima vonis sembilan tahun dan memilih tidak mengajukan banding, sehingga penyitaan berjalan lancar.

Rp300 miliar yang dipamerkan hanya potongan kecil dari total yang direbut kembali. Meski begitu, nilainya cukup besar untuk memadati satu ruangan dan mengingatkan publik bahwa korupsi di negeri ini bukan sekadar rumor, tetapi kenyataan yang merampas masa depan.

Ini Belum Selesai

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

Saat Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menyebut pameran itu sebagai bentuk transparansi, publik mengangguk meski tetap menyimpan curiga. Di Indonesia, angka fantastis sering hadir seperti judul sinetron panjang penuh drama, tetapi tidak pernah benar-benar selesai.

Sementara itu, pameran barang bukti bukan hanya terjadi sekali.

Showroom Gedung Merah Putih: Ketika Barang Bukti Disulap Menjadi Atraksi

Agustus 2025 menjadi momen yang sulit dilupakan. Gedung Merah Putih seketika tampil seperti showroom mobil mewah. BMW, Nissan GT-R, Toyota Hilux, hingga deretan motor Ducati tersusun rapi seperti sedang menunggu pembeli. Semua kendaraan itu berasal dari kasus dugaan pemerasan di Kementerian Ketenagakerjaan yang menyeret nama Immanuel Ebenezer.

Tampilan visual tersebut mendominasi pemberitaan. Banyak orang lebih sibuk memotret mobil-mobil itu daripada memahami kerugian negara atau dampak kasusnya terhadap masyarakat. Panggungnya terlalu besar, sementara substansinya tenggelam.

Kejagung Masuk Arena dan Langsung Mendominasi

Di sisi lain, Kejagung memilih langkah yang lebih mencolok. Institusi yang dipimpin ST Burhanuddin itu berkali-kali menampilkan uang sitaan dalam jumlah yang luar biasa besar. Puncaknya terjadi pada Oktober 2025, ketika mereka memperlihatkan uang terkait kasus ekspor CPO senilai Rp13 triliun. Ruang lobi bahkan tidak mampu menampung seluruh Rp11,8 triliun titipan negara itu.

Situasi itu menciptakan ironi baru lembaga penegak hukum kehabisan tempat bukan karena barang bukti terlalu banyak, tetapi karena jumlah uang sitaan tidak masuk akal.

Beberapa bulan sebelumnya, Kejagung kembali membuat publik terpukau dengan menampilkan Rp565,3 miliar dari kasus importasi gula. Bundelan uang itu tersusun rapi per Rp1 miliar. Penjelasan hukumnya tetap formal, tetapi visualnya justru mengingatkan orang pada brosur bank yang memamerkan program tabungan baru.

Pertanyaan Penting yang Tenggelam oleh Gemerlap Visual

Masyarakat kerap terpukau oleh tumpukan uang tunai, tetapi jarang mempertanyakan hal yang seharusnya menjadi fokus bagaimana uang sebanyak itu bisa hilang? Siapa yang mengawasi? Mengapa sistem negara membiarkan pencurian triliunan terjadi berulang?

Visual selalu menang, sementara inti masalah tenggelam.

Di balik gemerlap bundel uang itu, ada mereka yang tidak pernah masuk frame pensiunan yang menunggu dana pasti, pekerja yang kehilangan hak, petani yang tersisih oleh importasi, dan keluarga kecil yang merasakan langsung layanan publik yang patah akibat anggaran bocor.

Untuk mereka, uang triliunan bukan pemandangan. Itu adalah kehidupan yang direnggut.

Negara Suka Pamer karena Publik Suka Ditunjukkan

Fenomena baru ini lahir dari kebutuhan institusi antikorupsi membangun legitimasi. Dan legitimasi paling cepat datang dari gambar spektakuler. Tidak ada yang lebih efektif dibanding menata uang tunai, mobil mewah, dan motor gede di tengah ruangan.

Tetapi strategi itu menyimpan ironi besar. Ketika negara memamerkan hasil rampasan, negara juga mengakui kegagalannya menjaga uang publik sejak awal. Panggung itu menampilkan dua sisi sekaligus keberhasilan menangkap maling dan kegagalan mencegah pencurian.

Antikorupsi Tidak Seharusnya Bergantung pada Panggung

Pemberantasan korupsi mestinya berlangsung tanpa sorotan kamera. Kerja itu seharusnya teliti, sunyi, dan sistemik. Pameran bukti memang bisa membantu edukasi publik, tetapi ketika visual mengalahkan substansi, pesan utamanya mengilang.

Sebaliknya, institusi antirasuah justru perlu menjawab pertanyaan besar yang selalu diabaikan bagaimana sistem negara memungkinkan uang sebanyak itu menguap? Tanpa jawaban itu, pameran uang hanya menjadi dekorasi yang memperindah masalah.

Pameran Uang Bukan Prestasi Itu Alarm

Pameran uang pada akhirnya hanya melahirkan simbol. Simbol kemenangan kecil yang berdiri di atas kerugian besar. Simbol keberhasilan yang menutupi fakta bahwa korupsi terus berjalan dalam skala yang lebih luas.

Rakyat mungkin kagum melihat tumpukan uang menjulang seperti dinding. Namun, mereka tetap berhak bertanya:

“Yang kita lihat ini hasil rampasan atau bukti kelalaian negara?”

Selama kebocoran tidak ditutup, tumpukan uang itu akan terus bertambah. Gedung KPK atau Kejagung mungkin membutuhkan ruang baru bukan untuk penyidik, tetapi untuk pameran barang bukti berikutnya.

Di negeri yang korupsinya nyaris tidak pernah berhenti, pameran uang bukan prestasi. Itu peringatan keras. @dimas

Tags: KejagungKPK

Kamu Melewatkan Ini

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

by dimas
Juni 6, 2026

KPK menyita mobil sport, Harley, perhiasan, dan valas dari rumah Silmy Karim. Penyidik menelusuri dugaan korupsi izin tinggal WNA senilai...

Rel Uang di Balik Rel Kereta: Ketika Proyek Negara Jadi Jalur Fee Elite

Rel Uang di Balik Rel Kereta: Proyek Negara Jadi Jalur Fee Elite?

by teguh
Mei 29, 2026

Rel kereta seharusnya membawa orang sampai tujuan. Namun dalam kasus dugaan korupsi proyek jalur kereta di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA)...

Dugaan Gratifikasi di Kemenhub: Rel Kereta atau Jalur Uang?

Dugaan Gratifikasi di Kemenhub: Rel Kereta atau Jalur Uang?

by teguh
Mei 28, 2026

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus memburu dugaan aliran uang dalam kasus korupsi proyek jalur kereta api di Direktorat Jenderal Perkeretaapian...

Next Post
Jaman Berubah, Normalisasi Pasangan Gay

Jaman Berubah, Normalisasi Pasangan Gay

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id