Selasa, Agustus 25, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Benang Kusut Pelimpahan Kasus Minyak Mentah antara Kejagung-KPK

by dimas
November 22, 2025
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Jakarta kembali menjadi panggung drama hukum yang sulit ditebak ujungnya. Kejaksaan Agung menegaskan bahwa mereka masih menangani kasus dugaan korupsi minyak mentah dan produk kilang di Pertamina Energy Trading Limited (Petral)/PES periode 2008-2015. Tidak ada pelimpahan, tidak ada “tukar guling”, dan tidak ada cerita sebaliknya. Begitu tegas Kapuspenkum Kejagung, Anang Supriatna, saat ditemui di Gedung Kejagung, Jumat (21/11/2025).

“Belum ada pelimpahan sama sekali. Tidak ada istilah pertukaran atau tukar guling,” ujar Anang.
Pernyataan yang seketika menyalakan lampu merah sebab beberapa jam sebelumnya, KPK menyatakan hal yang berbeda.

Di sisi lain Jakarta, KPK melalui Wakil Ketua Fitroh Rohcahyanto justru menyebut telah ada pelimpahan informal. Bukan resmi, katanya, tapi sudah dibicarakan. Satu institusi menyebut belum pernah ada, yang satu lagi bilang prosesnya sudah berjalan pelan-pelan. Hasilnya? Publik yang sedang menonton hanya bisa mengernyitkan dahi siapa sebenarnya yang sedang memegang bola?

Dua Lembaga, Dua Versi, Satu Kebingungan Publik

Kisruh ini bermula dari pernyataan Ketua KPK, Setyo Budiyanto, yang mengungkap bahwa Kejagung telah melimpahkan penyidikan kasus minyak mentah ke lembaga antirasuah. Bersamaan dengan itu, KPK mengaku melimpahkan kasus Google Cloud ke Kejagung karena dianggap beririsan dengan kasus Chromebook yang sedang ditangani Korps Adhyaksa.

Dalam penjelasannya di Bogor, Setyo tampak yakin KPK menangani kasus minyak mentah, Kejagung menangani Google Cloud, dan itu hasil koordinasi. Namun, ketika Kejagung membantah keras, perdebatan ini berubah menjadi tontonan yang mengaburkan inti persoalan korupsi triliunan rupiah masih menggantung di udara, tertutup oleh kabut komunikasi dua institusi penegak hukum.

Ini Belum Selesai

BEM Undip Tagih Pemerintah: Mengapa Karhutla Terus Berulang?

Desil Timbul Lompat dari 1 ke 9, Kuliah Anak Tukang Becak Terancam

Masyarakat tidak diuntungkan oleh drama ini. Yang diuntungkan justru mereka yang berkepentingan agar kasus berjalan lambat, atau bahkan melempem. Dan setiap kali Kejagung dan KPK saling bersilang pernyataan, para pemain lama di balik layar punya lebih banyak ruang bernapas.

Kasus Tumpang Tindih: Petral, Chromebook, dan Google Cloud

Jika ditelusuri, akar masalahnya ada pada dua kasus besar yang saling beririsan.

Pertama, kasus dugaan korupsi di tubuh Pertamina.
Kejagung menyidik periode 2008-2015, sementara KPK memproses periode 2009-2015. Mereka menyasar ladang yang sama, hanya beda tahun dan beda modus. Kasus ini bukan barang baru KPK pernah masuk tahun 2019, memeriksa saksi-saksi, lalu berjalan pelan sampai akhirnya menerbitkan sprindik baru di November 2025. Di sisi lain, Kejagung sudah memeriksa 20 saksi dalam penyidikan versi mereka.

Kedua, dua kasus korupsi di Kemendikbudristek yang menyeret nama Nadiem Makarim.
Kejagung telah menetapkan mantan menteri itu sebagai tersangka dalam kasus Chromebook. Sementara KPK tengah menyelidiki pengadaan Google Cloud yang disebut terjadi pada periode yang sama dan melibatkan orang yang sama.

Koordinasi dua lembaga seharusnya membuat proses lebih cepat. Namun kenyataannya, koordinasi justru melahirkan dua versi cerita yang tidak sinkron. Siapa yang sebenarnya menangani apa masih kabur, sementara para tersangka potensial mungkin sedang memanfaatkan jeda ini untuk merapikan jejak.

Publik Hanya Melihat Institusi Bicara, Bukan Koruptor Ditangkap

Di dalam hiruk-pikuk saling klaim pelimpahan, hal yang paling hilang adalah kepastian. Kasus minyak mentah Petral sudah berusia lebih dari satu dekade, tetapi penyelesaiannya berjalan lambat bahkan dibandingkan kereta barang.

Kebingungan ini juga membuka peluang bagi oknum untuk bermain, karena tumpang tindih kasus berarti tumpang tindih kewenangan, dan tumpang tindih kewenangan berarti peluang “mengatur” proses hukum.

Siapa yang diuntungkan?
Mereka yang ingin kasus ini tidak pernah selesai.

Siapa yang dirugikan?
Masyarakat, negara, dan siapapun yang pernah berharap bahwa reformasi hukum bukan slogan kosong.

Akhirnya: Penegak Hukum Serius, Atau Hanya Serius Berdebat?

Kisruh Kejagung KPK ini mungkin terlihat teknis, tetapi dampaknya tidak main-main. Korupsi minyak mentah menyangkut triliunan rupiah. Kasus Chromebook dan Google Cloud menyangkut layanan pendidikan jutaan siswa. Setiap hari keterlambatan berarti kerugian publik yang terus menetes seperti minyak bocor yang tak pernah ditutup.

Kejagung bilang belum melimpahkan.
KPK bilang sudah bicara informal.
Publik bilang: “Jadi sebenarnya siapa yang kerja, siapa yang cuma bicara?”

Kalau dua lembaga penegak hukum saja masih sibuk menyamakan kalimat, bagaimana mau menyamakan keadilan? @dimas

Tags: Hukum IndonesiaKejagungKPKPenegakan Hukum

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Kalsel: 11 Perusahaan Disorot, Sanksi Mengintai

Karhutla Kalsel: 11 Perusahaan Disorot, Sanksi Mengintai

by dimas
Agustus 24, 2026

Karhutla Kalsel menyeret 11 perusahaan dalam sorotan. Kementerian LH mengusut dugaan pembakaran lahan dengan ancaman sanksi hingga Rp15 triliun. Tabooo.id...

Masuk Kampus Pakai Nilai, Kok Bisa Uangnya Ikut Ujian?

Masuk Kampus Pakai Nilai, Kok Bisa Uangnya Ikut Ujian?

by teguh
Agustus 24, 2026

Masuk kampus pakai nilai dan cara idealnya sederhana yaitu, belajar, ikut seleksi, lalu menunggu hasil. Namun, perkara yang kini KPK...

72 Tersangka Karhutla, Bakar Lahan Jadi Cara Hemat Buka Kebun

72 Tersangka Karhutla, Bakar Lahan Jadi Cara Hemat Buka Kebun

by dimas
Agustus 24, 2026

Bareskrim Polri menetapkan 72 tersangka dalam 89 perkara karhutla. Pembakaran lahan dipilih sebagai cara hemat membuka kebun, sementara dampaknya ditanggung...

Next Post
Tragedi Irene Sokoy: Potret Gelap Layanan Kesehatan Papua

Tragedi Irene Sokoy: Potret Gelap Layanan Kesehatan Papua

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id