Respati Ardi tampil sebagai demang dengan beskap dan pit ontel dalam Pawai Pembangunan 2026. Ia mengusung konsep Solo Tempo Dulu untuk mengangkat budaya dan pariwisata.
Tabooo.id – Di tengah deretan kendaraan hias dan pentas seni Pawai Pembangunan 2026, satu penampilan mencuri perhatian warga. Wali Kota Solo Respati Ardi mengenakan beskap dan topi safari, lalu berganti blangkon sambil mengayuh pit ontel lawas.
Pembawa acara bahkan memperkenalkannya sebagai “Londo Putih” sebelum Respati memulai pemberangkatan resmi pawai.
Sebutan itu langsung memancing gelak tawa warga yang menunggu acara.
Namun, Respati tidak sekadar tampil untuk menghibur warga.
Di balik beskap dan pit ontel, ia membawa cerita tentang akulturasi budaya sekaligus keinginan menghidupkan kembali suasana Solo Tempo Dulu.
Dari Beskap sampai Topi Safari
Respati mengenakan beskap yang mencerminkan busana seorang demang pada era Hindia Belanda. Ia memadukan beskap itu dengan topi safari sebelum mengenakan blangkon.
Perpaduan tersebut mempertemukan dua unsur dalam satu penampilan. Tradisi Jawa bertemu dengan jejak sejarah kolonial yang ikut membentuk perjalanan Kota Solo.
Respati menyebut konsep itu sebagai bentuk akulturasi budaya.
“Kostum itu akulturasi, kalau tidak salah tadi disampaikan Ki Demang. Jadi kita menikmati Solo Tempo Dulu. Kita akan mengangkat pariwisata tempo dulu agar yang berwisata ke Solo selalu ingat,” kata Respati.
Sepeda ontel lawas ikut melengkapi konsep tersebut. Respati mengayuh sepeda tua itu selama mengikuti pawai.
Ia tidak menggunakan mobil mewah atau kendaraan modern.
Sebaliknya, Respati mengajak warga membayangkan kembali suasana Solo pada masa lampau melalui pit ontel yang ia kayuh.
Masa Lalu Jadi Modal Masa Depan
Solo memiliki bangunan tua, tradisi, kampung bersejarah, dan cerita yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Respati melihat seluruh kekayaan itu sebagai modal pariwisata.
Menurutnya, identitas masa lalu dapat menarik wisatawan untuk datang dan kembali mengingat Solo. Kota ini tidak selalu perlu menawarkan sesuatu yang baru untuk menarik perhatian.
Kadang, masa lalu justru menyimpan nilai yang paling kuat.
Konsep Solo Tempo Dulu membawa sejarah keluar dari buku dan museum. Warga serta wisatawan dapat menikmati jejak sejarah melalui kostum, kendaraan, pertunjukan, dan pengalaman langsung.
Penampilan Respati pun membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar kostum unik.
Pawai Jadi Etalase Kota
Pawai Pembangunan 2026 memberi ruang bagi Solo untuk menunjukkan berbagai wajahnya.
Puluhan kontingen ikut meramaikan rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kendaraan hias, kesenian, dan kostum kreatif memenuhi jalanan kota.
Setiap kontingen juga membawa potensi yang dapat mereka kenalkan kepada publik.
Budaya tidak hanya hidup di atas panggung. Budaya dapat menjadi pengalaman.
Sejarah tidak hanya hidup dalam cerita. Sejarah juga dapat mengundang orang untuk datang.
Ini bukan sekadar pawai. Ini cara Solo memperlihatkan identitasnya kepada publik.
Dari Solo Tempo Dulu ke Sayangi Semesta
Pawai Pembangunan 2026 juga membawa pesan untuk masa kini. Pemerintah Kota Surakarta mengusung tema “Sayangi Semesta, Hidup Bahagia.”
Tema itu mengajak masyarakat menjaga lingkungan dan mengelola sampah dengan lebih baik.
Respati mengingatkan warga agar tidak hanya menikmati kemeriahan pawai. Ia juga mengajak masyarakat membawa kepedulian terhadap lingkungan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pit ontel lawas hingga pesan merdeka dari sampah, Pawai Pembangunan 2026 mempertemukan dua cerita dalam satu jalanan: masa lalu yang memberi identitas dan masa depan yang membutuhkan kepedulian.
Sore itu, Respati mengayuh pit ontel sambil membawa dua pesan sekaligus: merawat ingatan tentang Solo dan menjaga masa depannya.@eko








