Lastri, 65 tahun, warga Sukoharjo, terus mengikuti tradisi nginang saat Sekaten sejak sang ibu mengenalkannya pada usia 15 tahun.
Tabooo.id – Suara gamelan Kiai Guntur Madu menggema dari sisi selatan halaman Masjid Agung Solo.
Saat para pengrawit mulai menabuh gamelan pusaka itu, ratusan warga langsung bergerak. Sebagian warga mengambil janur. Sebagian lainnya membawa beberangen dan mulai nginang.
Di antara kerumunan itu, Lastri ikut menjalankan tradisi yang telah menemaninya selama puluhan tahun.
Warga Sukoharjo berusia 65 tahun itu mulai mengenal nginang saat masih remaja. Sang ibu mengajaknya datang ke Sekaten dan mengenalkan kebiasaan tersebut ketika usianya baru 15 tahun.
Sejak saat itu, Lastri terus datang ketika Sekaten tiba.
Ajakan Ibu yang Bertahan Lima Puluh Tahun
Bagi Lastri, Sekaten membawa lebih dari sekadar suara gamelan.
Tradisi itu juga membawanya kembali pada satu kenangan dari masa remaja. Saat berusia 15 tahun, ia datang bersama ibunya dan pertama kali mengikuti tradisi nginang.
Sang ibu mengajaknya mengunyah sirih saat masyarakat menyambut tabuhan gamelan Sekaten.
Lastri kemudian terus mengikuti kebiasaan itu hingga sekarang.
“Saya sudah mulai menginang sejak umur 15 tahun. Saat itu diajak ibu untuk nginang saat Sekaten dan terus menerus ikut sampai sekarang,” tutur Lastri.
Kini, usia Lastri mencapai 65 tahun.
Lima puluh tahun telah berlalu sejak pertama kali ia mengikuti nginang. Namun, ajakan sang ibu tetap hidup dalam kebiasaan yang ia jalankan setiap Sekaten datang.
Setiap suara gamelan kembali menggema, Lastri kembali menemukan jejak masa remajanya.
Tabuhan Gamelan Membuka Momen Sekaten
Tradisi itu berlangsung saat para pengrawit menabuh Kiai Guntur Madu.
Gamelan pusaka tersebut berada di sisi selatan halaman Masjid Agung Solo atau Surakarta. Tabuhan gamelan kemudian menarik perhatian ratusan masyarakat yang memenuhi kawasan itu.
Sebagian warga langsung mengambil janur.
Warga lain menyiapkan beberangen dan mulai nginang.
Kegiatan tersebut hadir bersama tabuhan gamelan dan menjadi bagian dari momen awal Sekaten di lingkungan Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Suasana pun berubah.
Suara gamelan mengisi udara. Masyarakat berkumpul. Janur berpindah dari tangan ke tangan. Sementara itu, sebagian warga melanjutkan lelaku nginang yang telah mereka kenal sejak lama.
Bagi masyarakat, setiap unsur dalam momen itu memiliki arti tersendiri.
Lastri Memegang Keyakinannya tentang Nginang
Lastri juga memiliki alasan pribadi untuk terus menjalankan kebiasaan tersebut.
Ia percaya nginang membantu menjaga kekuatan giginya. Ia juga mengaitkan kebiasaan itu dengan kondisi tubuh yang tetap sehat.
Menurut Lastri, pengalaman hidupnya membuat ia semakin yakin untuk mempertahankan tradisi tersebut.
“Dulu gak percaya kalau nginang dapat memperkuat gigi dan awet muda, tapi saya gak percaya. Namun kenyataan gigi saya masih kuat dan sekarang saya masih diberi sehat,” terangnya.
Lastri melihat sendiri kondisi giginya hingga sekarang.
Ia mengaku masih memiliki gigi yang kuat. Ia juga bersyukur karena masih menikmati kesehatan di usia 65 tahun.
Pengalaman itu membuat nginang memiliki makna pribadi bagi Lastri.
Namun, keyakinan Lastri tentang manfaat tersebut berasal dari pengalaman pribadinya. Cerita itu menjadi bagian dari alasan yang membuatnya terus menjalankan tradisi nginang.
Apa Itu Nginang?
Nginang merupakan lelaku mengunyah sirih.
Masyarakat biasanya menyiapkan beberapa bahan untuk melengkapi sirih. Bahan tersebut antara lain pinang, gambir, tembakau, kapur, dan campuran cengkeh.
Warga mengenal campuran bahan itu sebagai bagian dari beberangen yang mereka bawa saat menjalankan tradisi nginang.
Di tengah Sekaten, lelaku tersebut kembali hadir di antara kerumunan masyarakat.
Bagi Lastri, setiap kunyahan tidak hanya mengingatkan pada rasa atau kebiasaan. Tradisi itu juga menghubungkannya dengan masa ketika sang ibu pertama kali mengajaknya mengikuti Sekaten.
Di situlah sebuah kebiasaan kecil mendapat arti yang lebih besar.
Sekaten Menyimpan Cerita di Balik Keramaian
Banyak orang datang ke Sekaten untuk melihat keramaian.
Ada yang menunggu suara gamelan pusaka, ada yang menikmati suasana di sekitar Masjid Agung Solo. Ada pula yang datang bersama keluarga.
Namun, Lastri datang sambil membawa cerita yang jauh lebih panjang.
Ia datang sebagai perempuan yang telah menjalankan kebiasaan sama selama sekitar lima dekade.
Sekaten mempertemukan kembali Lastri dengan ingatan tentang ibunya.
Dulu, sang ibu mengajak seorang remaja berusia 15 tahun untuk ikut nginang.
Kini, remaja itu telah berusia 65 tahun. Namun, ia masih datang dan meneruskan kebiasaan tersebut.
Ini bukan sekadar cerita tentang sirih. Ini cerita tentang bagaimana sebuah tradisi bertahan ketika seseorang terus membawanya dalam hidup.
Tradisi tidak selalu hidup dalam buku atau bangunan tua.
Tradisi juga hidup dalam kebiasaan manusia.
Seorang ibu mengajak anaknya.
Anak itu mengingatnya.
Lalu, puluhan tahun kemudian, anak itu masih menjalankannya.
Saat Gamelan Berbunyi, Kenangan Kembali Datang
Ketika Kiai Guntur Madu kembali mengeluarkan bunyinya, Sekaten kembali membuka ruang bagi banyak cerita.
Ada suara pengrawit yang menabuh gamelan , ada ratusan warga yang mengambil janur.
Ada masyarakat yang membawa beberangen dan nginang.
Dan di tengah semuanya, ada Lastri.
Ia masih mengingat saat sang ibu pertama kali mengajaknya. Lima puluh tahun kemudian, ajakan itu masih membawanya kembali ke Sekaten.
Waktu terus berjalan.
Generasi terus berganti.
Namun, Lastri tetap datang ketika Sekaten memanggil.
Sebab bagi Lastri, setiap tabuhan gamelan bukan hanya tanda Sekaten dimulai. Suara itu juga membawa kembali satu kenangan yang tak pernah benar-benar pergi: ajakan ibunya untuk menginang.@eko








