Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Birokrasi Bermasalah, Gaji Guru Gowa yang Jadi Korban

by dimas
September 10, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Gaji guru Gowa tertahan akibat persoalan birokrasi dan pergantian pejabat. Lebih dari 6.000 guru menunggu kepastian pembayaran hingga akhir pekan.

Tabooo.id – Tanggal gajian mestinya sederhana.

Guru mengajar. Pemerintah membayar. Kehidupan berjalan seperti biasa.

Namun, di Gowa, Sulawesi Selatan, urusan itu justru tersangkut di meja birokrasi.

Ribuan guru belum menerima gaji hingga Rabu, 9 September 2026. Pengurus PGRI Gowa kemudian membawa persoalan tersebut ke DPRD Gowa.

Pertemuan berlangsung di Kantor DPRD Gowa pada Rabu.

Ini Belum Selesai

Anggaran BGN 2027 Turun Rp30 Triliun, MBG Tetap Dominan

Patungan Rp10 Ribu, Massa Datangi Kemensos Gugat Desil Bansos

Ketua PGRI Gowa Sappe Mangiriang menyebut pembayaran gaji menjadi keluhan utama para guru.

PGRI menemukan keluhan itu setelah mendatangi enam kecamatan dan bertemu langsung dengan guru.

Selain gaji, PGRI juga menyampaikan aspirasi soal kebijakan libur guru dan infak wajib bagi ASN.

Namun, keterlambatan gaji menjadi persoalan paling mendesak.

“Kenapa gaji kami ini terlambat dibayarkan hanya karena persoalan elite yang ribut di atas? Kenapa kita yang jadi korban?” ujar Sappe.

Namun, jawabannya membawa kita masuk ke persoalan yang lebih besar.

Ketika Urusan Elite Masuk ke Dompet Guru

Jumlah guru yang terdampak mencapai lebih dari 6.000 orang.

Mereka terdiri atas guru PNS, PPPK penuh waktu, PPPK paruh waktu, dan tenaga outsourcing.

Para guru tersebut mengajar dari jenjang TK sampai SMP.

Karena itu, keterlambatan gaji tidak berhenti pada urusan administrasi.

Dampaknya langsung masuk ke kehidupan keluarga.

Kebutuhan rumah tangga tetap berjalan. Cicilan dan pinjaman juga terus menunggu pembayaran.

PGRI Gowa bahkan menyebut sekitar 90 persen guru menggunakan SK kepegawaian sebagai jaminan kredit perbankan.

Situasi itu membuat keterlambatan semakin menekan.

“Ini sangat memberatkan guru-guru karena penghasilan mereka sudah memiliki kewajiban masing-masing,” kata Sappe.

Di balik angka 6.000, ada ribuan keluarga yang ikut menunggu.

Kebutuhan rumah tangga, cicilan, dan biaya anak terus berjalan. Karena itu, gaji yang terlambat langsung menekan kehidupan guru.

Dengan begitu, angka tersebut bukan sekadar data.

Angka itu menunjukkan jumlah kehidupan yang ikut terseret dalam persoalan birokrasi.

Dari Keterlambatan Menjadi Ancaman Mogok

PGRI Gowa akhirnya memberikan batas waktu kepada pemerintah.

Mereka meminta pembayaran selesai sebelum akhir pekan.

Jika pemerintah belum membayar gaji, para guru akan mogok mengajar mulai Senin, 14 September.

Ancaman itu mengubah persoalan administratif menjadi persoalan pelayanan publik.

Sebab, ketika ribuan guru berhenti mengajar, dampaknya akan masuk ke ruang kelas.

Siswa ikut terkena dampak.

Orang tua juga harus menghadapi perubahan aktivitas.

Sekolah pun perlu menyiapkan langkah menghadapi kemungkinan tersebut.

Satu persoalan administrasi akhirnya bisa bergerak jauh.

Dari meja birokrasi, masalah itu menuju ruang kelas.

Dari ruang kelas, dampaknya sampai ke rumah siswa.

DPRD Masuk, Pemerintah Berjanji Mempercepat

DPRD Gowa merespons tuntutan PGRI.

Wakil Ketua DPRD Gowa Hasrul Abdul Rajab meminta para guru tetap tenang.

DPRD juga memastikan aspirasi tersebut akan mereka tindak lanjuti.

Pada Jumat, 11 September, DPRD berencana mengundang Plh Sekda dan Kepala Dinas Pendidikan Gowa.

Pertemuan itu akan membahas persoalan pembayaran gaji.

Sementara itu, Plh Sekda Gowa Firdaus menyebut pemerintah sedang mempercepat pembayaran gaji ASN dan PPPK.

Menurut Firdaus, proses pembayaran menghadapi kendala pada tahap cut-off dan penginputan data.

Masalah tersebut muncul setelah pemerintah mengganti sejumlah pejabat tinggi pratama.

Pergantian itu kemudian menuntut penyesuaian administrasi.

Data harus kembali masuk ke sistem.

Tanggung jawab pejabat lama dan pejabat baru juga harus dipisahkan.

Tujuh SKPD, Enam Sudah Beres

Dari tujuh SKPD yang terdampak, enam telah menyelesaikan proses cut-off.

Keenamnya meliputi Sekretariat Daerah, BPKD, BKPSDM, Inspektorat, Satpol PP, dan Bappeda.

Sementara itu, Sekretariat DPRD Gowa masih menunggu klarifikasi dari BKN.

Pemerintah juga melakukan konsultasi dengan Biro Hukum Pemprov Sulsel.

Firdaus menjelaskan pemerintah tidak dapat membayar gaji secara parsial.

Seluruh SKPD harus menuntaskan cut-off terlebih dahulu.

Langkah tersebut bertujuan memisahkan tanggung jawab administrasi pejabat lama dan pejabat baru.

Secara administratif, alasan itu terdengar masuk akal.

Namun, masalah muncul ketika proses tersebut ikut menahan hak ribuan guru.

Birokrasi Berjalan dengan Data, Guru Berjalan dengan Kebutuhan

Di sinilah persoalan Gowa menjadi lebih menarik.

Pemerintah berbicara tentang cut-off.

Guru berbicara tentang kebutuhan hidup.

Birokrasi menunggu data lengkap.

Keluarga menunggu pemasukan.

Pemerintah membutuhkan dokumen yang benar.

Guru membutuhkan kepastian.

Keduanya memang memiliki kebutuhan berbeda.

Namun, hanya satu pihak yang harus menunggu sambil tetap membayar kebutuhan sehari-hari.

Harga kebutuhan pokok tidak ikut menunggu cut-off.

Bank juga tidak menghentikan jatuh tempo cicilan.

Kebutuhan keluarga tetap berjalan meski data administrasi belum selesai.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar kapan gaji cair.

Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa perubahan di tingkat pejabat bisa berdampak sampai ke penghasilan guru?

Apakah sistem administrasi pemerintah sudah cukup kuat menghadapi pergantian pejabat?

Atau justru masyarakat masih menjadi pihak pertama yang menanggung gangguan sistem?

Ini Bukan Sekadar Gaji Terlambat

Keterlambatan gaji memang terlihat seperti persoalan teknis.

Namun, dampaknya sangat manusiawi.

Lebih dari 6.000 guru kini menunggu kepastian pembayaran.

Mereka tidak sedang meminta fasilitas tambahan.

Mereka menunggu hak atas pekerjaan yang sudah mereka jalankan.

Setiap hari, guru tetap masuk kelas dan menjalankan tugasnya.

Di sisi lain, sistem pembayaran masih menunggu proses internal selesai.

Ironi itu sulit diabaikan.

Guru diminta mendidik generasi masa depan.

Namun, mereka sendiri harus menunggu kepastian tentang kebutuhan hari ini.

Ancaman mogok juga tidak muncul begitu saja.

PGRI memberi pemerintah waktu sampai akhir pekan.

Jika pembayaran tetap tersendat, mereka akan menghentikan aktivitas mengajar.

Artinya, kesabaran para guru mulai menemukan batas.

Di Balik Gaji Guru yang Tak Kunjung Cair

Kasus Gowa memperlihatkan persoalan yang lebih besar daripada keterlambatan gaji.

Pergantian pejabat dapat memicu proses administrasi baru.

Proses itu membutuhkan data, verifikasi, dan pemisahan tanggung jawab.

Semua tahapan tersebut memang penting.

Namun, sistem yang baik seharusnya mampu menjaga pelayanan tetap berjalan ketika pejabat berganti.

Sebab, administrasi seharusnya menjadi alat pelayanan.

Bukan alasan yang membuat pelayanan ikut berhenti.

Jika ribuan guru harus menunggu karena proses internal belum selesai, berarti ada persoalan pada ketahanan sistem.

Masalahnya bukan hanya siapa yang belum menginput data.

Masalahnya adalah mengapa sistem belum mampu mencegah hak masyarakat ikut tersendat.

Di titik itu, cut-off berubah dari istilah administrasi menjadi simbol.

Simbol tentang bagaimana keputusan di atas bisa menghasilkan beban di bawah.

Guru tidak ikut memilih pejabat yang berganti.

Guru juga tidak merancang prosedur cut-off.

Namun, ketika sistem tersendat, merekalah yang menunggu.

Dan ketika gaji terlambat, keluarga merekalah yang ikut menanggung.

Pada akhirnya, persoalan Gowa mengajukan pertanyaan sederhana.

Jika sistem berubah, mengapa hak orang yang bekerja harus ikut tertunda?

Sebab, birokrasi boleh punya istilah cut-off. Tetapi kehidupan tidak pernah punya tombol jeda. @dimas

Tags: Birokrasi GowaGaji Guru GowaGuru GowaKeterlambatan GajiPendidikan Gowa

Kamu Melewatkan Ini

Gaji Tersandera Birokrasi, 6.000 Guru Gowa Ancam Mogok Mengajar

Gaji Tersandera Birokrasi, 6.000 Guru Gowa Ancam Mogok Mengajar

by dimas
September 10, 2026

Gaji tersandera birokrasi, 6.000 guru Gowa mengancam mogok mengajar mulai Senin jika hak mereka belum dibayarkan. Tabooo.id - Senin seharusnya...

Next Post
Solo Bidik Peluang Kerja dan Belajar di Selandia Baru

Solo Bidik Peluang Kerja dan Belajar di Selandia Baru

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id