Suroto, 68 tahun, tetap bekerja dengan memperbaiki kompor bekas. Ia mencari barang rongsokan, memperbaikinya, lalu menjualnya kembali. Ia berjualan di Jalan Brigjend Katamso, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, tepatnya di samping Masjid Baitul Muttaqin, Mojosongo.
Tabooo.id – Usia 68 tahun tidak membuat Suroto berhenti mencari penghasilan. Di tengah usia lanjut, ia masih menyusuri tempat rongsokan untuk mencari kompor bekas. Ia kemudian memilih kompor yang masih memiliki kualitas bagus dan memperbaikinya agar kembali berfungsi.
Suroto tidak ingin hanya menunggu bantuan. Ia memilih mengandalkan keterampilan dan tenaganya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mencari Kompor Bekas yang Masih Bagus
Suroto tidak mengambil semua kompor yang ia temukan di tempat rongsokan. Ia memilih barang yang menurutnya masih memiliki nilai.
Kualitas menjadi pertimbangan utama. Ia lebih menyukai kompor dengan material dan komponen yang masih kuat.
Salah satu merek yang ia cari yakni Rinnai. Menurut Suroto, kompor dengan kualitas baik bisa bertahan lebih lama setelah ia perbaiki.
“Saya pergi ke rongsok untuk mencari kompor bekas. Saya mencari kompor yang kualitasnya bagus seperti kompor Rinnai. Yang utama kualitasnya tahan lama,” ujar Suroto.
Setelah menemukan kompor yang sesuai, Suroto mulai memeriksa bagian-bagiannya. Ia memperbaiki komponen yang bermasalah, membersihkan bagian yang kotor, lalu memastikan kompor kembali berfungsi.
Dari proses itu, barang yang sebelumnya masuk kategori rongsokan kembali memiliki nilai ekonomi.
Satu Kompor Bisa Terjual Rp200 Ribu-Rp250 Ribu
Suroto menentukan harga berdasarkan kondisi kompor.
Ia biasanya menjual kompor hasil perbaikannya dengan harga Rp200 ribu hingga Rp250 ribu. Kondisi barang menentukan harga akhir.
“Harga jual tergantung kondisi dan kelayakan kompor. Biasanya Rp200 ribu sampai Rp250 ribu per kompor,” terangnya.
Bagi Suroto, harga tersebut tidak datang begitu saja. Ia harus mencari kompor, memilih bagian yang masih bagus, melakukan perbaikan, dan memastikan kompor bisa kembali digunakan.
Setiap kompor juga membutuhkan waktu dan tenaga.
Pelanggan Tak Selalu Ramai
Usaha Suroto tidak selalu menghasilkan pemasukan yang sama setiap hari.
Pelanggan yang datang untuk servis terkadang sedikit. Pembeli kompor hasil perbaikan juga tidak selalu muncul setiap waktu.
Namun, kondisi itu tidak membuatnya menyerah.
Suroto tetap mencari kompor bekas dan mengerjakan servis ketika ada pelanggan. Ia memilih terus bergerak daripada hanya menunggu penghasilan datang.
Cara itu menjadi bagian dari perjuangannya menjaga kebutuhan sehari-hari.
Tak Mengejar Banyak, yang Penting Tetap Berusaha
Suroto sadar penghasilannya tidak selalu besar. Karena itu, ia menjalani kehidupan dengan sederhana dan menyesuaikan kebutuhan dengan pemasukan.
Ia tidak memasang target muluk. Baginya, bisa mendapatkan penghasilan dari kemampuan sendiri sudah cukup untuk terus melangkah.
“Kalau untuk kebutuhan sehari-hari ya kita cukup-cukupkan. Yang penting terus berusaha, untuk hasil kita serahkan Allah,” ucapnya.
Kisah Suroto menunjukkan satu hal sederhana: usia tidak selalu menentukan seseorang berhenti bekerja.
Di tangannya, kompor bekas bukan sekadar barang rongsokan. Ia melihat peluang di balik barang yang orang lain mungkin anggap tidak berguna.
Ia memperbaikinya, memberinya fungsi kembali, lalu menjadikannya sumber penghasilan.
Suroto mungkin tidak mengejar keuntungan besar.
Ia hanya ingin tetap bekerja, tetap mandiri, dan tetap punya alasan untuk bangun setiap hari.
Selama masih mampu berusaha, ia memilih tidak menyerah pada keadaan.@eko








