Pemerintah menyiapkan bantuan Rp15 juta hingga Rp30 juta untuk perbaikan rumah warga terdampak gempa NTT, sesuai tingkat kerusakan.
Tabooo.id – Pemerintah menyiapkan bantuan perbaikan rumah bagi warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Nilainya mencapai Rp15 juta untuk rumah rusak ringan dan Rp30 juta untuk rumah rusak sedang.
Bantuan ini mendukung pemulihan warga setelah gempa merusak permukiman. Namun, pemerintah masih melanjutkan pendataan agar bantuan tepat sasaran.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan pemerintah menentukan nilai bantuan berdasarkan tingkat kerusakan rumah.
“Rusak ringan akan disampaikan nanti sebesar Rp15 juta, sedangkan rusak sedang Rp30 juta,” kata Berton dalam keterangan yang dihimpun dari Badan Komunikasi Pemerintah RI di Jakarta, Rabu (26/8/26).
Rumah Rusak Berat Dapat Penanganan Berbeda
Pemerintah tidak memasukkan rumah rusak berat dalam skema bantuan Rp15 juta hingga Rp30 juta.
Pemerintah akan menangani rumah rusak berat melalui pembangunan kembali atau penggantian rumah. BNPB dan kementerian terkait juga menyiapkan mekanisme penyaluran serta pertanggungjawaban bantuan.
Saat ini, pemerintah fokus pada pendataan kerusakan rumah. Langkah ini penting untuk mencegah perbedaan data antarinstansi.
Berton mengatakan BNPB telah memberi bimbingan teknis kepada calon asesor. Mereka akan menilai kondisi rumah warga setelah gempa.
Para asesor akan memakai metode yang sama. Mereka akan menentukan kategori rumah, mulai dari rusak ringan, sedang, hingga berat.
Data Akurat Jadi Kunci Penyaluran Bantuan
Menurut Berton, bimbingan teknis bertujuan menyamakan pemahaman para petugas. Pemerintah ingin semua pihak memakai metode pendataan yang sama.
“Kami berharap nanti dengan pembimbingan teknis ini tentu akan membangun keseragaman pemahaman metode mekanisme pendataan dampak bencana,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan data akhir berdasarkan by name, by address. Artinya, petugas akan mencatat nama dan alamat setiap warga terdampak.
Data yang akurat akan membantu pemerintah menyalurkan bantuan dengan tepat. Cara ini juga dapat mengurangi risiko warga terdampak terlewat dari pendataan.
Ini bukan hanya soal bantuan Rp15 juta atau Rp30 juta. Ini soal seberapa cepat pemerintah mengubah data menjadi bantuan nyata.
Bagi korban gempa, rumah bukan sekadar bangunan. Rumah menjadi tempat untuk kembali memulai hidup.








